Home / Berita / Batan Siapkan Proyek Tempe

Batan Siapkan Proyek Tempe

Badan Tenaga Nuklir Nasional telah meresmikan dokumen proyek tempe yang melibatkan beberapa instansi serta organisasi internasional. Proyek ini merupakan kegiatan untuk mencapai swasembada kedelai. Proyek tempe yang dimulai pada tahun 2018 hingga 2022 ini merupakan wujud nyata dari pembicaraan bersama International Atomic Energy Agency terkait produksi pangan dari kedelai.

Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Totti Tjiptosumirat, Jumat (13/7/2018), di Jakarta, mengatakan, dokumen terkait proyek tempe (2018-2022) yang menjadi kerja sama antara Batan dan IAEA telah mencapai tahap akhir pada Kamis (12/7/2018). Proyek ini berawal ketika International Atomic Energy Agency (IAEA) berkunjung ke Batan tiga tahun lalu, mereka ingin mengetahui lebih lanjut terkait produk pangan yang dihasilkan dari kedelai terutama tempe.

KOMPAS/RYAN RINALDY–Pekerja menata tempe yang sudah dikemas di Rumah Tempe Srikandi Geneng, Desa Geneng, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat (5/4/2018).

“Tiga tahun lalu dengan adanya kegiatan pelepasan varietas tanaman pangan yang ada di Batan, IAEA tertarik dengan kedelai. Dari sinilah muncul pertanyaan-pertanyaan terkait proyek tempe yang ada. Seperti bagaimana proses produksinya serta penjualannya,” kata Totti.

Dalam laman www.batan.go.id disebutkan bahwa fokus utama proyek tempe adalah untuk mengintensifkan produksi kedelai dan turunan kedelai berkualitas tinggi, terutama tempe, menggunakan varietas kedelai yang ditingkatkan dan proses inovatif untuk produksi tempe yang lebih bersih dengan kandungan protein yang lebih tinggi.

Menurut Totti, selama ini kedelai masih menjadi tanaman selingan. Artinya, penanaman kedelai hanya sekali dalam setahun, yaitu di saat masa transisi penanaman padi. Hal ini membuat produksi kedelai rendah dan harga pun tinggi.

“Sebenarnya, pasokan kedelai lokal mampu memenuhi kebutuhan pangan. Namun, diperlukan tata kelola kedelai lebih lanjut. Mengenai data penggunaan benih serta berapa banyak yang kemudian berhasil dibenihkan kembali,” kata Totti.

Integrasi proyek
Untuk membuat proyek tempe ini berjalan lancar maka diperlukan adanya integrasi proyek dari para pemangku kepentingan. Dalam hal ini, pemangku kepentingan tersebut adalah IAEA dan Batan. Kedua lembaga inilah yang awalnya menginisiasi untuk mengintegrasi proyek-proyek tempe per sektoral menjadi satu kesatuan.

Selain itu, ada juga Kementerian Pertanian (Kementan) dan Food and Agriculture Organization (FAO). Kementan yang diwakili oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan selain bertugas untuk menyertifikasi varietas baru juga akan berperan dalam memasok dan memberikan pelatihan kepada para petani.

Untuk soal pemasaran hasil kedelai akan dilakukan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO). Kemenperin yang diwakili Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah akan memastikan hasil produksi kedelai tersebut akan digunakan oleh para pengrajin tempe khususnya IKM binaan Kemenperin.

Pada tahun 2018 akan dilaksanakan penetapan struktur kepanitiaan dan koordinator proyek. Pelaksanaan proyek pun akan dimulai pada 2019. Lokasi pertama yang akan dijadikan proyek percontohan adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah sekitar satu hingga dua tahun.

Tiga varietas kedelai
Pada awal proyek ini, petani akan menggunakan tiga varietas kedelai yaitu, Mutiara 1 dari Batan serta dua lainnya milik Kementan adalah Anjasmara dan Grobogan. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya aka nada penambahan varietas yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap daerah.

“Sementara ini kami menggunakan tiga varietas. Namun ketika nanti misalnya dibutuhkan penanaman dengan waktu kurang dari tiga bulan, maka kami akan menggunakan varietas Gamasugen yang umur panennya 67 hari,” kata Totti.

Penentuan lokasi ini didasarkan pada keberadaan dari keberadaan perwakilan dari Batan, Kementan, serta IKM binaan Kemenperin. Sehingga pelaksanaan dan pengawasan proyek percontohan ini dapat lebih lancar.

“Harapan dari proyek tempe ini, nanti Indonesia sudah swasembada kedelai. Pemanfaatan kedelai hasil produksi lokal pun dapat terserap oleh industri kecil menengah,” kata Totti.

Menurutnya, dampak dari kedua hal tersebut adalah Indonesia mampu mengekspor produk berkualitas yang berbahan dasar kedelai. Hal ini akan meningkatkan devisa negara. Pada sisi lain, impor pun akan menurun.

Dalam jangka panjang, apabila para petani sudah menggunakan kedelai lokal, maka perbaikan nutrisi pun dapat ditingkatkan. Totti pun mengatakan bahwa Batan sudah menguassai teknologi pengukuran pasokan nutrisi khususnya balita.

“Setelah ada produk pangan berbahan kedelai yang banyak dikonsumsi masyarakat maka Batan dapat melakukan pengukuran nutrisi. Maka nantinya kami juga akan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan,” kata Totti.

Mutiara 1
Kedelai varietas mutan unggulan teknologi isotop dan radiasi (Mutiara) 1 menjadi unggulan dari Batan. Kedelai Mutiara 1 ini merupakan hasil mutasi gen. Caranya, kedelai disinari oleh sinar Gamma dengan dosis yang sudah ditentukan.

Melalui mutasi gen, maka diharapkan agar kerusakan terjadi seminimal mungkin namun menghasilkan keragaman genetik yang berlimpah. Keunggulannya, mutasi gen ini dapat mengeluarkan sifat-sifat lain termasuk sifat pautan gen atau sifat gen yang menempel. Sifat ini tidak akan keluar jika menggunakan cara penyilangan.

Menurut Peneliti Pemulia Tanaman dari Batan, Ita Dwimahyani, keunggulan dari kedelai Mutiara 1 adalah ukuran biji yang tergolong super besar dan bobot 100 butirnya mencapai 23,2 gram. Bobot ini lebih unggul 6,2 persen dibandingkan kedelai impor. Selain itu, meski tidak terlalu signifikan, kandungan protein dalam kedelai Mutiara 1 lebih tinggi 5,7 persen dibandingkan kedelai lokal yaitu, 37,7 persen.

“Meskipun kedelai Mutiara 1 merupakan varietas unggulan dari kami, namun masih ada kekurangannya yaitu umur panen yang mencapai 82 hari. Saat ini kami sedang meneliti lebih lanjut untuk memperpendek umur panen,” kata Ita.

Melalui teknik ini, kedelai akan diuji selama lebih kurang lima tahun untuk mendapatkan satu varietas. Pengujian yang dilakukan untuk melihat ketahanan dari kedelai terhadap lingkungan, hama, dan umur panen.

Benih kedelai Mutiara 1 pun dapat dibenihkan lagi hingga empat kali turunan. Dengan demikian, lima kilogram benih kedelai dapat ditanam di lahan seluas satu juta hektar. Sehingga para petani pun dapat terus memproduksi benih-benih unggulan.

Rumah Tempe
Sebagai upaya mendukung produksi tempe yang higienis dan berkualitas, Batan pun bermitra dengan Rumah Tempe Indonesia (RTI) sejak 2015. Salah satu keunggulannya, produksi tempe dari RTI dapat langsung dimakan tanpa dimasak.

KOMPAS/LASTI KURNIA–Prof Dr Ir Astawan, MS, dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB berpose di Rumah Tempe Indonesia, Selasa (30/6). Rumah tempe Indonesia memperkenalkan cara pengolahan tempe secara higienis.

Kepala bagian pelatihan dan pengembangan kewirausahaan Rumah Tempe Indonesia, Muhammad Ridha, mengatakan bahwa RTI sudah menggunakan teknologi sederhana, salah satunya penggunaan mesin pengupas kulit kedelai. Selain itu, untuk merebus kedelainya juga sudah menggunakan gas elpiji.

“Kalau tradisional kan mereka masih mengupas kulit kedelainya secara manual. Merebusnya juga masih menggunakan kayu bakar sehingga waktu yang dibutuhkan lebih lama,” kata Ridha.

Kualitas tempe pun meningkat. Apabila dengan cara tradisional tempe hanya kuat satu hingga dua hari di suhu ruangan, dengan teknologi di RTI, tempe dapat kuat empat hingga lima hari. Biaya produksi juga berkurang sekitar sepuluh persen karena dapat menghemat penggunaan air.

Sejauh ini, sudah ada sembilan pengrajin tempe yang menerapkan konsep dari RTI. Mereka tersebar di Bogor, Bandung, Yogyakarta, Klaten, Kuningan, Sleman, Jakarta, Surabaya, dan Banjarbaru. (SHARON PATRICIA)–YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 14 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: