Home / Berita / Belajar Sejarah Itu Menyenangkan

Belajar Sejarah Itu Menyenangkan

”Orang-orang di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menyebut kami anak Jakarta yang cinta budaya. Rasanya, bangga,” kata Adi Victory, mahasiswa Komunikasi Universitas Esa Unggul. Adi bersama temannya, Dedek Maniati dan Firdaus, memenangi lomba Visualisasi Kesejarahan dan Nilai Budaya.


Film berjudul Caci dari Tanah Congkasae mengantarkan mereka sebagai pemenang kategori film dokumenter dalam ajang yang digelar Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu.

Caci ialah suatu ekspresi budaya tradisional berupa tarian perang khas Manggarai. Itu semacam tarian adu ketangkasan antara dua lelaki dengan gerakan mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tarian caci merupakan kombinasi antara keindahan gerak tubuh dan kostum, seni suara, dan ketangkasan. Caci berasal dari dua kata, ca yang berarti satu dan ci yang berarti lawan.

Setelah membaca mengenai caci di internet, Adi, Dedek, dan Firdaus pun tertarik. ”Bermula dari iseng sewaktu mencari tarian yang hampir punah. Eh, ada caci. Menarik. Silaturahim, tetapi pecut-pecutan. Ini unik,” ujar Firdaus.

Ketiganya lantas melakukan riset kecil, misalnya bertanya kepada teman-teman kampus. Ternyata, banyak orang tidak mengetahui tarian itu, termasuk orang Flores. ”Akhirnya, kami sepakat mendokumentasikan caci, sekalian memperkenalkan tarian itu. Sampai ke Kampung War di Desa Ndoso, Manggarai, warga di sana menyambut baik,” ujar Adi.

Mereka mengambil gambar selama sepuluh hari dengan menggunakan kamera SLR Cannon 7D dan 550 D. Untuk urusan perekaman gambar, Adi, Dedek, dan Firdaus tidak kesulitan karena mereka kuliah di Jurusan Penyiaran. Namun, ketiganya merasa minim pengetahuan sejarah. Bahkan, sebelumnya, tertarik pun tidak. Bagi mereka, sejarah itu membosankan.

Apa yang terjadi selama proses pengambilan gambar telah mengubah pandangan Adi, Dedek, dan Firdaus. Banyak hal bisa dipelajari dari sejarah, terutama nilai-nilai budayanya. ”Sejarah itu tidak selalu membahas masa lalu. Banyak nilai yang bisa diambil untuk masa depan. Sekarang ini, kehidupan anak muda Jakarta sudah mulai terkikis dalam hal kebudayaannya,” tutur Adi.

Pemahaman senada dirasakan Muhammad Apriyanto, yang bersama dua temannya, Ai Santineu dan Retno Galih, membuat film dokumenter berjudul Mbok Mase Laweyan. Film itu menjadi juara kedua. Mahasiswa UNS Surakarta itu melihat sejarah sebagai sesuatu yang menarik ketika meriset dan mewawancarai para Mbok Mase di Laweyan.

Mbok Mase ialah sebutan untuk juragan atau majikan batik yang ada di kampung Laweyan, Solo. Mereka sangat dominan dan menjadi simbol kekuatan perempuan dalam perekonomian sejak abad ke-15. ”Kita bisa juga bisa belajar tentang wirausaha,” kata Apriyanto.

Menggali
Setelah mengulik sejarah Mbok Mase Laweyan, Apriyanto juga belajar batik, etos kerja, dan peran perempuan. Perempuan tidak hanya manak (beranak) dan macak (bersolek), tetapi punya dominasi di dunia usaha. Kisah dalam sejarah itu pun banyak yang baru diketahui dan itu mendorongnya bekerja keras mencari data.

”Baru tahu kalau dulu perdagangan di Solo itu lewat sungai. Akhirnya, asyik sendiri cari data lewat foto dan arsip ke perpustakaan daerah, datang ke Museum Samanhudi. Belajar sejarah jadi menarik,” ujar Retno.

Pemenang ketiga kategori komik, Iga Nur Ramadhani, juga melakukan riset untuk komiknya, Senopati Awang Long. Mahasiswi Politeknik Negeri Samarinda itu mendatangi makam Awang Long, beberapa museum, perpustakaan, dan wawancara ahli sejarah. ”Ternyata perjuangan Awang Long ini sangat luar biasa,” katanya.

Pengalaman Adi, Firdaus, Apriyanto, dan kawan-kawannya itu berbeda dengan Sayyid Basunindyo, juara pertama lomba komik, yang memang mahasiswa Jurusan Sejarah UNS Surakarta. Beruntung, Sayyid jago menggambar sehingga pengetahuan dan kecintaannya kepada sejarah dapat ditumpahkan dalam wujud komik.

”Sebagai mahasiswa sejarah, saya juga berupaya mengajak teman-teman untuk juga mencintai sejarah. Dari sejarah,
kita bisa belajar banyak hal, kebudayaan dan hidup,” tutur Sayyid.

Dalam komiknya, Batavia 1628-1629, Sayyid mengimajinasikan sosok karakter dan tokohnya sesuai dengan namanya. Tokoh Tumenggung Bahurekso, misalnya, digambarkan dengan bahu besar. Untuk tokoh Upasanta, Sayyid menggambarkannya berpostur tambun. Upa dalam bahasa Jawa, berarti nasi. Nah, ketika berpadu kreativitas, belajar sejarah pun menyenangkan. (Susi Ivvaty)

Sumber: Kompas, 6 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: