Bakteri Laut di Alor untuk Antibiotik Baru

- Editor

Jumat, 6 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim peneliti dari Universitas Ma Chung, Malang, menemukan bakteri laut ”Pseudoalteromonas rubra” di Laut Alor, Nusa Tenggara Timur. Bakteri itu berpotensi dikembangkan sebagai obat-obatan antibiotik baru.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI–Peneliti dari Ma Chung Research Center for Photosynthetic Pigments Universitas Ma Chung, Edi Setiyono, Senin (3/2/2020), menunjukkan hasil penelitiannya, yaitu temuan antibiotik alami, terbuat dari bakteri laut. Antibiotik alami tersebut diyakini lebih aman daripada antibiotik sintetis yang selama ini digunakan. Bakteri berpigmen kuning hingga merah tersebut cocok digunakan untuk industri farmasi, pewarna kain, dan solar sel.

Perairan Indonesia menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya digali dan dimanfaatkan. Tim peneliti dari Universitas Ma Chung, Malang, Jawa Timur, baru-baru ini menemukan bakteri laut Pseudoalteromonas rubra di Laut Alor, Nusa Tenggara Timur, yang berpotensi dikembangkan sebagai obat-obatan antibiotik baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasil riset ini telah dipublikasikan di jurnal internasional American Chemical Society pada Rabu (26/2/2020). Direktur Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Ma Chung Research Center for Photosynthetic Pigments (MRCPP), Universitas Ma Chung, Tatas HP Brotosudarmo, dalam keterangan tertulis, Kamis (27/2/2020), mengatakan, bakteri laut itu bisa menghasilkan pigmen antimikroba.

”Agen antimikroba merupakan obat yang umumnya diperoleh dari mikroorganisme yang sangat penting untuk pencegahan dan pengobatan infeksi bakteri,” kata Tatas.

Saat ini dunia kedokteran menghadapi tantangan dengan menurunnya kemanjuran obat karena terjadi resistensi antibiotik atau antimikroba. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2010 melaporkan, infeksi nosokomial yang disebabkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba mengakibatkan 38.481 kematian di Thailand. Temuan ini bisa menjadi bahan untuk obat baru guna mengurangi resistensi antibiotik.

”Jadi, temuan ini akan sangat bermanfaat, terutama bagi kemajuan dunia kesehatan di Indonesia,” kata Tatas yang juga Wakil Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI).

KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN–Gambar beberapa bakteri yang telah kebal terhadap antibiotik jika dilihat di bawah mikroskop yang telah dimodifikasi.

Dari Alor
Bakteri laut Pseudoalteromonas rubra ini ditemukan Edi Setiyono, peneliti di Laboratorium Brotosudarmo, PUI-PT MRCPP, dari air laut yang diambil dari Pantai Sebanjar dan Pulau Sika, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Isolasi terhadap bakteri yang memiliki pigmen merah itu mulai dilakukan pada 2018. ”Bakteri itu memiliki kesamaan genetika sebesar 99 persen dengan Pseudoalteromonas rubra ATCC 29570 berdasarkan uji 16S rRNA,” kata Edi.

Bersama dengan anggota tim peneliti lain, di antaranya Monika Prihastyanti, Marcelinus Adhiwibawa, dan Renny Indrawati, mereka berhasil menemukan keunikan bakteri dari Pulau Alor itu. Di antaranya, bakteri tersebut mengandung enam jenis pigmen antimikroba, yaitu cycloprodigiosin, prodigiosin, 2-methyl-3-hexyl-prodiginine, 2-methyl-3-propyl prodiginine, 2-methyl-3-butyl-prodiginine, dan 2-methyl-3-heptyl-prodiginine.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI—Peneliti dari Ma Chung Research Center for Photosynthetic Pigments Universitas Ma Chung, Edi Setiyono, Senin (3/2/2020), menunjukkan hasil penelitiannya, yaitu temuan antibiotik alami, terbuat dari bakteri laut.

Pigmen-pigmen tersebut lalu diuji aktivitasnya sebagai agen antimikroba pada beberapa bakteri patogen, seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, serta Candida albicans. Hasilnya menunjukkan bakteri laut ini bisa berfungsi sebagai antimikroba.

Sebelumnya, pada tahun 1976, bakteri Pseudoalteromonas rubra ATCC 29570 untuk pertama kali berhasil diisolasi dari air laut Mediterania dengan pigmen prodigiosin, yang memiliki aktivitas antibiotik terhadap Staphylococcus epidermis. Kemudian, pada tahun 1979, ditemukan pigmen jenis baru yang bernama cycloprodigiosin pada bakteri yang sama.

Tatas menyebutkan, sebagai negara kepulauan, biodiversitas Indonesia merupakan yang terbesar di dunia dan menjadi sumber berjuta senyawa kimia yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan obat dan potensi sumber daya ekonomi biru. ”Kemampuan untuk menguasai sains dan iptek adalah kunci utama eksplorasi dari keanekaragaman hayati menjadi sumber daya genetik dan biokimia yang mempunyai nilai secara komersial,” kata Tatas.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 5 Maret 2020

Informasi terkait

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Berita ini 36 kali dibaca

Informasi terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB