Home / Berita / Aplikasi Ikan Jenis Invasif Dikembangkan

Aplikasi Ikan Jenis Invasif Dikembangkan

kasus pelepasan ikan raksasa Arapaima gigas ke Sungai Brantas menyadarkan banyak pihak akan dampak berbahaya ikan invasif perairan itu. Kejadian itu menyadarkan para pihak akan arti penting sosialisasi dan edukasi ancaman ikan-ikan eksotik tersebut bila terlepas ke perairan.

Sekolah Tinggi Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (STP) membuat aplikasi terkait database ikan spesies asing dan invasif di Indonesia. Aplikasi yang diberi nama AIS (Alien and Invasive Species) Indonesia ini diluncurkan sekolah pendidikan tinggi pada Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan ini dalam rangka ulang tahun Laboratorium Biologi dan Konservasi (Biovasi) STP pada, Kamis (28/6/2018) di Jakarta.

“AIS Indonesia adalah aplikasi yang sangat baik dan bermanfaat luas, merupakan aplikasi pertama yang menghimpun ikan spesies asing dan invasif Indonesia. Hal ini menandai peran aktif kami bahwa STP memasuki era Revolusi Industri 4.0. Aplikasi ini bermanfaat bagi masyarakat umum, akademisi, peneliti dan KKP khususnya BKIPM (Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Keamanan Hasil Perikanan),” kata Ketua STP Mochammad Heri Edy, dalam siaran pers, Jumat (29/6/2018).

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Ikan arapaima (Arapaima gigas) ini dipelihara di kolam galeri Gedung Mina Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan Jakarta. Ikan invasif ini disita petugas karantina pada tahun 2016 saat hendak dibawa masuk ke Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saat itu petugas menyita dua ekor arapaima yang salah satunya telah mati. Ikan arapaima yang masih hidup dipelihara di galeri KKP sebagai sarana edukasi kepada masyarakat akan bahaya ikan invasif asal Sungai Amazone, Amerika Selatan ini.–Foto diambil Kamis (28/6/2018) di galeri Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta.

AIS Indonesia adalah aplikasi yang sangat baik dan bermanfaat luas, merupakan aplikasi pertama yang menghimpun ikan spesies asing dan invasif Indonesia.

Pembuatan aplikasi AIS Indonesa ini seiring upaya STP mengembangkan Sustainability, Innovation, and Productivity (SIP) yang dikerjakan bersama UNIDO (United Nations Industrial Development Organization).

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Ikan jenis invasif peacock bass (Cichla ocellaris) dipelihara di kolam galeri Gedung Mina Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta. Ikan sitaan dari Thailand ini dipelihara di galeri KKP sebagai sarana edukasi kepada masyarakat akan bahaya ikan invasif yang tersebar di perairan Guyana, Suriname, French Guyana, Brazil, dan Kolombia. Dikatakan invasif karena ikan sepanjang 50-60 cm ini memiliki sifat mengejar mangsa ikan target dengan aktif pada kecepatan tinggi sehingga bisa menghabiskan populasi ikan asli/endemis/lokal di perairan darat Indonesia.
Foto diambil Kamis (28/6/2018) di galeri Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta.

Semangat keilmiahan
Dosen STP Kadarusman memaparkan Laboratorium Biovasi menjadi salah satu pusat kedinamisan akademik dan riset di kampus STP. Pada momentum Difusi Impacts 2018, pihaknya ingin berbagi semangat keilmiahan dengan ragam program, dan kreasi ide baru berbasis ciri Revolusi Industri 4.0.

Salah satunya, AIS Indonesia yang merupakan program mandiri dosen dan taruna, yang diinisiasi pada periode perkuliahan dengan sistem Blok Tuntas O3 (One Course, One Company, One Peer). Kini AIS Indonesia menjadi bagian penting dari platform nasional untuk memetakan secara akurat presensi ikan invasif.

“Saat ini, platform digital invasif Indonesia di bidang perikanan telah hadir, yang diperuntukkan untuk me-recording semua alien and invasive species yang ada di Tanah Air,” ujarnya.

Aplikasi ini membantu memberikan informasi terkini AIS yang meliputi habitat asal, distribusi, peruntukan, dan sebagainya. Tiap orang pun bisa berkontribusi melalui sistem pelaporan sederhana terkait keberadaan AIS di daerah masing-masing melalui website atau aplikasi android.

“AIS Indonesia adalah aplikasi google android pertama yang dimiliki STP, sekaligus aplikasi pertama yang menghimpun semua AIS di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak hanya itu, aplikasi teranyar ini telah mendomentasikan seperdua bioregion Sundaland,” kata dia.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Ikan jenis invasif Piranha dipelihara di kolam galeri Gedung Mina Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta. Ikan sitaan ini dipelihara di galeri KKP sebagai sarana edukasi kepada masyarakat akan bahaya ikan invasif asal Sungai Amazone, Amerika Selatan ini.
Foto diambil Kamis (28/6/2018) di galeri Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta.

Terkait ikan invasif, diatur melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 41 tahun 2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Di dalamnya, ada 152 spesies ikan terlarang meliputi 97 jenis pisces, 14 jenis crustacean, 30 jenis mollusca, 11 jenis amfibi.

Aplikasi AIS Indonesia diunduh di Play Store pada Android-Google dengan link https://goo.gl/UUMwqd atau melalui website http://ais.stpjakarta.ac.id/.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 30 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: