Home / Artikel / Bersama Roza 10 Tahun Lalu

Bersama Roza 10 Tahun Lalu

Pada awal 2014 seorang rekan menelepon saya. Ia mengabarkan ada yang ingin menerbitkan buku peringatan 10 tahun tsunami di Aceh dan penulisnya berencana memuat pengalaman orang yang terkait langsung ataupun tak langsung dengan korban.


Saya bisa disebut sebagai korban tidak langsung tsunami. Namun, peristiwa itu benar-benar menimbulkan depresi luar biasa. Saya kehilangan anak bungsu, Roza (39), serta dua cucu: Maurin (6) dan Tazkia (2). Saya tidak berkomentar terhadap permintaan itu. Dalam batin saya bertanya mengapa bukan suami dan anaknya yang masih ada saja yang diwawancarai. Untunglah telepon itu tidak ada kelanjutannya.

Telepon duka
Sepuluh tahun lalu, empat hari sesudah tsunami terjadi, saya menerima telepon dari salah seorang keluarga Mahdi yang tinggal di Jakarta. Mahdi adalah suami Roza. Sanak keluarga itu mengabarkan, Roza menjadi korban tsunami beserta anak-anaknya.

Sebagai ayah Roza, saya dimintai pendapat apakah jenazahnya akan dimakamkan di Bogor, tempat tinggalnya. Saya tegas menjawab, memohon bantuan yang ada di sana untuk segera memakamkan sesuai dengan syariat agama. Tidak perlu membawanya pulang ke Bogor.

Roza baru 10 tahun mengabdikan diri di Aceh. Ia menjadi anggota staf pengajar di Universitas Syiah Kuala Darussalam sesudah menyelesaikan program PhD di Oregon State University (OSU). Ia menikah dengan Mahdi yang baru dikenalnya dan bersama-sama studi pascasarjana di OSU. Mahdi adalah warga Banda Aceh, anggota staf pengajar di Universitas Syiah Kuala Darussalam. Ia meraih gelar magister di OSU dan gelar doktor diraih kemudian di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Roza beberapa hari sebelum hari Minggu kelabu itu berada di Bogor bersama suaminya. Sehabis menyeminarkan laporan kemajuan risetnya di Jakarta, Roza mampir menengok saya sebelum kembali ke Banda Aceh.

Riset dengan rencana penelitian dua tahun itu mengenai simulasi kemunduran benih yang disimpan dalam penyimpanan yang disebut deteriorasi dalam periode simpan. Ia berupaya menemukan model matematika simulasinya atas metode devigorasi cepat secara kimiawi yang saya temukan sebagai ilmuwan benih tanaman.

Saya banyak membantu pelaksanaan penelitian ini, juga penyimpanan benih terbuka selama setahun, di Laboratorium Teknologi Benih IPB. Roza akan menganalisis datanya dengan tujuan akhir bisa menemukan modelnya. Ia bahkan berencana berangkat ke Oregon mendiskusikannya dengan mantan promotornya di OSU. Namun, baru di tengah perjalanan riset, Allah menghendaki lain.

Sabtu pagi Roza kembali ke Banda Aceh. Keesokan harinya, Minggu 26 Desember 2004, dia tewas diterjang gelombang tsunami. Saya tak menyangka sama sekali bahwa perpisahan dengan Roza saat itu merupakan perpisahan terakhir kami sebagai ayah dan anak. Saya hanya mengantarkan kepergian Roza di teras rumah, di bawah derasnya hujan.

Suaminya, Mahdi, yang saat itu menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala Darussalam, bisa pulang ke Banda Aceh bersama Roza. Mahdi pagi itu berangkat dengan mobil Laboratorium Teknologi Benih ke terminal bus Damri lebih dulu karena harus menjemput temannya. Roza diantar kakaknya, Elza, dengan mobil suaminya, Arif.

Malam sebelumnya saya masih menyaksikan Roza mengemas bawaan sekoper penuh dengan berbagai bingkisan untuk ketiga anaknya dan segenap handai tolan di Banda Aceh. Ia senang bisa menemukan pesanan Maurin, anaknya yang baru masuk sekolah dasar, berupa kaus dengan gambar boneka kesayangannya, Gorby.

Pada Sabtu sore, Roza menelepon, menceritakan kegembiraan bertemu dengan anak-anaknya sesudah seminggu berpisah. Saya sempat menanyakan rencana menyapih anak bungsunya, Tazkia. Roza dengan ketawa-tawa menjawab bahwa gara-gara digoda kakak-kakaknya, Tazkia pun menjadi ingat. Bahkan, saat masih berada dalam mobil yang menjemput ke bandara, ia sudah kembali minta ASI. Gagallah usaha menyapih si bungsu.

Waktu itu Roza hanya sendirian karena suaminya berhenti di Medan untuk urusan dinas, dan selamatlah Mahdi dari hantaman tsunami. Tinggallah Mahdi sekarang bersama anak sulungnya, Luthfi, yang selamat karena bisa mendapatkan kasur untuk pegangan sampai mendarat di atap rumah orang. Luthfi ditemukan di tempat pengungsian di luar Banda Aceh.

Mengguncang jiwa
Ayah-ibu Mahdi dan dua adik perempuannya, juga adik ipar dan dua anaknya, tewas diterjang tsunami. Suatu tragedi yang sangat mengguncangkan jiwa Mahdi dan juga saya, mertuanya.

Sejak itu saya seperti tutup buku untuk keilmuan sesudah 40 tahun mengembangkannya di IPB. Setahun kemudian saya selesai dengan tugas membimbing kandidat doktor (S-3) kesepuluh terakhir. Usaha saya tinggal menulis buku dan berhasil menyelesaikan beberapa. Buku terakhir yang saya terbitkan bertepatan perayaan ulang tahun ke-80 pada 2011.

Manusia memang perlu bersyukur apabila menemui kebahagiaan. Namun, sebaliknya manusia harus bisa banyak pasrah dan mengikhlaskan jika mengalami kehilangan. Semua itu hanya karena Allah semata.

Dengan menahan air mata, saya hanya bisa pasrah jika mengenang kedekatan Roza dengan almarhumah mamanya. Saya sering membayangkan Roza tidur di sofa dengan kepala di pangkuan mamanya, yang masih berlangsung meski ia sudah menikah dan punya anak.

Ternyata Roza menyusul empat tahun sesudah kepergian mamanya.

Semoga Allah mempersatukan mereka di sisi-Nya.

SJAMSOE’OED SADJAD, Guru Besar Emeritus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Sumber: Kompas, 26 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: