Bau Planet Uranus Seperti Telur Busuk

- Editor

Sabtu, 28 April 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Studi terbaru terhadap planet Uranus menunjukkan atmosfer planet ketujuh dari Matahari itu mengandung hidrogen sulfida. Jenis gas ini banyak terdapat di lapisan awan bagian atas Uranus.

Gas hidrogen sulfida atau H2S ini terkenal karena baunya yang khas, seperti bau telur busuk. Gas ini banyak muncul dari selokan, saluran pembuangan limbah atau dari kawah gunung berapi.

Salah satu peneliti, Leigh N Fletcher, ahli keplanetan dari Universitas Leicester Inggris seperti dikutip Livescience, Senin (23/4), mengatakan komposisi atmosfer Uranus yang mengandung hidrogen sulfida membuatnya berbeda dengan kandungan atmosfer planet gas lainnya, yaitu Jupiter dan Saturnus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

LAWRENCE SROMOVSKY, UNIVERSITY OF WISCONSIN/W. M. KECK OBSERVATORY–Planet Uranus tampak berwarna biru akibat kandungan gas metana di atmosfernya.

Atmosfer Jupiter dan Saturnus didominasi oleh gas amonia. Amonia tersusun atas ikatan gas hidrogen dan nitrogen, sedangkan hidrogen sulfida terbuat dari ikatan hidrogen dan belerang (sulfur). “Selama pembentukan Tata Surya, keseimbangan antara nitrogen dan belerang itu ditentukan oleh suhu dan lokasi pembentukan planet,” katanya.

Hasil studi itu diharapkan akan mengakhiri perdebatan soal komposisi tepat atmosfer Uranus. Perdebatan itu muncul akibat terbatasnya instrumen yang sensitif.

GEMINI OBSERVATORY/AURA/JOY PALLARD–Teleskop Gemini Utara di Mauna Kea, Hawaii, Amerika Serikat.

Studi yang dipimpin Patrick GJ Irwin dari Departemen Fisika Universitas Oxford Inggris itu dilakukan menggunakan spektrometer jenis Near-Infrared Integral Field Spectrometer (NFIS). Spektrometer itu dilekatkan di teleskop Gemini Utara di Mauna Kea, Hawaii, Amerika Serikat yang berdiameter 8,1 meter.

Spektrometer NFIS dirancang untuk melihat sisi luar lubang hitam di galaksi-galaksi jauh hingga mengambil sampel cahaya Matahari yang dipantulkan di atmosfer bagian atas Uranus.

Namun dengan sensitivitas alat yang makin baik, para peneliti berhasil mengidentifikasi garis samar dari spektrum cahaya Uranus. Selama ini, spektrum hidrogen sulfida sulit dideteksi karena telah menyerap beberapa panjang gelombang cahaya Matahari. “Hanya sejumlah kecil hidrogen sulfida yang tersisa di awan bagian atas Uranus dalam bentuk uap jenuh,” katanya.

Selain kepastian tentang kandungan hidrogen sulfida di atmosfer Uranus, studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy, Senin (23/4) itu juga mengungkapkan kemungkinan adanya reservoir hidrogen sulfida dibawah lapisan awan Uranus. Namun, kondisi itu diluar kemampuan teleskop landas Bumi untuk bisa mendeteksinya.

Dengan adanya hidrogen sulfida itu membuat atmosfer Uranus makin tidak nyaman dan tidak mendukung kehidupan. “Jika ada manusia turun melalui awan Uranus, maka dia akan menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan dan berbahaya,” kata Patrick.

Saat manusia terpapar atmosfer Uranus, maka mereka bisa mati lemas karena suhu di atmosfernya mencapai minus 200 derajat celsius. Selain itu, sebagian besar kandungan atmosfernya berupa hidrogen, helium dan metana yang cukup untuk mematikan manusia. Seandainya manusia bisa hidup saat melalui atmosfer Uranus tersebut, mereka akan mencium bau tidak sedap dari hidrogen sulfida tersebut. (LIVESCIENCE/NATURE/MZW)–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 26 April 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 44 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru