Home / Berita / Balita Pemalu Rentan Alami Kecemasan Saat Besar

Balita Pemalu Rentan Alami Kecemasan Saat Besar

Sebanyak 15-20 persen bayi dan anak balita menunjukkan perilaku pemalu dan menarik diri dari lingkungan, seperti lebih suka menyendiri saat berada di taman bermain atau bereaksi negatif terhadap rangsangan baru saat bayi.


Ketika berusia 7 tahun, mereka umumnya menunjukkan gangguan kecemasan. Meski demikian, gangguan itu tak akan berkembang selama anak punya hubungan emosional kuat dengan pengasuhnya, khususnya orangtua. ”Ikatan emosi kuat akan membuat anak merasa terlindungi,” kata Erin Lewis-Morrarty, peneliti perkembangan anak di Universitas Maryland, Amerika Serikat, Kamis (18/12). Risiko mengalami kecemasan pada anak laki-laki lebih besar dibandingkan anak perempuan. Budaya kurang bisa menerima anak laki-laki pemalu dibandingkan perempuan membuat mereka lebih mudah cemas. (LIVESCIENCE/MZW)
—————————
Korteks Entorhinal, Kompas di Dalam Otak

Peneliti Universitas College London, Inggris, menemukan daerah di otak yang berperan sebagai penunjuk arah atau kompas. Bagian itu disebut korteks entorhinal yang tak hanya berperan memahami arah yang akan dituju, tetapi juga memutuskan arah yang harus dipilih saat ingin menuju lokasi baru. Mereka yang punya sinyal kuat di bagian korteks entorhinal jadi penunjuk arah atau navigator yang baik. ”Studi pada sopir taksi di London menunjukkan, hal pertama yang mereka lakukan saat keluar jalur adalah mencari arah kembali ke jalur itu. Korteks entorhinal bertanggung jawab memperhitungkan arah,” kata Hugo Spiers, pemimpin riset, Jumat (19/12). Menurut peneliti lain, Martin Chadwick, kompas internal di dalam otak mengatur ulang saat seseorang bergerak di lingkungan tertentu. ”Jika ingin berbelok ke kiri, korteks entorhinal akan memprosesnya sehingga Anda menghadap ke kiri menuju arah sesuai,” katanya. Jika seseorang tersesat karena terlalu banyak mengambil belokan, itu karena otak gagal menyesuaikan diri. Riset itu diharapkan menjelaskan kebingungan menentukan arah yang kerap dialami penderita alzheimer atau demensia. (BBC/MZW)

Sumber: Kompas, 20 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: