Home / Berita / Aspek Kultural Masih Hambat Program Keluarga Berencana

Aspek Kultural Masih Hambat Program Keluarga Berencana

Faktor budaya masih menjadi hambatan implementasi program keluarga berencana di sejumlah negara. Keterlibatan anak muda untuk memberikan edukasi yang benar terkait keluarga berencana dan kesehatan reproduksi menjadi penting. Generasi muda sangat terkait dengan perencanaan keluarga.

Demikian benang merah pembahasan dalam forum pemuda pada Konferensi Keluarga Berencana Internasional (Internasional Conference on Family Planning/ICFP) di Nusa Dua, Bali, Selasa (27/1).

Perwakilan pemuda dari Pakistan, Ayesha Amin, mengatakan, aspek budaya menjadi hambatan yang dominan dalam edukasi kesehatan reproduksi dan keluarga berencana (KB). Di daerah pedesaan Pakistan yang patriarkis, perempuan tidak memiliki posisi sejajar dengan laki-laki dalam berbagai hal. Perempuan sangat bergantung kepada laki-laki dalam berbagai aspek. Perempuan tidak dilibatkan dalam setiap pengambilan kesempatan bahkan keputusan untuk mereka sendiri.

Selain itu, masyarakat Pakistan menganggap anak laki-laki lebih istimewa dibandingkan anak perempuan. Akibatnya, pasangan suami istri akan berupaya terus untuk mendapatkan anak laki-laki meski sudah memiliki banyak anak perempuan. Ini sangat berisiko pada kesehatan ibu, anak, dan juga kualitas hidup mereka.

Hal ironis yang umum muncul di masyarakat, ujar Ayesha, ialah anak perempuan diajarkan oleh orangtua untuk tidak berbicara kepada laki-laki yang belum dikenal. Namun, orangtua mengizinkan anak perempuan untuk dinikahi laki-laki yang belum dikenalnya. “Perempuan bahkan tidak mengerti bahwa mereka juga punya hak dalam kesehatan reproduksi,” ujar Ayesha.

Women Deliver Young Leader dari Kamerun, Desmond Nji Atanga, menambahkan, di Kamerun membicarakan seksualitas di kalangan anak muda adalah tabu. Karena itu, tidak mengherankan banyak anak muda yang tidak mendapat informasi mengenai kesehatan reproduksi. Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi bukan hanya semata isu perempuan atau laki-laki, melainkan isu bersama. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama baik laki-laki maupun perempuan.

Peran media sosial
Asisten Komunikasi ACTIVATE, Afrika Selatan, Nomtika Mjwana, menyampaikan, media baru, seperti media sosial, lebih efektif menjangkau anak muda di wilayah perkotaan Afrika Selatan. Media baru sangat efektif sebagai kanal penyampai informasi tentang kesehatan reproduksi kepada anak muda.

“Kami lebih suka memakai istilah kesehatan reproduksi ketika berbicara kepada anak muda daripada keluarga berencana. Istilah itu lebih bisa diterima,” ujar Nomtika.

Desmond mengatakan, di Kamerun penggunaan media sosial di kalangan anak muda belum begitu populer. Media yang paling efektif untuk menjangkau anak muda hingga ke pelosok ialah radio. Oleh karena itu, penyampaian informasi dan edukasi terkait kesehatan reproduksi dan keluarga berencana dilakukan melalui radio.

Menurut Ayesha, sangat penting bagi mereka yang bergerak dalam advokasi kesehatan reproduksi dan keluarga berencana untuk dapat diterima di tengah masyarakat. Untuk itu, yang pertama kali penting dikerjakan ialah menjadi pendengar yang baik. Setelah diterima ke dalam satu komunitas baru pelan-pelan pesan informasi disampaikan menggunakan bahasa sederhana yang dimengerti mereka.

ADHITYA RAMADHAN

Sumber: kompas Siang | 27 Januari 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: