Home / Berita / KB di Perkotaan Mengkhawatirkan

KB di Perkotaan Mengkhawatirkan

Umur Median Seks Pertama Remaja Kota Turun
Lebih dari 53 persen penduduk Indonesia tinggal di kota. Namun, indikator program kependudukan dan keluarga berencana di kawasan urban tumbuh lebih lambat dibandingkan di pedesaan. Pemerintah dituntut mampu berinovasi agar program KKB bisa menjangkau lebih banyak penduduk kota yang lebih terdidik dan kaya.

Rendahnya sejumlah indikator pembangunan KKB di perkotaan terlihat dari paparan survei Performance Monitoring and Accountability (PMA) 2020 putaran pertama, Jakarta, Kamis (4/11).

Pada 2012-2015, ada tambahan 2 juta perempuan pengguna kontrasepsi modern di Indonesia yang sebagian besar ditopang perempuan di desa. Dalam rentang waktu itu, akseptor KB di desa naik 2,9 persen dari 58,7 persen jadi 61,6 persen. Sementara di kota hanya naik 0,5 persen dari 57 persen jadi 57,5 persen.

“Jumlah unmet need atau perempuan yang ingin KB tapi tak terpenuhi di perkotaan lebih besar dibandingkan di desa,” ujar Ketua Pusat Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Siswanto Agus Wilopo.

Direktur PMA 2020 Scott Radloff mengingatkan, pemicu kenaikan akseptor KB baru adalah bertambahnya jumlah perempuan usia produktif. Kenaikan itu memberi makna besar bagi pembangunan KKB jika kontrasepsi yang dipakai adalah metode kontrasepsi jangka panjang.

Selama tiga tahun terakhir, jumlah perempuan usia produktif berusia 15-49 tahun naik 1,34 juta orang, dari 67,35 juta orang menjadi 69,19 juta orang. Adapun perempuan yang menikah naik 1,98 juta orang, dari 48,29 juta orang jadi 50,27 juta orang.

Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Omas Bulan Samosir menyatakan, tingginya penggunaan kontrasepsi di pedesaan dan meningkatnya akses perempuan miskin pada KB selaras dengan orientasi penerapan program KB pemerintah.

Dengan kondisi kependudukan berubah, pemerintah perlu mengubah pendekatan program KB agar bisa menjangkau lebih banyak perempuan kota terdidik dan mampu secara ekonomi.

Pelayananan KB KelilingMenurut Siswanto, perempuan kota terdidik dan lebih sejahtera punya tuntutan dan kebutuhan ber-KB spesifik. Keingintahuan mereka tentang jenis kontrasepsi dan efek sampingnya tinggi. Namun, keingintahuan itu kerap tak mampu dipenuhi petugas kesehatan. “Panduan kontrasepsi yang dipegang tenaga kesehatan perlu diperbarui agar sesuai perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Informasi kesehatan reproduksi dan kontrasepsi yang benar juga sulit diperoleh masyarakat. Informasi yang beredar di toko buku atau internet lebih banyak mengulas seksualitas yang belum tentu sesuai kebutuhan mereka.

Kesehatan remaja
PMA 2020 dilaksanakan Institut Populasi dan Kesehatan Reproduksi, Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg Johns Hopkins, Amerika Serikat. Survei di Indonesia merupakan yang pertama di Asia dan sampel diambil tenaga ahli dari UGM, Universitas Hasanuddin (Makassar), dan Universitas Sumatera Utara (Medan) yang diawasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Survei juga menunjukkan umur median (tengah) hubungan seks pertama pada 2012-2015 di perkotaan turun dari 21,4 tahun jadi 21 tahun. Sebaliknya di desa, naik dari 19,2 tahun jadi 19,4 tahun. Umur median nikah pertama di kota naik dari 21,2 tahun jadi 22,1 tahun, dan di desa naik dari 19 tahun jadi 20,3 tahun.

Kondisi itu membuat perempuan muda perkotaan kian rentan risiko-risiko kesehatan reproduksi. Sejumlah risiko itu mulai dari tertular penyakit infeksi menular seksual, kehamilan tak diinginkan, kehamilan berisiko, hingga aborsi tak aman.

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN Sanjoyo menambahkan, jumlah remaja putri usia 15-19 tahun yang melahirkan selama beberapa tahun cenderung naik.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menyebut, ada 35 orang per 1.000 remaja putri melahirkan. Namun, pada 2012, jadi 48 orang per 1.000 remaja putri. Meski mayoritas remaja melahirkan ada di desa, kenaikan remaja melahirkan di kota naik hampir dua kali dalam 5 tahun.

Terjebaknya remaja putri dalam perilaku seksual berisiko, menurut Siswanto, tak terlepas dari rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan kondisi tubuhnya.

Menurut SDKI 2012, saat puber, hanya 3,9 persen perempuan umur 15-24 tahun yang tahu gairah seksualnya akan naik. Selain itu, hanya 72,8 persen tahu payudaranya membesar.

“Hanya 18 persen perempuan umur 15-49 tahun yang tahu masa subur terjadi di antara dua periode menstruasi,” ucapnya. Itu menunjukkan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi berkualitas bagi kaum perempuan. (MZW)
————————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 November 2015, di halaman 14 dengan judul “KB di Perkotaan Mengkhawatirkan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: