Batasi Penggunaan Gawai pada Anak

- Editor

Jumat, 20 Oktober 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggunaan gawai pada anak usia sekolah harus dibatasi untuk mencegah gangguan mata akibat kesalahan refraksi. Selain itu, orangtua juga dianjurkan memeriksakan kesehatan mata anak secara rutin.

Ada beragam jenis gawai yang digunakan anak sekolah, tetapi yang paling sering digunakan adalah telepon seluler (ponsel). Ponsel sudah dimiliki anak-anak, bahkan sejak anak itu masih berada di sekolah dasar (SD).

“Bagi anak usia sekolah (maksimal 19 tahun), gawai memiliki banyak fungsi, selain sebagai alat komunikasi. Gawai bisa menjadi alat bantu belajar,” kata psikolog anak Sani B Hermawan dalam diskusi “Skrining Penglihatan Anak” di Jakarta, Kamis (19/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sani, yang juga menjadi Direktur Lembaga Daya Insani, menjelaskan, penggunaan gawai berlebihan oleh anak akan berdampak negatif secara psikologis ataupun fisik. Secara psikologis, komunikasi anak dengan orangtua atau orang sekitar akan berkurang. Prestasi anak menurun dan konsentrasi pun terganggu.

Gangguan penglihatan
Penggunaan gawai berlebihan juga memicu gangguan kesehatan mata pada anak. “Salah satu gangguan mata pada anak adalah kesalahan refraksi mata,” kata Optometris Anak Scarlett G Cacayuran.

Scarlett, yang juga anggota Asosiasi Optometris Filipina, mengatakan, kesalahan refraksi ialah kondisi cahaya yang diterima mata tak terfokus pada retina sehingga gambar kabur di retina. Refraksi terdiri atas tiga jenis, yakni miopi, hiperopi, dan astigmatisme.

Miopi terjadi karena cahaya yang masuk ke mata berada di depan retina sehingga seseorang tak bisa melihat obyek yang jauh. Sementara hiperopi ialah gangguan penglihatan karena cahaya masuk jatuh di belakang retina sehingga obyek dekat tidak bisa tampak. Astigmatisme ialah pandangan kabur akibat kecacatan di kelengkungan lensa atau kornea.

Scarlett menambahkan, tanda awal gangguan mata pada anak antara lain kerap sakit kepala dan pandangan kabur. Selain itu, mata tampak sayu dan mengantuk saat melihat sinar terang atau membaca terlalu dekat, serta kerap mengucek mata dan mengeluarkan air mata berlebihan.

Gangguan mata pada anak usia sekolah di Indonesia belum diatasi secara maksimal. Data Kementerian Kesehatan tahun 2015 mencatat, dari 66 juta anak usia sekolah, 10 persen mengalami gangguan mata akibat kesalahan refraksi. “Kesadaran orangtua untuk memeriksakan anaknya yang mengalami gangguan mata rendah,” kata Pemimpin Utama PT Optik Tunggal Sempurna Alexander B Kurniawan.

Untuk itu, menurut Scarlett, perlu skrining penglihatan anak saat mereka berusia di bawah 14 tahun dengan mata normal setiap tiga bulan. Usia minimal periksa mata adalah 4 tahun. Bagi anak yang lahir prematur, pemeriksaan mata harus dilakukan sehari setelah dilahirkan karena belum memiliki fungsi mata sempurna.

Selain itu, perlu komunikasi yang baik antara anak dan orangtua terkait pengaturan pemakaian gawai pada anak. Pemakaian gawai pada anak harus dibatasi berdasarkan kesepakatan anak dan orangtua. (DD03)

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2017

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB