Home / Berita / Berapa Kali Anda Berhubungan Suami-Istri dalam Seminggu?

Berapa Kali Anda Berhubungan Suami-Istri dalam Seminggu?

Turunnya tingkat fertilitas di perkotaan dan penggunaan kontrasepsi metode modern memunculkan dugaan turunnya frekuensi hubungan suami-istri masyarakat. Dugaan itu masih perlu dibuktikan dengan riset lanjutan. Namun, situasi itu bisa jadi alarm kehidupan sosial masyarakat mengingat kualitas hubungan suami-istri bisa jadi indikator kesejahteraan masyarakat dan keberlangsungan sebuah bangsa.

Hipotesis turunnya frekuensi hubungan seksual masyarakat itu diperoleh dari analisis terkait sejumlah data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 yang dipublikasikan lengkap pada Selasa, 9 Oktober 2018. Dugaan ini mungkin agak mengejutkan bagi Indonesia. Namun, penurunan frekuensi hubungan seksual itu sudah jadi persoalan serius di banyak negara maju.

DOKUMENTASI HARIAN KOMPAS–Putri Diana dan Pangeran Charles ketika menikah pada 29 Juli 1981.

Tingkat fertilitas (total fertility rate/TFR) menggambarkan jumlah rata-rata anak yang dimiliki perempuan usia subur 15-49 tahun. Selama 15 tahun terakhir, sejak SDKI 2002-2003, 2007, dan 2012, TFR Indonesia stagnan di angka 2,6. Namun, pada SDKI 2017, TFR akhirnya turun ke tingkat 2,4. Penurunan tingkat fertilitas itu berlangsung baik di perkotaan maupun perdesaan.

Hasil survei itu tentu menggembirakan mengingat sejak krisis ekonomi 1998 muncul keinginan untuk memiliki anak dalam jumlah banyak dengan berbagai alasan, termasuk agama, budaya, dan politik. Bahkan pemerintah di sejumlah daerah yang jumlah penduduknya sedikit mendorong warganya memiliki anak banyak dengan memberikan sejumlah insentif.

Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dwi Listyawardani, di sela-sela acara peluncuran Laporan Situasi Kependudukan Dunia (State of World Population) 2018 di Jakarta, Rabu (17/10/2018), mengatakan, ada empat faktor utama pendorong turunnya fertilitas, yaitu penggunaan kontrasepsi, peningkatan umur kawin pertama, frekuensi hubungan seksual, dan jumlah pasangan yang mengalami gangguan infertilitas.

Dibandingkan lima tahun sebelumnya, pengguna alat atau cara kontrasepsi memang meningkat tipis. Masalahnya, jumlah pengguna kontrasepsi modern justru turun. Metode kontrasepsi modern itu terdiri dari pil, suntik, kondom, implan (susuk), spiral (intrauterine device/IUD), sterilisasi wanita (metode operasi wanita/tubektomi), sterilisasi pria (metode operasi pria/vasektomi), dan amenore laktasi.

Sebaliknya, pengguna metode kontrasepsi tradisional, seperti pantang berkala (deteksi masa subur), senggama terputus, atau penggunaan herbal/jamu, justru melonjak. Tingkat kegagalan dalam penggunaan kontrasepsi tradisional ini sangat tinggi. Pemakaian kontrasepsi tradisional butuh kedisiplinan dan kemampuan mengendalikan emosi yang tinggi.

Lonjakan pengguna kontrasepsi tradisional itu terjadi pada penduduk perkotaan, berpendidikan, dan bekerja. Uniknya, meski potensi kehamilan meningkat akibat pemakaian kontrasepsi tradisional itu, tingkat fertilitas di perkotaan justru turun.

Umur kawin
Faktor lain yang menentukan tingkat fertilitas adalah median umur kawin pertama pada perempuan. Umur kawin ini akan menentukan seberapa panjang masa subur seorang perempuan. Makin muda mereka menikah, makin besar peluangnya untuk memiliki anak. Sebaliknya, makin tua seorang perempuan menikah, kesempatannya untuk mempunyai anak makin kecil.

Selama lima tahun terakhir, median umur kawin pertama perempuan umur 25-49 tahun bertambah signifikan. Median umur kawin pertama pada 2012 adalah 20,4 tahun, sedangkan pada 2017 meningkat jadi 21,8 tahun. Peningkatan umur kawin pertama ini bisa dipicu banyak hal, mulai dari tingkat pendidikan perempuan yang makin tinggi hingga banyaknya perempuan masuk pasar kerja.

Situasi itu bisa menurunkan tingkat fertilitas. Namun, jumlah anak ideal yang diinginkan cenderung naik, terutama keinginan pria. Jumlah anak ideal yang diinginkan perempuan kawin pada 2012 dan 2017 stabil di 2,7 anak. Adapun jumlah anak yang diinginkan pria pada periode yang sama justru naik dari 2,8 anak menjadi 2,9 anak.

Sementara itu, faktor infertilitas sering tidak diperhatikan karena tingginya infertilitas pada pasangan usia subur otomatis akan menurunkan tingkat fertilitas. Konsensus Penanganan Infertilitas 2013 menyebutkan, 6,0 persen perempuan umur 25-49 tahun di Indonesia mengalami infertilitas primer. Infertilitas primer adalah kegagalan pasangan untuk mendapatkan kehamilan minimal selama 12 bulan setelah berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi.

Meski terlihat kecil, jika dilihat berdasarkan kelompok umur, akan terlihat perbedaannya. Makin muda usia perempuan, makin tinggi tingkat infertilitasnya. Persentase perempuan umur 20-24 tahun yang mengalami infertilitas mencapai 21,3 persen.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik 2011 menyebutkan, 10-15 persen perempuan mengalami infertil. ”Data ini sudah bertahan 10-15 tahun terakhir,” ujar Ketua Bagian Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Wimpie Pangkahila.

Namun, infertilitas bukan hanya masalah perempuan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2010 menyebutkan, 36 persen infertilitas dipicu faktor yang datang dari suami. Karena itu, menyelesaikan permasalahan infertilitas selalu membutuhkan kerja sama suami-istri.

Stagnannya tingkat infertilitas membuat faktor ini diyakini bukan penyebab turunnya tingkat fertilitas masyarakat pada SDKI 2017. Karena itu, faktor lain yang kemungkinan bisa memicu turunnya fertilitas adalah frekuensi hubungan seksual masyarakat menurun.

Suami-istri
Dugaan turunnya frekuensi hubungan suami-istri di Indonesia jelas belum memiliki bukti atau data yang menunjukkan penurunan itu. Meski demikian, BKKBN ingin menyelidikinya lebih lanjut sehingga bisa diperoleh bukti kuat untuk memastikan apakah frekuensi hubungan seksual masyarakat menurun.

Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Woro S Sulistyaningrum mengatakan, perubahan perilaku seksual masyarakat perkotaan bisa dideteksi dari kesibukannya. Kelelahan akibat pekerja membuat saat sampai di rumah mereka lebih memilih langsung tidur daripada melakukan hubungan suami-istri dengan pasangannya.

”Itu yang membuat meski menggunakan metode kontrasepsi tradisional, tingkat fertilitasnya tetap turun,” kata Woro.

Meski belum ada bukti terkait penurunan frekuensi hubungan suami-istri masyarakat itu, pernyataan Woro memang ada benarnya. Hal itu setidaknya dialami Daya (39), perempuan yang tinggal di Cibinong, Bogor, dan bekerja di Jakarta Pusat. Setiap hari, untuk bekerja selama 8 jam, dia harus menempuh perjalanan pergi-pulang selama 5 jam, keluar rumah pagi buta dan tiba di rumah malam hari.

Sampai di rumah, Yani masih disibukkan dengan berbagai pekerjaan domestik yang tetap harus dia lakukan, mulai dari bersih-bersih, memasak, hingga membantu anak mengerjakan pekerjaan rumah. Kesibukan dan kelelahan itu membuat pikiran dan hasratnya untuk melakukan hubungan suami-istri banyak tergerus.

Hal serupa dialami Vetty (40), warga Bandung, Jawa Barat. Perempuan yang masih memiliki anak balita itu mengaku hasratnya untuk melakukan hubungan suami-istri turun sejak kelahiran anak-anaknya hingga mereka berumur 1,5 tahun. Setelah mereka makin besar, dorongan itu tumbuh kembali. Namun, karena suaminya bekerja di luar kota, praktis dia hanya bisa melakukannya saat akhir pekan.

”Sebulan paling hanya 4-6 kali saja,” katanya.

Persoalan yang dialami Daya dan Vetty sejatinya adalah cerminan perilaku seksual masyarakat Indonesia yang tinggal di kota-kota besar. Beban kerja dan pekerjaan domestik, stres perjalanan, hingga terpisahnya tempat tinggal antara suami dan istri berpotensi menurunkan frekuensi dan kualitas hubungan seksual mereka.

Meski seolah sepele, penurunan frekuensi hubungan suami-istri ini sebenarnya bisa dijadikan indikator kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, di negara-negara maju yang tingkat fertilitasnya menurun drastis selama beberapa dekade terakhir, mereka melakukan banyak cara untuk mendorong peningkatan fertilitas masyarakatnya.

Walau di Indonesia belum ada riset dan data yang menunjukkan penurunan frekuensi seksual itu, kita bisa mencari jawabannya sendiri. Jika hal terakhir yang kita lihat sebelum tidur dan hal pertama yang kita lihat setelah bangun tidur bukan suami atau istri kita, maka kita sebenarnya tahu, seberapa sering dan berkualitas hubungan seksual kita.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 2 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...