Bedah Komunikasi Terdistorsi

- Editor

Senin, 12 Mei 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peradaban tetap diwarnai kekerasan secara individual maupun kelompok. Itu dipengaruhi komunikasi yang terdistorsi atau menyimpang. Filsafat dapat digunakan untuk membedah persoalan komunikasi tersebut.

”Hermeneutika kritis yang dikembangkan Habermas penting untuk sebuah analisis maupun refleksi kritis terhadap peristiwa seperti kekerasan di tengah masyarakat,” kata pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, F Budi Hardiman, dalam acara Kelas Filsafat: Seni Ketaksepahaman: Hermeneutika Bultmann, Habermas, Ricoeur, dan Derrida, Sabtu (10/5), di Serambi Salihara, Jakarta. Kelas filsafat tersebut diikuti masyarakat umum.

Budi menitikberatkan pada hermeneutika kritis yang dikembangkan Habermas. Dia mengatakan, kesadaran palsu dalam kelompok-kelompok masyarakat menimbulkan perilaku agresif dan destruktif secara sengaja serta terencana, contohnya teroris pelaku bom bunuh diri dan sebagainya. ”Tuturan dan perilaku mereka tidak dihasilkan akal sehat, tetapi oleh efek indoktrinasi ideologis sehingga memiliki kesadaran palsu,” kata Budi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasus psikopatologis, kata Budi, juga merupakan kasus distorsi komunikasi yang sistematis karena pasien salah memahami diri. Begitu pula dengan kasus kelompok yang sudah terindoktrinasi sehingga menghasilkan kesalahpahaman komunikasi yang tidak disadari.

Menurut Budi, komunikasi sehari-hari kadang terdistorsi karena sudut pandang berbeda, ketidaktahuan, atau prasangka. Dengan menjelaskan informasi yang sebenarnya, distorsi komunikasi seperti itu segera dapat dihilangkan.

”Distorsi komunikasi dapat diselesaikan dengan dasar komunikasi berupa akal sehat. Namun, distorsi itu akan terus berlangsung sistematis ketika menjauhkan atau bahkan mengisolasi para pelaku dari akal sehat mereka,” kata Budi. Tugas seorang kritikus ideologi ialah menganalisis distorsi-distorsi komunikasi dan ketergantungan yang membuat suatu kelompok terhambat menuju kedewasaan.

Menurut salah satu peserta, Nuurul Fajar (19), mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia, filsafat dapat menjadi pengetahuan mendasar untuk memahami perkembangan masyarakat. ”Ini penting untuk memahami teks atau wacana yang berkembang,” kata Nuurul.

Peserta lainnya, seorang kolektor lukisan, Syakieb Sungkar, mengatakan, penting kemampuan menafsir suatu teks dan peristiwa baik pada masa kini maupun lampau. (NAW)

Sumber: Kompas, 12 Mei 2014

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 36 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB