Banteng Kalimantan Layak Jadi Spesies Baru

- Editor

Kamis, 13 Desember 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi) layak menjadi spesies baru karena adanya perubahan genetik selama ratusan tahun hingga saat ini. Secara fisik maupun DNA, banteng yang sebelumnya masuk dalam kategori banteng jawa tersebut sudah jauh berbeda. Saat ini keberadaan satwa liar yang dilindungi itu terancam punah.

Hal itu terungkap dalam dikusi hasil Penelitian Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin) bersama beberapa peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) di Palangkaraya, Rabu (12/12/2018). Penelitian tersebut dilakukan sejak 2013 di hutan Belantikan Hulu, Kecamatan Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.

“Secara genetika, ada perbedaan 4,3 persen sampai 5,5 persen dari banteng jawa. Perubahan genetik itu faktornya banyak, sehingga ada perbedaan juga dari fisiknya. Jadi, banteng kalimantan adalah spesies baru,” ungkap dosen dan peneliti dari Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB Dedy Duryadi Solihin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

DOKUMEN YAYORIN–Banteng Kalimantan atau Bos javanicus lowi yang ditemukan di hutan Belantikan Hulu, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah saat penelitian Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin) dan Institut Teknologi Bogor (ITB) pertengahan tahun 2013 lalu. Banteng Kalimantan jadi spesies baru karena memiliki genetika berbeda dengan Banteng Jawa.

Dedy menjelaskan, secara fisik perbedaan paling mencolok pada banteng Kalimantan adalah ukuran tubuhnya lebih kecil dari banteng Jawa, warna tubuh lebih gelap, khusus betina warnanya merah gelap, lalu habitatnya juga berbeda. Banteng Kalimantan hidup di hutan dan berkumpul di saltlick atau orang Dayak menyebutnya sopanan.

Sopanan, lanjut Dedy, merupakan kawasan dengan kandungan garam mineral tinggi. Di tempat ini, banteng kalimantan dan berbagai hewan lain menjilati garam mineral tersebut karena penuh kandungan nutrisi. Itu berbeda dengan banteng jawa yang hidup di padang rumput atau rawa karena membutuhkan rumput lebih banyak.

“Dari situ kami menduga perubahan gentik juga terjadi karena lingkungan, sehingga sistem pencernaannya pun sudah berbeda. Dari banyak perbedaan itu mengapa masih dimasukkan dalam sub kategori banteng Jawa?” kata Dedy.

Jejak banteng
Selain dari sisi genetika, Yayorin melakukan penelitian dari sisi bioekologi dan etnozoologi, di mana jejak banteng sejak ratusan tahun lalu ditelusuri. Suku Dayak memburu banteng tersebut untuk memenuhi protein dan menggunakan tanduknya dalam berbagai upacara adat.

Program Manajer Yayorin Iman Sapari yang meneliti di bidang bioekologi dan etnozoologi mengungkapkan, jejak sejarah banteng Kalimantan tersebar di 14 kabupaten/kota, tapi tersisa di Kabupaten Lamandau. Seiring berjalannya waktu populasinya menurun karena perburuan, pembukaan lahan, dan faktor lainnya.

“Di Kabupaten Kotawaringin Barat dahulu kala ditemukan jejaknya, makanya ada kawasan bernama Pangkalan Banteng di sana. Tetapi sayang sekarang sudah tidak ada lagi,” ungkap Iman.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Populasi Banteng Kalimantan atau Bos javanicus lowi sangat terancama punah. Salah satu faktornya adalah karena perburuan. Sampai saat ini banteng juga masih menjadi pelengkap ritual adat Suku Dayak. Tanduknya juga digunakan untuk meminum tuak di berbagai ritual adat.

Di Kalteng, populasinya pada tahun 2013 mencapai 30 ekor, saat ini hanya 15 sampai 20 ekor saja. Maka dari itu ia mendorong agar kawasan Belantikan Hulu di Kabupaten Lamandau dijadikan kawasan konservasi atau side monitoring agar penelitian.

“Keragaman genetik banteng jadi sumber atau plasma nutfah yang penting untuk pengembangbiakan sapi, supaya ada upaya-upaya perkawinan. Banteng adalah bianatang yang adaptif, satwa liar yang sudah hidup ratusan tahun sehingga tahan penyakit, jadi Indonesia gak perlu lagi bawa sapi dari luar negeri,” kata Iman.

Direktur Yayorin Eddy Santoso mengungkapkan, ada beberapa rekomendasi baik untuk pemerintah maupun lembaga internasional yang sudah melakukan penelitian tersebut, salah satunya adalah membentuk tim terpadu untuk melakukan penelitian, pengawasan, dan lain sebagainya. “Tim itu terdiri dari berbagai lembaga dan institusi. Komitmen ini juga sudah sampai ke pemerintah daerah dan mereka sangat mendukung,” kata Eddy.–DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Sumber: Kompas, 13 Desember 2018

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 67 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB