Home / Berita / Bekantan Terdesak dari Habitatnya

Bekantan Terdesak dari Habitatnya

Seekor bekantan (Nasalis larvatus) kembali harus dievakuasi dan direhabilitasi akibat terdesak dari habitatnya. Primata endemik Kalimantan yang dilindungi itu mengalami stres berat saat ditemukan di sebuah kompleks perumahan mewah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (2/7) malam.

“Tidak hanya stres berat, bekantan jantan itu juga mengalami luka lecet di wajahnya. Maka, harus direhabilitasi dulu sebelum dilepasliarkan,” kata Ketua Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Amalia Rezeki di pusat rehabilitasi bekantan yang dikelola SBI di Banjarmasin, Senin.

Menurut Amalia, bekantan itu terdesak dari habitatnya sehingga masuk permukiman warga. Hal itu biasa terjadi karena bekantan ingin berpindah dari habitat sebelumnya untuk mencari daya dukung pakan di habitat baru.

“Alih fungsi lahan serta kebakaran hutan dan lahan sering kali membuat bekantan terdesak dari habitatnya. Ini adalah bekantan ke-30 yang kami evakuasi sejak 2014,” ungkapnya.

Dari 30 bekantan yang dievakuasi dan direhabilitasi selama ini, sebanyak 20 ekor sudah dilepasliarkan di kawasan konservasi Pulau Bakut, Kabupaten Barito Kuala. Selebihnya masih dirawat di pusat rehabilitasi dan beberapa di antaranya mati akibat luka parah.

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS–Ketua Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Amalia Rezeki memberi makan seekor bekantan (Nasalis larvatus) di pusat rehabilitasi bekantan yang dikelola SBI di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (3/7). Primata endemik Kalimantan yang dilindungi itu dievakuasi dari kompleks perumahan mewah di Banjarmasin pada Minggu malam. Bekantan jantan itu mengalami stres berat akibat terdesak dari habitatnya sehingga harus menjalani perawatan intensif sebelum dilepasliarkan.

“Kami mengajak masyarakat untuk peduli pada pelestarian bekantan. Setiap warga yang menemukan bekantan terdesak dari habitatnya diharapkan menghubungi kami supaya bisa segera ditangani,” ujar Amalia.

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel menunjukkan, populasi bekantan di Kalsel pada 2007 diperkirakan 5.010 ekor. Populasinya cenderung turun akibat deforestasi dan alih fungsi hutan, perburuan, perdagangan satwa, serta kebakaran hutan dan lahan.

Kepala BKSDA Kalsel Lukito Andi mengatakan, pihaknya berupaya meningkatkan populasi bekantan di kawasan konservasi sebesar 10 persen dalam 5 tahun, hingga 2020. Kawasan konservasi bekantan berada di Pulau Bakut, Pulau Kembang, Pulau Kaget, dan Kuala Lupak. Semua kawasan konservasi itu terletak di wilayah Barito Kuala. (JUM)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Bekantan Terdesak dari Habitatnya”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: