Belajar dari Taiwan; Sampah untuk Pembangkit Listrik

- Editor

Selasa, 29 November 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPAH telah menjadi masalah utama di masyarakat modern. Tingkat produksi sampah meningkat cukup drastis, sementara tuntutan akan peningkatan kualitas kesehatan semakin bertambah.

Usaha-usaha untuk mengurangi produksi sampah terus dilakukan, namun demikian, menghilangkan sampah sama sekali merupakan sesuatu yang mustahil. Karena itu, pengelolaan sampah menjadi kunci penting dalam pembangunan berkelanjutan, apalagi dengan memanfaatkan sampah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah dengan mengkonversinya ke dalam bentuk lain, seperti energi atau listrik.

Beberapa waktu lalu penulis berkesempatan mengikuti sebuah workshop di Taiwan dan kemudian mengunjungi salah satu pembangkit listrik berbahan bakar sampah di negara tersebut. Pembangkit listrik itu diberi nama dengan Bali Incinerator Plant.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari namanya, sangat mirip dengan Pulau Bali yang juga sangat terkenal di negara kita. Penulis pun sempat bertanya-tanya, jangan-jangan ada hubungannya dengan Bali-nya Indonesia. Namun ternyata tidak ada hubungannya sama sekali. Itu adalah nama sebuah tempat di bagian pantai barat Taiwan yang berjarak sekitar 50 km dari Ibu Kota Taipei.

Sekilas dari kejauhan bangunan ini tidak menampakkan sebagai tempat pengolahan sampah, tetapi lebih mirip sebagai perkantoran atau bahkan mungkin pusat perbelanjaan. Struktur pembangkit keseluruhan didesain dengan dinding luar yang terbuat dari konstruksi panel aluminium dan kaca. Ketinggian bangunan ini mencapai 60 meter dan cerobongnya menjulang setinggi 150 meter yang tampak seperti sebuah menara. Bangunan pembangkit ini didesain oleh IM Pei, seorang arsitek yang sangat terkenal di Amerika. Area tempat pengumpulan sampah diletakkan pada sisi timur pembangkit dengan ketinggian 13 meter. Truk-truk pengangkut sampah diatur untuk mendapatkan akses ke area tersebut.

Kapasitas

Pembangkit listrik ini mulai beroperasi tahun 2001, awalnya hanya sebuah insinerator sampah biasa, tetapi kemudian berubah menjadi pembangkit listrik dengan memanfaatkan panas dari pembakaran di insinerator untuk menghasilkan uap dan kemudian uap tersebut digunakan untuk menggerakan turbin.
Luas area pembangkit ini sekitar 3,5 hektare dengan luas bangunan mencapai 1,8 hektare dan mempunyai kapasitas penampungan sampah 1350 ton per hari. Jumlah tersebut adalah hasil pengumpulan sampah dari kota-kota di sekitar pembangkit.

Sistem yang digunakan adalah insinerator yang berjumlah tiga unit dengan sistem pencampuran mekanis yang bisa bekerja penuh selama 24 jam. Tiap unit didesain untuk dapat membakar 450 ton sampah per hari. Listrik dibangkitkan dengan memanfaatkan panas keluaran insinerator melalui tiga boiler yang memproduksi uap panas untuk kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin dan putaran yang dihasilkan dari turbin digunakan untuk memutar generator listrik.

Pembangkit ini dilengkapi dengan bunker yang dapat menampung 16.200 m3 sampah. Secara keseluruhan, ada 14 pintu penampungan sampah, 11 pintu untuk pembuangan sampah pada umumnya, dan 3 lainnya untuk pembuangan sampah dengan ukuran besar seperti furniture dan lain-lain. Setelah pembakaran, jumlah sampah dapat berkurang sangat drastis menjadi hanya dua puluh persen berat atau sepuluh persen volume.

Pada kondisi normal, pembangkit ini mampu membangkitkan listrik sebesar 35 MW atau lebih dari 800 ribu KWH per harinya. Dengan pengurangan untuk kebutuhan operasional pembangkit, maka pembangkit ini dapat menyalurkan listrik lebih dari 21 ribu KWH per bulan atau 260 ribu KWH per tahun. Listrik sebanyak itu bisa memberikan pelayanan kepada 160 ribu pelanggan atau sekitar 40 ribu rumah.

Tempat Wisata

Untuk menangani polusi yang dihasilkan dari proses pembakaran di insinerator, maka pembangkit ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang terdiri dari tiga alat utama, antara lain unit pengolahan gas buang dan unit pengolahan limbah cair. Unit pengolahan gas buang berfungi untuk mengurangi gas asam dan partikulat yang ada di gas buang. Unit ini terdiri dari pemisah debu dengan sistem siklon, scrubber semi-kering dan fabric filter baghouse. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa keluaran gas memenuhi regulasi yang ditetapkan pemerintah setempat.

Yang menarik dari pembangkit ini adalah dijadikannya pembangkit listrik ini sebagai tempat wisata edukasi bagi siswa-siswi tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan dalam dua tahun, pengunjungnya telah mencapai 19 ribu orang, sehingga masyarakat diperkenalkan metode pengolahan sampah ini sejak usia dini.

Tempat ini juga dijadikan area untuk syuting video klip, iklan dan sinetron. Harapannya suatu saat Indonesia akan mempunyai sistem pembangkit seperti ini yang berfungsi ganda, tidak hanya untuk penanganan sampah, tetapi juga untuk menghasilkan listrik, sekaligus sebagai wahana pendidikan bagi para siswa.
Pemerintah daerah sebagai ujung tombak pengelolaan sampah sudah saatnya untuk memikirkan, merencanakan dan kemudian mengimplementasikan teknologi semacam ini. (24)

M Syamsiro, Pengajar di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta

Sumber: Suara Merdeka, 28 November 2011

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 41 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:27 WIB

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB