Tak Kenal Lelah Cari Solusi Jitu

- Editor

Senin, 29 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di masa pandemi ini, kiprah para peneliti yang inovator sangat dibutuhkan. Mereka kini bahu-membahu berupaya memberikan solusi penanganan Covid-19 melalui keilmuannya.

Kondisi darurat selama pandemi Covid-19 membangkitkan gairah dan rasa kemanusiaan para peneliti untuk bahu-membahu mencari jalan keluar dari pandemi ini dari berbagai sisi ilmiah. Saat sebagian warga masyarakat “dirumahkan” karena pemberlakuan pembatasan sosial, para peneliti terus berinovasi memunculkan berbagai alternatif mulai dari peralatan, obat, hingga panduan kesehatan yang berbasis keilmuan dan teruji keamanannya tersebut bisa digunakan masyarakat dan tenaga medis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seperti di Bandung, dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI-ITB) Syarief Hidayat memilih tak pulang selama lima pekan demi mengembangkan ventilator lokal yang bisa digunakan membantu pernapasan pasien yang belum menyentuh fase darurat. Dengan alat ini, pasien tetap bisa menjalani perawatan dengan risiko gagal napas yang minim sehingga mengurangi risiko kematian,

Pengembangan ventilator lokal ini, disebutkan Syarief menggunakan dana masyarakat dari Masjid Raya Salman ITB. Dengan menggunakan dana ini, ia tak perlu membuat proposal dan melalui birokrasi lain.

Ia menyatakan reputasinya dipertaruhkan dengan mengambil risiko “berutang” dari dana publik tersebut. “Namun kalau tidak diambil mau sampai kapan kami baru akan bergerak,” kata dia.

Syarief sampai tidak pulang ke rumah selama lima minggu untuk merakit inovasi alat yang dinamai Vent-I. Tujuannya tak pulang selama lebih dari sebulan itu untuk tetap fokus dan tak ingin membawa risiko penularan Covid-19 kepada keluarganya.

Usahanya tak sia-sia karena purwarupa Vent-I telah lolos uji oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan mengantongi Standar Nasional Indonesia (SNI). Selama merancang dan mengetes bahan itu, ia berkonsultasi dengan praktisi medis Fakultas Kedokteran Unpad. Ini untuk menemukan ventilator yang ringkas dan tepat sasaran sesuai kebutuhan pengguna.

Saat dihubungi Jumat (26/6/2020), Syarief mengatakan sedang memproduksi Vent-I dengan target sekitar 850 unit atau setara dengan dana masyarakat yang dititipkan. Dari jumlah itu, sebanyak 270 unit telah disalurkan ke rumah sakit di seluruh Indonesia.

“Setelah target dana masyarakat ini selesai, baru kami akan masuk ke fase industri,” kata dia.

Kemandirian teknologi
Di masa yang bisa dikatakan darurat pandemi ini, kiprah para peneliti yang inovator sangat dibutuhkan. Pandemi yang menyergap seluruh negara di dunia membuat akses untuk memenuhi peralatan medis – itu pun bila tersedia dananya – sangat sulit karena seluruh negara membutuhkan tambahan alat medis.

Kondisi pandemi ini membuktikan bahwa sebagai negara dengan penduduk yang besar, Indonesia harus bisa mandiri memenuhi kebutuhan teknologi, termasuk teknologi terkait layanan kesehatan. “Selama ini kita mungkin terlena dengan kemudahan untuk mendapatkan produk secara impor,” tutur Danang Waluyo, peneliti dari Balai Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Pandemi ini juga membuktikan bahwa para peneliti dalam negeri mampu untuk menghasilkan berbagai inovasi yang berkualitas. Para peneliti kini juga merasa lebih percaya diri untuk menghasilkan inovasi.

Buktinya, dalam waktu yang cukup singkat yakni sekitar tiga bulan, sudah banyak inovasi untuk penanganan Covid-19 yang dihasilkan. Inovasi itu mulai dari alat tes pemeriksaan, alat bantu pernapasan, laboratorium pengujian, dan berbagai terapi alternatif.

Namun, ia mengatakan, dalam menjalankan proses penelitian di masa pandemi, kepercayaan diri serta optimisme untuk menghasilkan inovasi lebih tinggi dari biasanya. Dengan dukungan yang optimal, inovasi yang dikembangkan bisa cepat dihasikan.

Seperti produk laboratorium bergerak dengan standar keamanan hayati atau Biosafety level 2 bisa dihasilkan tim BPPT selama kurang lebih 1,5 bulan. Itu mulai dari tahap perancangan sampai menjadi produk yang siap dimanfaatkan.

“Banyak kendala yang dihadapi, seperti pengadaan bahan baku juga perancangan produk agar bisa efisien namun tetap berkualitas. Meski begitu, dengan dukungan dan harapan masyarakat luas, kami pun berhasil menghasilkan produk ini dengan baik,” ucap Danang yang juga menjadi salah satu tim pengembangan inovasi laboratorium bergerak Biosafety level 2 untuk pengujian spesimen Covid-19.

Produktivitas para peneliti untuk menghasilkan inovasi pun tercatat di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. “Total hingga sekarang ada 119 penelitian yang dikerjakan oleh teman-teman di UGM,” ujar Sekretaris Direktorat Penelitian UGM, Mirwan Ushada,

Dalam melakukan penelitian beragam bidang terkait Covid-19, para dosen dan peneliti UGM bekerjasama dengan sejumlah pihak seperti lembaga pemerintah, perusahaan swatsta, dan perguruan tinggi lain. (RTG/TAN/HRS/MZW)

Oleh TIM KOMPAS

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 29 Juni 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB