Home / Berita / Berlomba Membuat Ventilator Darurat

Berlomba Membuat Ventilator Darurat

Saat ini, berbagai kalangan, mulai dari akademisi, industri, hingga tim balap Formula 1, berlomba membuat ventilator yang mudah dan terjangkau demi membantu penyembuhan pasien positif Covid-19.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Purwarupa Simple and Low Cost Mechanical Ventilator buatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Gedung Robotika ITS, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/4/2020). Dalam waktu dekat, sistem yang dikembangkan tersebut akan dicoba untuk beroperasi secara nonstop 2 x 24 jam untuk mengamati stabilitas kemampuan kerjanya untuk kemudian jika lolos uji dapat digunakan untuk membantu penanganan pasien Covid-19.

Alat bantu pernapasan, ventilator, kini menjadi barang yang sangat dibutuhkan. Virus pemicu Covid-19, SARS-CoV-2, yang menyerang sistem pernapasan menyebabkan ada ancaman kegagalan pernapasan bagi para pasien yang terinfeksi.

Saat ini, berbagai kalangan, mulai dari akademisi, industri, hingga tim balap Formula 1 berlomba membuat ventilator yang mudah dan terjangkau demi membantu penyembuhan pasien positif Covid-19.

Sebuah proyek sederhana yang dibuat dalam sebuah kelas di Massachussets Institute of Technology (MIT) pada satu dekade lalu ternyata menemukan relevansinya di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama tiga bulan terakhir.

Pada 2010 dalam sebuah kelas mata kuliah Precision Machine Design, sekelompok mahasiswa pascasarjana dan staf pengajar MIT menemukan cara untuk membuat sebuah ventilator darurat dengan bahan-bahan yang terjangkau.

Secara prinsipnya, ventilator darurat ini bekerja dengan cara mengotomatisasi pemompaan bag valve mask atau biasa dikenal dengan merek dagang Ambubag.

Bag valve mask adalat sebuah alat bantu pernapasan darurat yang digunakan oleh tenaga medis untuk memompa secara manual udara ke saluran pernapasan pasien. Dalam desain yang dibuat oleh MIT ini, proses penekanan bag valve mask ini dilakukan oleh sistem mekanis secara otomatis.

Dengan memanfaatkan barang yang tergolong mudah didapatkan dan terjangkau, Abdul Mohsen Al Husseini, salah seorang mahasiswa yang terlibat, mengatakan, proses pembuatan ventilator darurat ini membutuhkan alat dan bahan yang tidak begitu mahal.

”Bag valve mask ini sudah banyak tersedia dan relatif terjangkau,” kata Al Husseini saat itu, dilaporkan oleh MIT News. Saat itu, pada 2010, ongkos yang dibutuhkan adalah sekitar 100 dollar AS. Kini, ongkos yang dibutuhkan sekitar 400-500 dollar AS.

”Open source”
Kini, satu dekade kemudian, di tengah pandemi Covid-19, sebuah tim baru dibentuk MIT untuk melanjutkan desain ventilator darurat ini. Tim bernama MIT E-Vent (emergency ventilator) yang dibentuk pada pertengahan Maret lalu kini sedang berusaha menyempurnakan desain hingga layak diproduksi massal.

Selain itu, E-Vent juga membuka (open-source) desain tersebut kepada publik. Harapannya, seluruh pemangku kepentingan dapat saling memberi masukan.

”Kami membagikan desain ini dengan tujuan agar mereka yang memiliki kemampuan teknis dapat membuat ventilator yang dibutuhkan. Para tenaga medis yang melihat situs ini pun dapat memberikan masukan untuk membantu pengobatan para pasien,” tulis seorang anggota tim.

Kini, terlihat laman yang menampilkan hasil pengujian dalam situs tim MIT E-Vent diisi puluhan komentar dari akademisi seluruh dunia, dari Nepal hingga Ukraina, yang saling berbagi informasi mengenai rancang bangun ventilator darurat ini.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Ketua Tim Ventilator Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Aulia MT Nasution menjelaskan tentang purwarupa Simple and Low Cost Mechanical Ventilator buatan timnya di Gedung Robotika ITS, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/4/2020). Dalam waktu dekat, sistem yang dikembangkan tersebut akan dicoba untuk beroperasi secara nonstop 2×24 jam untuk mengamati stabilitas kemampuan kerjanya untuk kemudian jika lolos uji dapat digunakan untuk membantu penanganan pasien Covid-19.

Ventilator murah
Akademisi asal Indonesia pun tidak ketinggalan membangun sebuah prototype atau purwarupa dari desain MIT E-Vent tersebut.

Sebuah tim dari Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya selama kurang dari dua pekan terakhir telah berhasil membangun purwarupa ventilator darurat yang operasional. Purwarupa ini diluncurkan pada Selasa (7/4/2020) di Gedung Pusat Robotika ITS, Surabaya, Jawa Timur.

Ketua Tim Ventilator ITS Aulia MT Nasution mengatakan, pihaknya sudah melihat berbagai desain ventilator darurat, tetapi rancangan MIT tersebut yang dinilainya paling optimal; sederhana tetapi dapat memenuhi kebutuhan pasien apabila jumlah ventilator standar terbatas.

Meski desain yang dirancang MIT cukup mendetail dan spesifik, Aulia dan sembilan anggota timnya masih harus mengadaptasi rancangan tersebut dengan ketersediaan bahan yang ada di pasaran Indonesia.

”Sulit menemukan motor yang dispesifikasikan oleh MIT di Indonesia, atau Surabaya khususnya. Jadi kami harus trial and error mencoba berbagai jenis motor yang tersedia di pasaran. Akhirnya kami pakai motor yang digunakan untuk menggerakkan power window di mobil,” kata Aulia saat dihubungi Kompas pada Kamis (9/4/2020) siang.

Lima parameter mutlak
Aulia mengatakan, paling tidak ada lima parameter yang harus bisa diatur tenaga medis dalam sebuah ventilator untuk memastikan pasien merasakan manfaatnya.

Lima parameter tersebut adalah peak inspiratory pressure (PIP) atau tekanan inspirasi puncak; positive-end expiratory pressure (PEEP) atau akhir ekspiratori positif; frekuensi pernapasan; volume tidal; dan kadar oksigenasi.

ANTARA/MOCH ASIM–Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menguji coba mesin pompa udara (ventilator) di Gedung Pusat Robotika ITS, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/4/2020). ITS mengembangkan inovasi mesin pompa udara (simple and low-cost mechanical ventilator) untuk membantu tenaga medis dalam menangani perawatan pasien terinfeksi COVID-19 sekaligus untuk mengatasi kelangkaan ketersediaan ventilator yang dimiliki rumah sakit di Indonesia.

Dalam ventilator darurat milik ITS, sejumlah parameter tersebut dapat diatur melalui sebuah layar LCD. ”Untuk sistem mekaniknya kami mengambil dari MIT, tetapi kami merancang sendiri sistem elektronik dan monitoringnya,” kata Aulia.

Dalam perancangan ini, Tim Ventilator ITS juga bekerja sama dengan RS Universitas Airlangga dan RSUD dr Soetomo Surabaya.

Aulia mengatakan, kini pihaknya akan menguji ketahanan dari ventilator darurat tersebut. Untuk lolos dari pengujian Badan Pengamanan Fasilitas Kesehatan, sebuah ventilator harus berjalan tanpa masalah selama 2 x 24 jam berturut-turut.

Dibandingkan dengan harga ventilator yang biasa digunakan di ruang ICU, ongkos pembuatan ventilator darurat buatan ITS ini jauh lebih rendah. Apabila harga pasaran ventilator ICU dapat mencapai Rp 500 juta, berbagai alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat ventilator darurat sederhana ini adalah sekitar Rp 20 juta.

”Sebagian besar biaya tersebut untuk sensor oksigen standar medis yang memang mahal sekali,” kata Aulia.

XINHUA/LIANG XU–Pegawai Mindray Bio-Medical Electronics Co. Ltd. di Shenzhen, China, membuat alat bantu pernapasan, Selasa (31/3/2020). Alat bantu pernapasan amat penting bagi pasien Covid-19. Sebab, salah satu dampak penyakit itu adalah sesak napas.

Intervensi pemerintah
Aulia mengatakan, dengan jumlah pasien Covid-19 yang terus bertambah di seluruh dunia, krisis ventilator tidak akan dapat dihindari. Terlebih lagi, ada kemungkinan negara pemasok mesin ventilator akan memprioritaskan kebutuhan negaranya sendiri.

Untuk itu, Aulia menilai, perlu ada intervensi dari pemerintah untuk memungkinkan produksi massal ventilator sederhana dapat dilaksanakan.

”Mungkin perlu ada mobilisasi nasional untuk produksi ventilator karena kondisinya saat ini sudah mengkhawatirkan,” kata Aulia.

Per Maret 2020, Indonesia hanya memiliki 8.413 ventilator yang tersebar di 2.867 rumah sakit se- Indonesia dan sebagian besar terkumpul di Jawa.

Padahal, jumlah mereka yang positif korona dan PDP terus meningkat serta semakin luas. Mereka yang masuk kelompok orang dalam pengawasan (ODP) juga terus bertambah, sedangkan yang baru dan akan menjalani proses uji Covid-19 juga akan terus meningkat (Kompas, 8/4/2020).

Di tengah krisis ventilator ini, sejumlah negara telah meminta kalangan industri di negara masing-masing untuk membuat ventilator.

Pemerintah, melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), saat ini sedang merancang ventilator portabel.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro, pada Selasa (7/4/2020) lalu, mengatakan, ventilator portabel yang dikembangkan saat ini telah masuk dalam proses pengujian di Kementerian Kesehatan dan akan segera dilakukan uji klinis di sejumlah rumah sakit.

Ditargetkan, ventilator portabel dalam negeri ini bisa diproduksi secara massal pada tiga minggu ke depan. Pemerintah akan bekerja sama dengan tiga perusahaan; salah satunya PT LEN Industri. Diperkirakan, setiap perusahaan akan dapat memproduksi 100 unit per minggu (Kompas, 8/4/2020).

Sementara itu, Pemerintah AS menggandeng produsen mobil General Motors (GM). Pada Rabu (8/4/2020) ini, Kementerian Kesehatan AS mengumumkan telah menandatangani kontrak senilai 489 juta dollar AS atau setara Rp 7,75 triliun untuk pengadaan ventilator dengan perusahaan mobil General Motors.

Kesepakatan itu menetapkan 30.000 unit ventilator sudah harus diserahkan kepada Pemerintah AS pada akhir Agustus 2020.

AJ MAST FOR GENERAL MOTORS–Pekerja sedang melakukan persiapan di pabrik General Motors (GM) di Kokomo, Indiana, Amerika Serikat, pada Selasa (7/4/2020). Pabrik ini akan digunakan untuk memproduksi ventilator dengan bekerja sama dengan perusahaan alat kesehatan Ventec Life Systems.

Dalam proses manufaktur ventilator ini, GM akan bekerja sama dengan perusahaan alat medis Ventec. ”Kami bangga untuk dapat menyumbangkan kemampuan manufaktur kami dengan bantuan keahlian dari Ventec,” dalam pernyataan resmi GM.

GM adalah pemegang merek mobil dan kendaraan, seperti Chevrolet, Buick, Cadillac, Holden, Baojun, dan Wuling.

Pemerintah Inggris juga telah berkontrak dengan perusahaan vacuum cleaner Dyson. Pendiri Dyson, James Dyson mengatakan bahwa pada pertengahan Maret lalu, pihaknya telah berkomunikasi dengan PM Boris Johnson untuk penyediaan ventilator. Dyson akan memproduksi 15.000 unit.

”Kami menerima pesanan 10.000 unit dari pemerintah. Namun, karena ini juga masa yang mengkhawatirkan, kami juga akan menyumbangkan 5.000 unit untuk dunia internasional; di mana 1.000 unit akan diberikan kepada Inggris,” kata Dyson kepada situs teknologi Fast Company.

Tim Formula 1 Mercedes
Pemerintah Inggris juga telah memesan 10.000 ventilator CPAP (continuous positive airway pressure) dari tim balap Formula 1, Mercedes-AMG F1.

Apabila ventilator bekerja dengan cara mengemulasi pernapasan manusia, CPAP bekerja dengan menjaga tekanan udara di paru-paru pasien tetap terisi agar pernapasan pasien lebih mudah.

Sebanyak 40 mesin produksi yang biasanya digunakan untuk membuat piston mesin dan komponen turbo kini digunakan untuk membuat 1.000 unit ventilator hasil kerja sama dengan University College London tersebut.

Ahli medis UCL Hospital, Mervyn Singer, mengatakan, alat CPAP bernama UCL-Ventura tersebut terbukti telah membantu pernapasan pasien Covid-19.

Keberadaan CPAP, menurut Singer, menjadi penting karena ventilator yang kini semakin dicari dapat dikonsentrasikan kepada pasien-pasien yang benar-benar membutuhkan.

Kini, desain CPAP UCL-Ventura pun dibuka untuk umum. Managing Director of Mercedes-AMG High Performance Powertrains Andy Cowell mengatakan, hal ini dilakukan untuk membantu perusahaan di seluruh dunia memproduksi alat ini dan membantu penanganan Covid-19.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 9 April 2020

Share
x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: