Home / Berita / Banyak Usaha Rintisan Belum Tahu Cara Menjadi ”Unicorn”

Banyak Usaha Rintisan Belum Tahu Cara Menjadi ”Unicorn”

Tantangan terbesar usaha rintisan (startup) saat ini bukan hanya saat memulai, melainkan juga ketika mereka berhasil di posisi tertentu, mereka tidak tahu bagaimana membesarkan diri mencapai posisi yang lebih tinggi, bahkan hingga ke level unicorn (usaha rintisan yang mempunyai valuasi lebih dari 1 miliar dollar Amerika Serikat).

Untuk itu, Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), berusaha membangun startup yang sudah berada di level A menuju level B. Ini diwujudkan dengan mempertemukan startup dengan para investor lokal ataupun internasional melalui kegiatan ”Nexticorn Power Brunch”.

Pertemuan awal dengan startup digelar di Multivision Tower, Jakarta Selatan, Rabu (25/7/2018). Acara ini dihadiri 75 startup yang sudah mulai berkembang, seperti Hukumonline.com, Kargo.co.id, Kumparan, Tukangsayur.co, dan Wonderful Tourism. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari ”The 1st International Nexticorn Summit” di Bali pada Mei 2018.

”Dulu ada program membangun 1.000 startup, tapi tantangan terbesar yang dialami startup saat ini bukan hanya memulai, melainkan saat mereka telah berhasil berada di posisi A, tapi tidak tahu bagaimana membesarkan diri sampai di posisi B, bahkan menjadi Unicorn,” kata Rudy Ramawy, Kepala Komite Portofolio Nexticorn untuk Klasifikasi VC dan Kurasi Startup.

SITA NURAZMI MAKHRUFAH UNTUK KOMPAS–Nexticorn memfasilitasi usaha rintisan (startup) Indonesia untuk bertemu dengan investor lokal ataupun internasional, Rabu (25/7/2018). Usaha rintisan yang mulai berkembang diharapkan mampu mencapai level Unicorn Indonesia yang meluas ke ASEAN.

Pendanaan dalam investasi startup memiliki beberapa tingkatan. Dari yang terbawah, yaitu pre-seed funding, seed funding, seri A, B, C, hingga initial public offering (IPO).

Saat ini Indonesia telah memiliki empat Unicorn yang telah meluas ke ASEAN, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Jumlah ini setara dengan Singapura yang memiliki empat, yaitu Lazada, Grab, Sea, dan Razer. Adapun Vietnam, hanya memiliki satu.

Melihat potensi yang dimiliki Indonesia ini, Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika ingin menambah Unicorn yang berasal dari Indonesia sehingga bisa meluas ke ASEAN. Hal ini diwujudkan dengan mempertemukan startup dalam satu kegiatan dengan investor, yaitu Nexticorn Summit II pada 13-14 Oktober 2018 di Bali.

Perwakilan startup yang hadir diarahkan untuk mengisi aplikasi persyaratan di ww.f6s.com/nexticornprogram/apply. Hal ini bertujuan agar pihak Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika dan Nexticorn dapat memberikan daftar dan penjelasan tentang startup Indonesia yang berada di level A.

”Kami harapkan saat datang, mereka (investor) sudah tahu yang mana yang akan ditemui, tidak mencari tahu satu per satu lagi, sehingga pertemuan menjadi berkualitas,” kata Kepala Koordinator Promosi Roadshow Nexticorn Donald Wihardja.

Untuk melancarkan Nexticorn Summit II, Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika mendatangi investor-investor di sejumlah negara. Negara yang sudah didatangi adalah Singapura, Jepang, China, dan Korea.

”Saya dengan Pak Menteri secara bergantian akan mendatangi lagi investor ke negaranya untuk mengajak mereka ke Indonesia lewat kami. Karena kalau mereka datang sendiri, belum tentu ketemu banyak startup dalam satu waktu,” kata Staf Penasihat Khusus Menkominfo Lis Sutjiati. (SITA NURAZMI MAKHRUFAH)–ADHI KUSUMAPUTRA

Sumber: Kompas, 25 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: