Home / Berita / Terbang Bersama Harapan dan Impian

Terbang Bersama Harapan dan Impian

Logo bukan hiasan. Setidaknya di dalamnya terkandung pesan, cita-cita, harapan, dan impian. Coba tengok di tubuh pesawat Garuda Indonesia. Selama 66 tahun terbang, Garuda sudah empat kali mengubah logo.


Suatu kali pada 28 Desember 1949, Presiden Soekarno terbang dari Yogyakarta menuju Jakarta. Bung Karno disertai Guntur, Megawati, dan Ibu Negara Fatmawati yang sedang hamil. Mereka menjadi penumpang pertama pesawat tipe Douglas DC-3 Dakota dengan registrasi PK-DPD. Pesawat itu menggunakan logo Garuda Indonesian Airways. Pada bagian ekor terdapat gambar bendera Merah Putih. Patriotik dan heroik sesuai semangat zaman. Ada logo burung lancip seperti huruf V tergolek menghadap kanan.

Siapa pembuat logo Garuda tersebut, pihak Garuda masih melakukan pengumpulan data. Logo itu menempel di tubuh Garuda yang dalam kurun 1949-1969 menerbangkan pesawat DC 3 Dakota, DC 8, DH Heron, Fokker 27, Lockheed L-118 Electra, dan Convair 990A. Logo itu bertahan sampai tahun 1969 sebelum kemudian berganti dengan logo baru sejak tahun 1970.

Logo baru Garuda yang disebut orange logo type itu mulai digunakan tahun 1970 hingga 1985. Pada bagian tengah badan pesawat dari moncong hingga ekor tampak strip warna oranye. Nama garuda indonesian airways ditulis menggunakan lower case atau huruf kecil untuk g pada garuda dan i pada indonesia. “Pertimbangannya, kami ingin humble (rendah hati) dan melayani,” kata Tri Poetra Sakti, salah seorang Senior Manajer Garuda Indonesia, yang ditemui di kantor Garuda Indonesia di Bandar Udara Soekarno- Hatta.

Oranye disebut Tri Poetra sebagai warna hangat. Kehangatan diwujudkan awak Garuda dengan senyum ramah melayani penumpang. Warna tersebut juga digunakan dalam seragam awak kabin. Logo oranye itu digunakan selama 15 tahun, yaitu dari kurun 1970-29 Maret 1985.

5a326a5224cd4e3690f13097757860d4Gambar pesawat Garuda  Indonesia DC 10 dengan logo lama yang beroperasi tahun 1976-2004 dan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-800 NG dengan logo terbaru yang parkir di hanggar Garuda Indonesia, Jumat (24/4).–KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Selama kurun waktu tersebut, Garuda menunjukkan kemajuan pesat dalam kinerja. Garuda menggunakan pesawat Fokker 28, DC 10, Boeing 747-200, dan Airbus A 300-B4. Garuda saat itu disebut sebagai perusahaan penerbangan terbesar di belahan bumi selatan. “Tahun 1985 itu kami ingin menjadi world class airline,” kata Tri Poetra.

Burung baru
Cita-cita menjadi perusahaan penerbangan kelas dunia itu termuat dalam logo baru yang mereka sebut sebagai simbol burung modern yang digunakan dalam kurun 30 Maret 1985-22 Juli 2009. Pada logo baru ini nama Indonesian Airways telah ditanggalkan dan tinggallah nama Garuda Indonesia. Peringkasan serupa juga digunakan Cathay Pacific milik Hongkong.

Digarap oleh Landor Associate, perusahaan konsultan brand asal London, logo memperlihatkan sosok burung garuda dengan sayap dan paruh yang tampak gagah. Sayap berjumlah lima helai dengan gradasi ukuran yang besar pada bagian atas dan mengecil ke bawah. Dua helai sayap berwana biru, sementara tiga 3 lainnya berwarna hijau tosca. Warna biru dan hijau mencerminkan alam Indonesia. Langit dan laut biru, serta hijau alam Nusantara. Jumlah lima itu juga bermuatan pesan ideologi negara Pancasila.

“Kami juga punya visi terbang ke lima benua,” kata Tri Poetra.

Dan benar Garuda terbang sampai ke Amerika Serikat. Ia menjangkau kota-kota di Eropa, seperti Amsterdam, Berlin, Frankfurt, London, Paris, Roma, dan Zurich. Logo burung biru itu bertahan selama 24 tahun. Selama itu terjadi dinamika kehidupan perusahaan penerbangan, termasuk ditutupnya sejumlah rute penerbangan. Kemudian muncul sejumlah kompetitor di dalam negeri sejak awal tahun 2000-an. Tahun 2005-2010 Garuda memutuskan untuk membuat program quantum leap, lompatan besar.

“Kami ingin me-refresh identitas,” tutur Tri Poetra.

Untuk program penyegaran tersebut, Garuda tidak melakukan pergantian logo, tetapi membuat penyegaran logo. Untuk itu mereka kembali memercayakan kepada Landor Associate. Alasannya, logo burung baru tersebut dianggap everlasting alias “ampuh” bertahan. Perubahan “hanya” dilakukan pada grafis. “Kami rapikan sedikit,” ujarnya. Font yang sebelumnya tertulis bold atau dengan cetak tebal diubah dengan huruf yang lebih ramping dan bersih.

Jika pada logo sebelumnya garuda dalam posisi sejajar dengan tulisan Garuda Indonesia, dalam logo resmi posisi garuda berada lebih tinggi dari tulisan Garuda Indonesia. “Ini menandakan kami ingin terbang lebih tinggi.”

Kesannya tampak lebih bersih dan modern. Lengkung huruf Garuda Indonesia juga terkesan sinergis dengan lengkung logo garuda. Namun, pada badan pesawat, logo garuda tetap dalam posisi segaris dengan lambang Garuda Indonesia. Sebab, jika lambang garuda ditaruh di atas tulisan Garuda Indonesia, posisi logo akan berada di atas badan pesawat sehingga tidak tampak.

Ditambahkan pula supergraphic atau grafis yang memperkaya logo Garuda. Supergraphic yang disebut sebagai nature wings, yang mewakili dedaunan hijau, kelopak bunga oranye, laut biru, dan sayap burung. Tiga warna biru, tosca, dan oranye itu tecermin pada kostum awak kabin.

Di pesawat, natures wings antara lain terpasang pada bagian ekor pesawat. Sebelumnya pada ekor pesawat terpasang logo burung garuda seperti terpampang pada badan pesawat dan ujung sayap. “Itu namanya overbrand, terlalu banyak logo yang muncul di bodi pesawat,” katanya.

Nature wings, sayap-sayap alam itu, mengandung sifat dinamik, energetik, lincah, dan semangat. Harapan yang terkandung dalam simbol-simbol itu terpampang di badan pesawat Airbus A300-300, Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, dan Bombardier CRJ1000 NextGen.

Logo sesuai semangat lompatan besar (quantum leap) yang dikumandangkan Garuda sejak 2009. Pujobroto, Vice President Corporate Communication Garuda, menyebut program quantum leap sebagai milestone, tonggak sejarah. “Garuda menjadi global player. Kami bisa masuk bintang lima dan di dunia di urutan ketujuh menurut Skytrax,” kata Pujobroto.

Logo itu seperti doa visual yang dibawa terbang ke angkasa…. (XAR)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 April 2015, di halaman 30 dengan judul “TAPAK: Terbang Bersama Harapan dan Impian”.

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: