Home / Berita / Bergaya, tetapi Tetap Menjaga Hutan

Bergaya, tetapi Tetap Menjaga Hutan

Sebagian orang menilai bentuk serta tampilan mebel, kusen, dan perkakas berbahan kayu lurus, kaku, dan membosankan. Ide menggunakan kayu melengkung pun muncul. Namun, selama ini kayu lengkung itu dibuat dengan memotong lembaran kayu sehingga banyak bagian kayu terbuang.

Teknik mendapatkan kayu lengkung seperti itu jelas membahayakan keberlanjutan lingkungan. Terlebih, cara tersebut dilakukan di tengah terus susutnya luas hutan dan meningkatnya ancaman pemanasan global yang memicu perubahan iklim.

Di sisi lain, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan manusia akan kayu dan produk hasil hutan lain akan terus meningkat jenis dan jumlahnya. Karena itu, perlu rekayasa dan teknologi yang mewadahi kebutuhan manusia, tetapi selaras dengan kondisi alam.

Kondisi itu membuat peneliti ilmu dan teknologi hasil hutan di Pusat Penelitian (PP) Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Wahyu Dwianto, mengembangkan teknik pelengkungan kayu. Teknologi pelengkungan kayu itu sudah dikenal di sejumlah negara maju, tetapi di Indonesia belum ada.

Selama ini banyak orang beranggapan kayu tidak mungkin dilengkungkan karena akan patah. Dalam kondisi kering, kayu yang mudah patah adalah kayu dengan kerapatan kering udara (air-dry density) rendah atau kayu lunak, seperti randu dan sengon (Albizia).

Padahal, dengan memanfaatkan sifat viskoelastisitas atau kelenturan kayu, semua jenis kayu bisa dilengkungkan, termasuk kayu-kayu yang dianggap kayu keras atau kayu dengan kerapatan kering udara tinggi, seperti jati atau mahoni (mahogany).

”Kayu tidak dapat dilengkungkan ketika kering, tetapi bisa dilengkungkan saat basah dan dipanaskan,” kata Wahyu, Jumat (19/1), di Cibinong. Bahkan, dengan sejumlah perlakuan, kayu lengkung itu tidak akan lurus lagi saat sudah kering.

Saat basah dan panas, sifat mekanik semua jenis kayu, yaitu kekuatan lentur dan kerapatan kayu, akan turun drastis meski tidak sampai rusak. Turunnya sifat mekanik membuat kayu menjadi elastis sehingga bisa dibentuk atau dilengkungkan.

Pelengkungan kayu itu dilakukan dengan memodifikasi hemiselulosa dan lignin, dua senyawa organik yang ada dalam kayu. Dua senyawa itu mudah dipengaruhi saat basah dan panas. Sementara selulosa yang merupakan komponen utama kayu sulit direkayasa karena molekulnya lebih kaku.

Meski bisa dilengkungkan, kayu tak dapat diperpanjang atau diperpendek. Jadi, proses pelengkungan perlu diperhatikan agar ukuran kayu tak bertambah panjang karena bisa membuat kayu patah atau tidak jadi lebih pendek lantaran bisa memunculkan gelombang di permukaan kayu.

Cetakan
Proses pelengkungan kayu diawali dengan pelunakan kayu. Pada tahap ini, kayu direbus hingga airnya mendidih. Saat basah dan panas itulah kayu dimasukkan ke mesin pelengkung yang bisa menjaga suhu panas ke kayu tetap stabil. Agar tak tertarik atau bertambah panjang, bagian luar kayu ditahan atau dilapisi dengan alat tertentu.

Namun, mesin pelengkung seharga Rp 5 juta-Rp 10 juta itu dinilai mahal bagi industri kecil. Kendala itu bisa diatasi dengan mengganti mesin pelengkung dengan cetakan kayu dari logam dilengkapi klem. Cetakan dibuat sesuai desain yang dirancang. ”Selain murah, cetakan juga lebih praktis,” kata Wahyu.

Dari mesin pelengkung atau cetakan, kayu memasuki tahap pengondisian agar kadar air dalam kayu sama dengan kadar air di udara luar, yakni 12 persen. Tujuannya agar kayu tak kembali ke bentuk semula sebelum dilengkungkan. Itu bisa dilakukan dengan mengangin-anginkan kayu atau memakai mesin pengering. Setelah kering, kayu siap dipakai untuk bahan mebel, kusen, atau perabot berbahan kayu lainnya.

Namun, riset yang dilakukan Wahyu itu baru melengkungkan kayu dengan tebal 3 sentimeter (cm). Itu berarti butuh riset lanjutan karena makin tebal kayu, kian butuh upaya ekstra untuk melunakkannya.

Jika ingin menghasilkan kayu lengkung dengan tebal lebih dari 3 cm, bisa didapat dengan mengelem beberapa kayu lengkung memakai lem khusus. Selain itu, bisa menggunakan kayu veneer (laminated veneer lumber), yaitu kayu yang dibentuk dari lapisan kayu (veneer) dengan ketebalan setiap lapisan biasanya kurang dari 3 milimeter.

”Pelengkungan kayu veneer lebih mudah dan cepat daripada melengkungkan kayu karena tak perlu memodifikasi sifat kimia hemiselulosa dan lignin,” ucapnya. Meski tersusun dari lapisan kayu tipis, kekuatan veneer tetap besar, mirip prinsip sapu lidi.

Penerapan
Riset tentang pelengkungan kayu dilakukan Wahyu sejak 2004. Sebelumnya, hasil riset umumnya hanya berupa publikasi ilmiah di berbagai jurnal. Namun, sejak 2014, penghiliran teknik pelengkungan kayu itu mulai dilakukan ke sejumlah industri dengan bantuan Pusat Inovasi LIPI.

Kini, teknik pelengkungan kayu tersebut sudah dikenalkan ke industri mebel di Sumedang, Jawa Barat. Salah satu industri kecil menengah yang sudah memanfaatkannya adalah CV Putra Linggar Jaya. Perusahaan itu membuat berbagai mebel yang salah satu bagiannya memakai kayu lengkung. Tantangan ke depan, industri dituntut menghasilkan desain produk lebih beragam.

Pemakaian kayu lengkung sebenarnya bisa jauh lebih luas, tak hanya mebel atau kusen. Bahkan, di Jepang, teknik kayu lengkung dimanfaatkan untuk membangun rangka jembatan. Potensi tersebut dilirik PT High Quality Corpora Putra (HQCP) di Depok, Jawa Barat, hingga memproduksi sepeda kayu.

”Selama 10 tahun terakhir, tren sepeda kayu muncul lagi, mengulang masa awal perkembangan sepeda. Meski material sama dari kayu, teknologi pemrosesan sepeda kayu saat ini berbeda,” kata Direktur Pengembangan Produk PT HQCP Didi Diarsa Adiana.

Selain menawarkan sepeda unik dari bahan alam, PT HQCP juga mengolah bahan kayunya dari pohon karet. Setiap tahun, tersedia banyak tebangan pohon karet tua di Indonesia yang sulit dimanfaatkan selain untuk kayu bakar lantaran kandungan
getahnya. Dengan sejumlah proses, kayu karet itu bisa ditingkatkan nilainya menjadi benda bernilai.

Saat ini, sepeda kayu itu baru dibuat prototipenya dan diproduksi sesuai permintaan terbatas. Sepeda kayu itu direncanakan diproduksi secara massal tahun ini sehingga harganya bisa ditekan. Produksi massal juga diharapkan lebih memasyarakatkan sepeda serta menumbuhkan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan, khususnya bagi masyarakat perkotaan.

Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum sepeda kayu itu benar-benar ada di pasaran. Menurut Didi, sejumlah riset harus dilakukan, seperti uji benturan dan kemampuan sepeda menahan beban. Standar nasional sepeda kayu yang berbeda dengan sepeda aluminium juga perlu dibuat.

”Dukungan penuh pemerintah dibutuhkan, bukan hanya dalam proses riset dan pengembangan produk, melainkan juga perizinan dan pendanaan bagi perusahaan rintisan berbasis teknologi yang masih terbatas jumlahnya,” ujarnya.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 29 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: