Home / Berita / Beradu Tampan di Langit Biru

Beradu Tampan di Langit Biru

Bisnis penerbangan dikenal bisnis berisiko tinggi. Tak sedikit maskapai penerbangan di dalam dan luar negeri bangkrut tak kuat melawan persaingan yang ketat. Namun, banyak pula maskapai penerbangan yang melaju pesat dalam merebut konsumen di langit biru.

Salah satu maskapai yang mampu bertahan, bahkan berkembang pesat adalah Cathay Pacific. Perusahaan yang bermarkas di Hongkong ini terus berupaya memperbarui armadanya serta berinovasi memperbaiki layanannya. Pesawat terbaru dan tergolong mewah diterima pada Sabtu (26/9) lalu, yakni pesawat Boeing 777-300 ER, diserahkan langsung Elizabeth Lund, Vice President dan General Manager Program 777 Boeing Company, kepada James Tong, Director Corporate Affair Cathay Pacific, di pabrik Boeing 777 di Everett WA, sekitar 45 kilometer utara kota Seattle, Amerika Serikat.

Persaingan yang ketat membuat maskapai penerbangan melakukan restrukturisasi armadanya. Seperti diakui Chris Tasche, Pemimpin Pemasaran Produk Boeing 777, saat ini tercatat 1.881 pesawat Boeing 777 telah dipesan maskapai penerbangan di seluruh dunia. Pesanan terbanyak berasal dari kawasan Asia yang mencapai 624 pesawat, disusul Timur Tengah dan Afrika sebanyak 561 pesawat, sedangkan sisanya dipesan Amerika Utara dan Amerika Latin.

Pesawat berwajah tampan dan berbadan kekar ini memiliki banyak keunggulan. Pesawat ini lebih hemat bahan bakar dan memiliki kapasitas penumpang lebih banyak dibandingkan dengan jenis pesawat lain. Cathay Pacific adalah salah satu yang percaya bahwa pemakaian pesawat ini sebagai solusi memenangi persaingan. Saat ini, Cathay Pacific memiliki 70 pesawat Boeing 777.

e9107f516fc94757b08184c31c90fb08KOMPAS/RUSDI AMRAL–Pabrik Boeing 777-300 ER yang terletak di Everett WA, Amerika Serikat, dibanjiri pesanan dari sejumlah maskapai penerbangan di dunia. Sampai 31 Agustus 2015 lalu, pabrik ini telah menerima 1.881 pesanan pesawat baru, pesanan terbanyak datang dari maskapai penerbangan di Asia.

Boeing 777 adalah pesawat berbadan lebar dengan mesin kembar yang didesain untuk penerbangan jarak jauh. Maskapai nasional Garuda Indonesia juga menggunakan jenis pesawat ini untuk penerbangan haji dan penerbangan ke Eropa, yaitu Jakarta-London. Pesawat ini berkapasitas 350 sampai 550 penumpang dengan jangkauan 10.000 kilometer sampai 16.400 kilometer.

Untuk melengkapi kenyamanan di pesawat, selain menyediakan kelas bisnis dan kelas ekonomi, Cathay Pacific juga memperkenalkan layanan kelas ekonomi premium. Di kelas ini, kabin terasa lebih tenang dan lebih luas daripada kelas ekonomi biasa. Kursi penumpang semakin luas dan memiliki area berbaring lebih besar. Kursi itu juga dilengkapi meja makan besar, meja koktail, pijakan kaki, serta televisi pribadi berukuran 10,6 inci.

Boeing 777 dirancang sebagai pengganti Boeing 747 yang akan segera memasuki masa purnakarya. Cathay Pacific merencanakan akan mengandangkan Boeing 747 dalam akhir dekade ini karena dinilai tidak akan lagi mampu berkompetisi dengan pesawat keluaran terbaru. Selain Boeing 747, Cathay Pacific juga berencana mengandangkan pesawat Airbus A340-300. Saat ini, Cathay Pacific tercatat sebagai perusahaan terbesar kedua di dunia yang menggunakan Boeing 777 setelah Emirates, maskapai milik Uni Emirat Arab.

Menghadapi persaingan yang sangat ketat, Cathay Pacific akan berinvestasi lagi 71 pesawat baru sampai tahun 2024. James Tong mengungkapkan, pihaknya akan menyiapkan investasi sebesar 180 miliar dollar Hongkong (sekitar Rp 310 triliun) untuk kebutuhan tersebut. Pesawat yang akan dibeli antara lain 21 pesawat Boeing 777-9X, 1 pesawat Boeing 777-300 ER, 1 pesawat Boeing 747-8F, 22 pesawat Airbus A350-900, dan 26 pesawat A350-1000.

Investasi tersebut sekaligus untuk tetap mengukuhkan Bandar Udara Internasional Hongkong sebagai bandara dengan lalu lintas kargo terbesar di dunia. Bandara tersebut juga menempati urutan ketiga terbesar di dunia dalam hal melayani jumlah penumpang. Pada tahun 2014, Bandara Internasional Hongkong mencatat melayani 62,9 juta penumpang, di bawah Dubai dan London yang masing-masing melayani 66,9 juta dan 68,1 juta penumpang dalam setahun.

9b34d17fca574f60abb6936783033ef6KOMPAS/RUSDI AMRAL–Maskapai Cathay Pacific menambah satu lagi armadanya dengan Boeing 777-300 ER, untuk memperkuat daya saing maskapai tersebut dalam persaingan bisnis penerbangan di dunia. Pesawat ini merupakan pesawat ke-70 yang dipesan Cathay Pacific dari pabrik Boeing 777-300 ER.

Dengan 148 armada yang dimiliki, Cathay Pacific melayani 189 destinasi yang mencakup 51 negara. Cathay Pacific mulai awal 2015 juga menambah frekuensi penerbangannya ke Jakarta dari 21 penerbangan menjadi 26 penerbangan seminggu, termasuk membuka penerbangan ke Denpasar, Bali, sejak April 2014.

Banyak pesanan
Ketatnya pesaingan bisnis penerbangan juga terlihat di pabrik Boeing di Everett WA. Pabrik dengan teknologi canggih ini juga terbuka untuk umum, termasuk untuk tujuan wisata. Selain membeli karcis, pengunjung harus menggunakan rompi yang disediakan serta kacamata khusus selama mengitari pabrik.

Di dalam pabrik terlihat banyak pesawat yang masih dalam pembuatan, belum dicat, serta ada pula yang dalam proses akhir untuk diserahkan ke pemesannya. Terlihat pula beberapa pesawat dengan warna-warninya dari sejumlah maskapai. Di lantai dua pabrik tersebut juga terlihat banyak rombongan wisatawan yang mengamati proses membuat pesawat dipandu oleh pemandu wisata masing-masing.

Mulai saat bus memasuki kawasan pabrik hingga masuk dalam hanggar, pemandu wisata tak henti berbicara menjelaskan detail tentang pembuatan pesawat beserta sejarahnya. Di dalam hanggar yang sangat besar, terlihat bagian pesawat seperti sayap, ekor, dan badan pesawat tengah dirakit. Di tempat lain, mesin pesawat juga diangkat dengan derek raksasa untuk siap dipasang di tubuh pesawat.

Pabrik Boeing tidak pernah tutup dan beroperasi 24 jam setiap hari dengan sistem 3 shift sehari. Pembuatan Boeing 777 memakan waktu sekitar 83 hari atau kurang dari tiga bulan. Pabrik ini mampu menyerahkan delapan pesanan baru setiap bulan. Selain Boeing 777, pabrik ini juga melayani pembuatan Boeing 787 dan Boeing 747-8F.

Bisnis penerbangan di langit biru memang sangat menjanjikan meskipun tetap harus dijalankan dengan prinsip kehati-hatian. Menurut James Tong, kontribusi bisnis penerbangan sangat berarti bagi perekonomian Hongkong, termasuk dalam penyerapan tenaga kerja. Semoga bisnis penerbangan kita di Tanah Air bisa mengikuti langkah sukses bisnis penerbangan di Hongkong. (RUSDI AMRAL)

FOTO-FOTO: KOMPAS/RUSDI AMRAL
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Oktober 2015, di halaman 27 dengan judul “Beradu Tampan di Langit Biru”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: