Home / Berita / Bentuk Kepercayaan Diri, Matematika Perlu Diajarkan dengan Menyenangkan

Bentuk Kepercayaan Diri, Matematika Perlu Diajarkan dengan Menyenangkan

Matematika juga sangat penting untuk membentuk karakter rasionalitas anak. Untuk itu, penting menjadikan anak senang dengan Matematika agar mereka mudah belajar.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG (MYE)–Ilustrasi. Sejumlah siswa sekolah dasar mengikuti kegiatan tantangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan Matematika yang diselenggarakan di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Sabtu (28/11/2015). Kegiatan ini bertujuan agar siswa secara dini mengenal aplikasi ilmu pengetahuan dengan menggunakan peralatan sederhana dan dikemas atraktif.

Mata pelajaran Matematika dinilai bisa menjadi pintu masuk pembentukan karakter percaya diri anak. Bagi murid sekolah dasar, mata pelajaran ini perlu diajarkan melalui metode yang menyenangkan.

Direktur PT Benesse Indonesia Tatsunosuke Suzuki mengatakan, Matematika bukan sekadar induk bagi semua mata pelajaran. Matematika adalah mata pelajaran yang mampu mengembangkan nalar dan logika anak.

”Matematika juga bisa membentuk kepercayaan diri,” katanya di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Benesse merupakan perusahaan asal Jepang yang menyediakan bimbingan belajar bernama Shinkenjuku di Indonesia. Lembaga bimbingan belajar ini salah satu yang menginisiasi pembelajaran Matematika secara menyenangkan bagi siswa sekolah dasar.

Menurut Suzuki, cara belajar yang menyenangkan tersebut bertujuan agar anak menjadi suka pada Matematika. Merujuk pada hasil survei Programme for International Assessment (PISA) 2012, Suzuki menilai, siswa di Indonesia memiliki peluang.

”Skor PISA 2012 menunjukkan, siswa Indonesia senang belajar di sekolah. Hanya saja, perlu pendekatan khusus agar mereka tidak sekadar senang, tetapi juga pintar,” katanya.

Shinkenjuku selama ini mengedepankan kemampuan berpikir siswa sesuai dengan tingkatan. Sebab, menurut Suzuki, hasil bukan yang utama dalam pelajaran Matematika, melainkan proses dan konsep.

Ia mencontohkan, banyak murid kelas II SD yang kesulitan mengerjakan soal penjumlahan sederhana meskipun sudah memahami caranya. Ternyata, para siswa tersebut kebanyakan belum memahami secara matang konsep bilangan puluhan.

”Di Jepang, anak-anak SD diajak memahami konsep tentang Matematika melalui komik dan buku bergambar,” kata Suzuki.

Kendati demikian, para siswa terlebih dulu diberi kesempatan untuk mencari tahu lewat caranya masing-masing sebelum diajari guru. Misalnya, mereka diminta menghitung luas trapesium, benar atau salah. Dari situ, kemampuan berpikir secara kritis dan kepercayaan diri siswa bisa berkembang.

Bentuk rasionalitas
Kandidat doktor jurusan Education Leadership and Management University China, Budy Sugandi, yang dihubungi terpisah, mengatakan, Matematika juga sangat penting untuk membentuk karakter rasionalitas anak. Untuk itu, penting menjadikan anak senang dengan Matematika agar mereka mudah belajar.

Sayangnya, selama ini anak cenderung takut pada pelajaran Matematika. Bukan karena faktor kesulitannya, melainkan karena guru yang mengajarkannya.

”Agar penanaman karakter bisa optimal, pembelajaran Matematika perlu diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari,” katanya saat dihubungi.

Kepala Seksi Pembelajaran Subdirektorat Kurikulum Direktorat Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Setiawan Witaradya mengatakan, kemampuan Matematika anak di 148.805 SD memang masih perlu ditingkatkan.

Hal itu terbukti lewat jauhnya ketimpangan antara soal yang diberikan kepada para peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) dengan murid pada umumnya. ”Jadi, soal OSN untuk anak kelas IV dan V SD, saat kami tanyakan ke pembinanya ternyata setara dengan soal untuk anak kelas IX SMP atau kelas X SMA,” ujarnya.

Standar masih rendah
Di sisi lain, saat ini jumlah SD yang memenuhi standar nasional pendidikan juga masih cukup rendah, yakni 30,1 persen atau setara dengan 44.776 SD. ”Masih ada 100.000-an SD yang belum memenuhi standar nasional pendidikan,” katanya.

Menurut Setiawan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah memberikan bimbingan teknis kepada 1.250 kepala sekolah. Di sana, mereka memberikan penguatan pembelajaran dan penilaian demi meningkatkan standar pendidikan di sekolah mereka.

Harapannya, saat kembali ke sekolahnya, para kepala sekolah dapat menularkan ilmunya, setidaknya kepada lima sekolah yang berada di wilayah gugusnya. Jika hal itu berhasil, akan ada 6.250 sekolah yang meningkat juga standarnya.

Dalam hal ini, Setiawan mendorong keterlibatan dunia usaha dan dunia industri untuk turut meningkatkan kapasitas siswa dan pengajar di sekolah. Sejauh ini, setidaknya sudah ada dua pihak swasta yang memberikan sumbangsihnya dalam dunia pendidikan, yakni Unilever dan Nestle.

”Unilever selama ini terjun ke sekolah untuk mengajarkan pola hidup sehat dan bersih, sedangkan Nestle mengenai pola hidup dengan gizi seimbang. Kegiatan itu juga kami sisipkan dengan memberikan penguatan pembelajaran dan penilaian,” kata Setiawan.

Oleh FAJAR RAMADHAN

Editor: HAMZIRWAN HAM

Sumber: Kompas, 23 Januari 2020

Share
x

Check Also

Diramalkan Sejak 1973, Duplikat Manusia Tak Terbukti 2020

Tahun 1973, seorang ilmuwan di Swiss meramalkan duplikat manusia tercipta tahun 2020 ini. Akankah terbukti? ...