Home / Artikel / Bencana, Takdir, dan Upaya Manusia

Bencana, Takdir, dan Upaya Manusia

”Hidup sekali. Di tepi pantai mati, di gunung pun mati. Jika sudah takdir Allah, kita tidak bisa menolaknya. Kalaupun mati, saya memilih mati di sini. Di kampung halaman sendiri,” kata Hasan Saleh (39), korban tsunami Aceh 2004 yang kehilangan istri, dua anaknya, dan ibunya dalam bencana tahun itu.


Keyakinan tentang takdir itulah yang, menurut pengakuan Hasan, membuatnya memilih kembali berhuni di bekas rumah lamanya di Desa Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Selain keluarga inti, Hasan juga kehilangan 11 anggota keluarga besarnya.

”Keluarga saya yang tersisa hanya saya dan dua anak kakak. Hanya sedikit orang selamat dari tsunami di Alue Naga, mungkin tidak sampai sepersepuluhnya yang selamat,” katanya.

Namun, Hasan menegaskan bahwa ia tak jeri kembali tinggal di desa yang dikepung laut dan Krueng (sungai) Cut tersebut. Di rumah barunya, Hasan hidup bersama istri yang dinikahinya tahun 2006. ”Kalau terus memikirkan yang sudah meninggal, kita tidak akan bisa hidup lagi. Toh, hidup dan mati itu sudah ditakdirkan,” ucapnya.

Apakah tidak takut tsunami akan kembali datang dan merenggut keluarga barunya?

Dia lalu memberikan jawaban seperti pembuka tulisan ini. Jawaban bahwa hidup-mati merupakan takdir Tuhan seperti ini kerap terdengar dari orang-orang Aceh yang kembali berhuni di bekas tapak bencana.

Memang tak semua korban tsunami bersikap seperti ini. Beberapa korban tsunami tak mau lagi tinggal di tepi pantai dengan alasan trauma atau alasan-alasan lain yang lebih rasional, seperti kekhawatiran pada tsunami yang mungkin terjadi lagi.

Namun, kebanyakan korban tsunami di Aceh memang menginginkan kembali ke kampung halaman, tak lama setelah tsuami. Hasilnya, rumah-rumah baru pun tumbuh di sepanjang pesisir yang pernah dilanda tsunami, mulai dari Banda Aceh, Aceh Besar, Calang, hingga Meulaboh.

Tengku Bulqaini Tanjong, Sekretaris Jenderal Himpunan Ulama Dayah Aceh, memaknai fenomena kembalinya masyarakat Aceh ke tepi pantai berangkat dari keyakinan bahwa semua musibah atau kejadian itu takdir Tuhan. ”Kami bisa terima bencana dan kematian saudara dan keluarga. Sampai hari ini, kami masih juga membikin rumah di dekat laut. Padahal, ada imbauan dari pemerintah, kenapa? Itu sudah takdir Allah. Di mana pun takdir Allah, kami meninggal,” tuturnya.

Tak hanya di Aceh, kecenderungan kembali ke tapak semula dan lekas melupakan tragedi bencana jamak terjadi di Indonesia. Itu juga terjadi di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, setelah tsunami. Juga di Cilacap, Jawa Tengah. Tak butuh waktu lama, pantai yang semula porak-poranda kembali disesaki penduduk yang cenderung abai dengan risiko bencana.

Sejarah mencatat, pengosongan gunung-gunung api di Indonesia dari penduduk secara permanen selalu gagal. Sebagai contoh, seusai letusan dahsyat Gunung Galunggung pada 5 April 1982, pemerintah mentransmigrasikan warga di lereng gunung itu, tetapi kebanyakan warga memilih pulang kampung. Fenomena yang sama juga terjadi setelah beberapa kali letusan Merapi (Yogyakarta).

Bahkan, pemaksaan militer, seperti pernah dipraktikkan oleh pemerintahan Orde Baru di Pulau Makian, Ternate, pada 1970-an juga terbukti gagal.

Memegang bedil di tangan, tentara memaksa warga meninggalkan Pulau Makian dengan alasan pulau gunung api itu rawan dilanda bencana letusan Kei Besi. Tak sampai setahun, warga pun kembali berbondong ke pulau gunung api ini. Kini, Makian dihuni lebih dari 20.000 jiwa.

Survei yang dilakukan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas pada Juni-Juli 2011 mengungkapkan minimnya pengetahuan dan kesiapsiagaan terhadap bencana itu. Hampir separuh dari 806 responden yang tinggal di zona bahaya tidak menyadari ancaman bencana yang sangat mungkin melanda daerah mereka.

Menurut survei ini, masyarakat cenderung pasrah dan melihat bencana alam sebagai takdir yang tidak bisa dihindari.

Tafsir ulang
Penelitian Oman Fathurrahman, Arief Rahman Hakim, dan timnya dari Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta baru-baru ini menemukan, konstruksi masyarakat, khususnya kalangan Muslim Nusantara, terhadap bencana sebagai sebuah takdir sangat dipengaruhi ortodoksi Islam yang berkembang sekitar abad ke-16, terutama dari Jal?l al-D?n al-Suy??? (1445-1505 M).

Al-Suy??? menulis karya berjudul Kashf al-?al?alah ’an wa?f al-zalzalah, yang bisa dianggap salah satu sumber Arab awal terpenting tentang tafsir gempa bumi. Isinya di antaranya adalah penjelasan bahwa gempa bumi adalah kehendak mutlak Tuhan. Karya ini lalu diringkaskan sekaligus dikomentari Isma’il al-’Ajluni (1162/kl. 1748), murid Al-Suy???, dalam karyanya Ta?r?k al-silsilah f?m? yata’allaq bi al-zalzalah, yang ditulis menyusul gempa yang beberapa kali terjadi di Syam Damaskus sepanjang tahun 1145/1732.

Dalam karyanya ini, Al-Suy??? menolak semua penjelasan terkait gempa bumi yang dikaitkan sebab alam. Ia lebih mengedepankan tafsir yang menekankan aspek kesalehan serta kepasrahan terhadap kehendak Tuhan.

”Tafsir Al-Suy??? ini sangat kuat pengaruhnya terhadap pemahaman masyarakat Muslim Nusantara terhadap bencana. Konsep Al-Suy??? ini banyak diadopsi manuskrip-manuskrip gempa,” kata Oman.

Menurut dia, jika makna bencana yang dipengaruhi tafsir Al-Suy??? ini masih dominan, budaya sadar bencana akan sulit terbangun di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, ia mendorong pentingnya melakukan tafsir ulang bencana dari perspektif yang lebih rasional.

Lagi pula, keyakinan masih memberi peluang mendorong orang agar lebih serius berusaha dan tidak menjadi fatalis. Salah satu dasar yang bisa dipakai, misalnya, adalah keberadaan konsep bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa mereka berupaya mengubahnya sendiri.

Oman mengingatkan, tafsir ulang bencana ini tidak harus menyekularisasi konsep bencana. ”Di satu sisi, kepasrahan terhadap Tuhan membuat masyarakat tidak berlarut-larut dalam suasana bencana,” ucapnya.

Sebagai perbandingan, sekularisasi konsep bencana di Jepang membuat korban bencana di sana banyak yang terus dihantui trauma. Bahkan, angka bunuh diri di Jepang dilaporkan meningkat signifikan setelah tsunami. Sebaliknya, di Aceh, masyarakat cenderung cepat pulih secara mental.

Laporan Japan Cabinet Office dan National Police Agency (2012), selama Mei 2011 atau sebulan pasca bencana, angka bunuh diri di Jepang 3.375 atau naik 20 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Penelitian Kesennuma City Hospital dan Tohoku University (Epilepsia, 2011) menemukan, delapan minggu pertama pasca tsunami, jumlah pasien di RS itu yang mengalami kejang-kejang berkaitan masalah mental mencapai 20 persen. Padahal, dalam periode sama selama 2008-2011 hanya 11 persen, 5 persen, dan 0 persen dibandingkan sebelumnya.

Bagaimana menyeimbangkan antara upaya keras memitigasi bencana dan sikap rendah hati menerima alam jika gagal setelah berupaya keras inilah tantangan besar agar ditemukan jalan keluarnya. Sebagai langkah awal, usaha itu bisa dimulai dengan memasukkan variabel sosial dan budaya dalam penanganan bencana sehingga tidak semata-mata berorientasi pada proyek fisik.

Oleh: Ahmad Arif

Sumber: Kompas, 29 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: