Home / Berita / Belajar Yes, Main Yes

Belajar Yes, Main Yes

Mereka baru duduk di bangku SMA, tapi sudah bisa mengerjakan materi soal untuk mahasiswa S-1, S-2, bahkan S-3. Tidak heran jika mereka bisa juara di ajang olimpiade nasional hingga internasional. Apakah hidup mereka hanya dihabiskan untuk belajar? Kapan mainnya?

Ruang Laboratorium Kimia SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta, seperti ruang bermain buat Arief Muhammad Firdaus (18). Botol-botol berbagai bahan kimia bertebaran di kiri dan kanannya. Dia menyusun peralatan, memanaskan zat kimia, dan mempersiapkan segala sesuatunya seorang diri.

KOMPAS/STEFANUS OSA TRIYATNA–Pembahasan materi fisika dilakukan dalam diskusi di Kelas Olimpiade Fisika di SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, Banten, Jumat (4/5). Berbagai persoalan diajarkan, antara lain, mengenai teori mekanika. Jumlah siswa yang mengikuti program kelas brilian ini pun sangat terbatas.

Sabtu (5/5/2018), ia berlatih praktikum sebelum masuk karantina Pelatnas Olimpiade Sains Internasional untuk pelajaran Kimia. Ia adalah salah satu dari delapan peserta pelatnas yang tersisa. Dari delapan orang peserta pelatnas, hanya empat yang akan dipilih untuk mewakili Indonesia. Untuk masuk pelatnas itu bukan hal mudah. Arief harus bersaing dengan siswa-siswa dari sekolah lain.

“Hari ini persiapan mau latihan bikin benzoin. Suatu zat kimia yang dihasilkan dari bahan benzaldehid, dengan teknik pemanasan teknik refluks. Proses akhirnya menghasilkan kristal kuning yang disebut benzoin,” cerocos Arief menjelaskan materi praktiknya yang terdengar rumit.

Peraih nilai sempurna untuk pelajaran Kimia pada Ujian Nasional ini melanjutkan, “Itu baru tahap pertama. Kalau dilanjutkan sampai tahap empat, misalnya, bisa menghasilkan zat yang disebut dilantin. Itu bahan untuk obat epilepsi.”

Arief adalah satu dari sejumlah siswa di SMAN Unggulan MH Thamrin yang berhasil mengharumkan nama sekolah, kota, provinsi, hingga Indonesia. Di OSN tingkat nasional tahun lalu, Arief meraih medali perunggu bidang kimia.

KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS–Arief Muhammad Firdaus (18), siswa yang baru saja menyelesaikan UN di SMAN Unggulan MH Thamrin, sedang praktikum di laboratorium Kimia sekolahnya, Sabtu (5/5/2018) siang. Peraih medali perunggu bidang Kimia di Olimpiade Sains Nasional 2017 bersiap mengikuti pelatnas Olimpiade Sains tingkat internasional.

Untuk mencapai prestasi itu, Arief harus belajar mati-matian karena sekolahnya menerapkan tiga kurikulum sekaligus, yakni kurikulum Nasional, Cambridge, dan Olimpiade. “Pelajaran tiga tahun diringkas jadi 1,5 tahun. Jadi, harus belajar rajin, apalagi kurikulum Olimpiade materinya seperti materi untuk (mahasiswa) S-2,” ucap Arief.

Di awal-awal sekolah, tidak jarang Arief begadang untuk mengulang pelajaran. “Dulu sekali pernah belajar tidak kenal waktu, eh tau-tau sudah subuh. Dibanding terlambat (ke sekolah) mending tidak tidur. Tapi nyesel sih. Di kelas sudah kayak celeng, pusing,” ceritanya Arief yang telah diterima sebagai mahasiswa baru di ITB lewat jalur SNMPTN.

Langganan juara
Fernando (15), siswa Kelas X IPA SMA Sutomo 1 Medan, juga sedang mempersiapkan diri untuk ikut Pelatnas Olimpiade Sains Internasional bidang geografi di Jakarta. Ia masuk sembilan besar kandidat yang akan mewakili Indonesia di Olimpiade Geografi Internasional tahun ini.

Sejak SMP, Fernando sudah menjuarai olimpiade geografi tingkat nasional. Ia mengaku biasa belajar geografi hingga tengah malam saking sukanya. Padahal untuk pelajaran lainnya dia biasa belajar dengan sistem kebut semalam.

Ketika masuk SMA Sutomo 1 Medan, ia ikut ikut kegiatan ekstra kurikuler geografi seminggu dua kali sepulang sekolah. Satu kelas hanya berisi 8-9 orang. Ia juga terhubung dengan grup kakak kelas yang pernah menjuarai olimpiade. “Dari situ kami banyak belajar,” katanya.

Orangtua Fernando menyokongnya dengan membelikan buku-buku terkait geografi. Dari situ, kesenangan Fernando pada geografi makin menjadi.

Iklim di SMA Sutomo 1 Medan memang menunjang bagi siswa yang ingin berprestasi di bidang tertentu. Sekolah memberikan kelas tambahan pada anak-anak yang berbakat. Hasilnya, SMA itu langganan juara di ajang olimpiade nasional maupun internasional. Dalam 16 tahun terakhir, lebih dari 100 medali olimpiade nasional dan internasional direbut siswa-siswa SMA ini.

Kelas Brilian
SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, Banten juga mendorong siswa-siswa cerdas untuk mencetak prestasi membanggakan. Sekolah itu membentuk Brilliant Class yang terdiri dari Kelas Olimpiade Biologi, Kelas Olinpiade Matematika, dan Kelas Olimpiade Kimia. Masing-masing kelas hanya diisi 2-5 siswa.

KOMPAS/STEFANUS OSA TRIYATNA–Empat siswa sedang membahas materi fisika di Kelas Olimpiade Fisika di SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, Banten, Jumat (4/5/2018). Kelas ini dirancang untuk melahirkan juara olimpiade nasional maupun internasional.

Mereka antara lain Christopher Suhamdy (peraih medali perunggu Olympiade Sains Nasional Fisika 2017), Mario Lorenzo (periah medali perak Olimpiade Kimia Internasional 2017), Otto Alexander Sutianto (peraih medali perunggu Olimpiade Matematik Internasional 2017), Ferris Prima Nugraha (peraih peraih emas Olimpaide Fisika Internasional 2017), dan Jane Carolyne (juara pertama LKIR 2017) yang sedang bersiap ikut kompetisi di AS.

Dewi Widiananda, Koordinator Brilliant Class BPK Penabur Gading Serpong, menjelaskan, anak-anak yang masuk Kelas Brilian memang diseleksi ketat. “Ada tes psikologi, wawancara, tes logika dan tes batasan IQ,” kata Dewi.

Seleksi mesti dilakukan karena siswa di Kelas Brilian harus bisa mengikuti materi pelajaran yang setara dengan materi untuk mahasiswa S-1 dan S-2. Setiap kelas diasuh guru pendamping khusus antara lain dari LIPI, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), dan STKIP Surya. Jumat (4/5/2018), Imaduddin Ammarsyah Burhan, guru dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, mendamping Kelas Olimpiade Biologi mengatakan, materi untuk olimpiade sains biasanya banyak menggunakan ilmu-ilmu baru. Misalnya, perkembangan teknik rekayasa genetik terbaru. Nah, materi seperti itu diberikan ke siswa Kelas Brilian.

Lewat Kelas Brilian, SMAK BPK Penabur Gading Serpong mencetak banyak juara olimpiade nasional maupun internasional. Foto-foto para juara itu dipampang di beberapa bagian sekolah.

Jago matematika
Poster besar berisi ucapan selamat kepada Muhammad Surya Siddiq (16) masih terpampang di dinding dekat pintu masuk MAN 2 (Eks MAN 3) Malang, Jawa Timur. Siswa Kelas X IPA 8 itu baru saja merebut medali emas di ajang Hanoi Open Mathematics Competitions/HOMC 2018 di Hanoi, Vietnam, akhir Maret lalu.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO–Muhammad Surya Siddiq, Siswa MAN 2 Malang pemenang medali emas olimpiade matematika di Hanoi.

Ini bukan medali pertama yang direbut Siddiq. Sejak Kelas 1 SD hingga masuk SMA, sudah banyak medali yang ia rebut dari ajang kompetisi matematika internasional, antara lain di Malaysia, Singapura, Korea, Australia, dan India.

Siddiq mengaku senang belajar matematika sejak kecil. “Ada kepuasan saat bisa memecahkan soal. Kadang tidak selalu berhasil pada percobaan pertama. Saya bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk menghitung. Tapi itulah matematika, seninya di situ,” kata Siddiq.

Di MAN 2, Siddiq masuk Kelas Olimpiade yang dibentuk sejak 2008. Kelas itu hanya berisi 28 siswa cerdas yang disiapkan untuk ikut berbagai ajang olimpiade internasional. “Mereka yang bisa masuk kelas ini adalah siswa dengan nilai matematika dan bahasa Inggris minimal 85. Setelah itu masih dites lagi hingga tersisa 28 siswa,” kata Ketua Program Olimpiade MAN 2 Malang Wulaida.

Bersama siswa lainnya ia digembleng tidak cuma matematika, tapi juga pelajaran lain yang dilombakan dalam olimpiade. Mereka tidak hanya belajar di dalam ruangan. Setiap sore, misalnya, Siddiq dan kawan-kawan belajar matematika di gazebo mulai pukul 15.00 sampai 17.30. “Kadang materi, kadang latihan soal. Pelajaran lain, seperti fisika dan kimia ada praktikum. Kalau untuk astronomi, belajarnya kadang sampai tengah malam,” katanya.

Sains Club
SMAN 8 Jakarta Selatan memilih membuat Sains Klub untuk mewadahi anak-anak cerdas dan berbakat. Tidak ada kelas khusus untuk menyiapkan siswa yang akan ikut olimpiade. “Mereka semua belajar di kelas regular. Tetapi kami ada Sains Klub semacam ekstra kurikuler. Disitulah anak-anak itu belajar,” tutur Waridin, Humas SMAN 8.

ARSIP PRIBADI–Kevin Kanaka Swargoputra, siswa SMAN 8 Jakarta, pemenang Olimpiade Biologi Nasional 2017. Ia baru lulus dari SMAN 8 dan telah diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2018.

Para siswa yang berminat belajar lebih dalam tentang sains dan bidang tertentu seperti geografi, ekonomi, kebumian, komputer dibimbing para alumni SMAN 8 yang pernah meraih medali di OSN. “Klub itu hanya berkegiatan tiap Sabtu, tetapi kalau menjelang lomba bisa menambah kegiatan belajar setelah pulang sekolah. Namun pihak sekolah hanya memberi waktu kepada siswa untuk belajar di sekolah hingga pukul 17.00 saja,” tambah Waridin.

Lewat Sains Klub SMA, 11 siswa merebut sejumlah medali di berbagai ajang olimpiade nasional dan internasional sejak 2014-2017. Tahun lalu, siswa SMAN 8 Fadlan Ramadhan Sahid meraih medali perunggu pada Olimpiade Geografi Internasional di Belgrade, Serbia.

Sementara itu, M Firman Nuruddin (17), siswa SMA Taruna Nusantara, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, banyak belajar dari alam. Firman yang berasal dari Dusun Karangrejo, Desa Kedungsari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, biasa mengamati sampah berupa dedaunan kering.

KOMPAS/REGINA RUKMORINI–M Firman Nuruddin, SMA Taruna Nusantara, Kabupaten Magelang, yang memenangi emas di ajang International Conference of Young Scientist (ICYS) 2018 untuk kategori Environmental Science, di Belgrad, Serbia.

Dari kebiasaan mengamati, ia bisa membuat sebuah inovasi yang berhasil memenangi emas di ajang International Conference of Young Scientist (ICYS) 2018 untuk kategori Environmental Science, di Belgrad, Serbia. Inovasinya adalah membuat teknologi listrik tenaga surya dengan memakai bahan pewarna dari limbah dedaunan.

Main “Yes
Meski rajin belajar, anak-anak cerdas itu tidak melupakan main. Mario, siswa Kelas Brilian SMAK BPK Penabur Gading Serpong mengaku belajar di sekolah mulai pukul 07.00-16.00. Setelah itu ia menyempatkan diri bermain, terutama bola basket. “Belajar intenasifnya sekitar empat jam saja,” katanya.

Teman sekolah Mario, Jane, mengisi waktu usai belajar dengan menonton drama Korea. Sementara itu, Christopher lebih senang main games.

Siddiq yang wajahnya serius mengaku bukan kutu buku. Seperti anak sekolahan lainnya, ia selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama teman-teman, pergi ke mal, baca novel, dan nonton film. “Belajar sedikit-sedikit saja yang penting konsisten,” ujar Siddiq.

Sementara itu, Kinantan Arya Bagaspati (17), siswa KElas XI SMA Taruna Nusantara, Magelang yang meraih medali perunggu pada Olimpiade Matematika Internasional 2017, biasa membawa bola setiap ikut lomba. “Setelah selesai mengerjakan soal kompetisi, sambil menunggu hasil, Kinantan bersama teman-temannya langsung bermain bola. Kalau lupa bawa bola, mereka akan buat permainan lain atau bikin bola sendiri,” tutur Dewi di Purwokerto.

Rajin belajar harus, tapi jangan lupa main biar hidup kita bahagia. (OSA/EGI/WSI/TRI/TIA/JAL/*)

Sumber: Kompas, 18 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: