Asperger Syndrome, Anak Berkebutuhan Khusus

- Editor

Senin, 8 Agustus 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SINDROM Profesor Kecil (SPK) atau gangguan Asperger pertama kali digambarkan oleh dokter yang berasal dari Austria, Hans Asperger, pada tahun 1944. Kemudian pada tahun 1981, Lorna Wing merekomendasikan istilah Asperger syndrome. Dahulunya SPK disebut ‘’autistic psychopathy’’.

SPK merupakan kumpulan gejala atau spektrum gangguan perkembangan pervasive yang kompleks, ditandai dengan perburukan menetap fungsi sosialisasi atau interaksi sosial, komunikasi, kognisi, sensasi, disertai pola perilaku berulang, dan minat yang terbatas. Sebagian ahli menganggap SPK merupakan varian dari gangguan spektrum autis atau pervasive developmental disorder.

Meskipun penyebab pasti belum diketahui, namun diduga SPK berhubungan dengan kerusakan atau kelemahan (impairments) pada hubungan antara amigdala dengan struktur di otak. Pada beberapa kasus, anak dengan SPK memiliki problem atau permasalahan di periode prenatal (sebelum ibu melahirkan) dan neonatal (bulan-bulan pertama setelah ibu melahirkan), serta selama proses kelahirannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gejala SPK umumnya terlihat nyata pada anak berusia lebih dari 3 tahun. Lebih sering dijumpai pada anak lelaki daripada anak perempuan, dengan perbandingan 49 berbanding 1. Umumnya diagnosis ditegakkan di usia sekolah.

Problematika

SPK ditandai oleh adanya gangguan di dalam bersosialisasi atau berinteraksi sosial, seperti:  merasa kesulitan berinteraksi dengan rekan seusia, canggung dalam pergaulan sosial, terlihat ìcuekî, tampak ìdinginî, seolah ìmati perasaannyaî, sehingga sulit membedakan, mengerti, memahami perasaan orang lain. Kurang  berempati, cenderung sulit ikut merasakan apa yang dirasakan sahabatnya atau orang lain.

Merasa sulit saat menerjemahkan atau menangkap berbagai isyarat serta peraturan sosial. Kurang bisa berinteraksi timbal-balik dengan orang lain dan terkadang bersikap atau berperilaku yang kurang pantas secara sosial dan emosional. Kurang bisa mengekspresikan atau berbagi kebahagiaan, prestasi, minat dengan orang lain secara spontan. Kurang mampu menikmati kesenangan dan ketertarikan bersama dengan kelompoknya atau orang lain. Sebenarnya anak dengan SPK menunjukkan ketertarikan untuk bersahabat dan bertemu dengan orang lain, namun tidak sensitif dengan perasaan orang lain.

Memiliki aktivitas, perhatian, minat yang sempit atau terbatas. Misalnya: terpaku pada suatu kegiatan yang bersifat ritual atau rutinitas, dapat juga menunjukkan suatu pola yang tidak fleksibel. Tidak atau kurang tertarik dengan aktivitas-aktivitas lainnya. Biasanya ia lebih suka menghafal mati, tanpa memahami maknanya.

Dapat disertai gerakan-gerakan yang khas, namun tidak biasa untuk anak seusianya, serta diulang-ulang, misalnya: mengepak-ngepakkan atau mengibas-ibaskan tangan atau jarinya, berputar-putar, megal-megol, tubuhnya berayun-ayun, dsb. Gerakan aneh ini akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan sehari-harinya.

Keganjilan dalam kemampuan berbicara dan bahasa, seperti: suka berbicara, banyak berbicara, terkadang suka mengulang-ulang, namun sayangnya di dalam percakapan kurang keterpaduan. Bahasanya ekspresif dan sempurna secara superfisial, resmi, kaku, mirip bahasa kamus atau bahasa baku yang tertulis. Dengan diksi (pilihan kata) yang istimewa namun terkesan aneh, asing, berlebihan, terkadang mirip bahasa planet. Ini disertai gangguan pemahaman makna, yaitu memahami secara literal (apa adanya).

Memiliki masalah dengan komunikasi nonverbal, contohnya: bahasa tubuh serba canggung, kikuk, kaku, atau janggal. Memakai gerak, isyarat, sikap (gestures) yang terbatas. Ekspresi wajah yang terbatas, kurang hidup, dan tidak tepat. Pandangan atau tatapan mata terasa kaku dan ganjil.

Anak dengan SPK juga akan mengalami isolasi sosial berupa: tidak memiliki sahabat dekat, menghindari orang lain, kurang tertarik untuk menjalin persahabatan, suka menyendiri.
Semua bentuk gangguan ini menyebabkan penurunan kapabilitas dalam relasi sosial, prestasi sekolah, dan fungsi penting lainnya pada anak dengan SPK.

Meskipun demikian, anak dengan SPK memiliki IQ normal atau superior, sebagian terlihat memiliki keahlian yang begitu istimewa dan luar biasa di bidang musik, matematika, dan komputer. Banyak pula diantaranya yang memiliki daya kreativitas dan imajinasi yang super dahsyat.

Deteksi Dini

Bila putera atau puteri Anda memiliki salah satu gangguan di atas, sebaiknya segera dibawa ke dokter terdekat sebelum berusia lima tahun. Sebab di usia lima tahun, otak sudah berhenti berkembang.
Dokter atau psikiater akan menegakkan diagnosis dengan berbagai instrumen, seperti: The Asperger Syndrome Diagnostic Scale (ASDS),  Childhood Asperger Syndrome Test (CAST), Gilliam Aspergerís Disorder Scale (GADS), Krug Aspergerís Disorder Index (KADI), atau Autism Spectrum Screening Questionnaire (ASSQ).

Penanganan

Bila diperlukan dan tersedia fasilitas, maka dokter akan menganjurkan pemeriksaan penunjang, seperti: Magnetic Resonance Imaging (MRI), positron emission tomography (PET) scanning (dengan F-18 2-deoxyglucose), audiografi.  Evaluasi neuropsikologi dapat dilakukan oleh dokter ahli saraf menggunakan ‘’Wisconsin Card Sorting Test, Trail-Making Test’’, dan ‘’Stanford-Binet Scale’’. Penilaian ini untuk mengetahui fungsi verbal dan nonverbal dan tingkat intelegensia. Diperlukan pemeriksaan komprehensif bersama tim professional untuk memastikan diagnosis.

Anak dengan SPK memerlukan konseling, pelatihan keterampilan sosial dan komunikasi, psikoterapi, stimulasi dengan permainan berkelompok, terapi kognitif (cognitive behavior therapy), terapi wicara. Adapun obat golongan antipsikotik, SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors), neuroleptik atipikal, clonidine, risperidon, olanzapin, atau naltrexone hanya boleh diberikan oleh dokter sesuai indikasi.(11)

Dokter Dito Anurogo, dokter pemerhati anak berkebutuhan khusus, penulis buku 123 Penyakit dan Pengobatannya, tinggal di Semarang.

Sumber: Suara Merdeka, 28 Juli 2011

Informasi terkait

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Berita ini 24 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Senin, 27 Juli 2026 - 18:53 WIB

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Berita Terbaru

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB

Artikel

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Senin, 27 Jul 2026 - 18:53 WIB

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB