Spesies Invasif; Strategi Nasional Tak Cukup, Perlu Aksi

- Editor

Senin, 22 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah menyusun Strategi Nasional dan Arahan Rencana Aksi Pengelolaan Jenis Asing Invasif di Indonesia. Namun, itu belum menjamin penanganan spesies invasif yang merusak kehidupan ekologi di darat dan perairan Indonesia akan segera selesai.

Pemerintah masih menyusun regulasi mencegah masuknya jenis asing invasif (JAI) dan mengendalikan sebarannya. Itu diharapkan tak terlalu lama karena tekanan spesies asing di lapangan mendesak untuk ditangani.

“Regulasi itu berisi daftar jenis-jenis spesies invasif,” kata Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Antung Deddy Radiansyah pada diskusi “Ancaman Jenis Asing Invasif di Indonesia” di sela-sela Pekan Lingkungan dan Kehutanan 2015 di Jakarta, Jumat (19/6). Informasi jenis spesies didapat dari daftar yang ada di Kementerian LHK, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Pertanian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Entah akan berupa peraturan menteri bersama atau cukup peraturan Menteri LHK, sedangkan dipertimbangkan,” kata Antung, mantan Asisten Deputi Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Kerusakan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup.

Spesies invasif mengacu pada jenis-jenis fauna dan flora asing (dari luar negeri atau pulau lain di Indonesia) yang berkembang dan mengganggu keanekaragaman hayati endemik. Saat ini, terdaftar sekitar 300 spesies asing invasif di Indonesia.

Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia yang menyatakan 152 jenis ikan, keong, kepiting, lobster, belut, atau katak. Namun, sebagian telanjur masuk, seperti ikan arapaima, aligator, ikan louhan, dan piranha.

Soal dampak
Adi Susmianto, Sekretaris Ditjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian LHK, mantan Kepala Pusat Konservasi dan Rehabilitasi Balitbang Kehutanan, mengatakan, spesies invasif berdampak ekologi, ekonomi, dan sosial. Sebagai contoh, tanaman merambat atau mantangan (Merremia peltata) yang menguasai 10.000 hektar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Itu membuat jalur rusa dan harimau berubah yang bisa berujung konflik warga dan satwa. “Perlu kebijakan operasional hingga tapak agar permasalahan khusus tiap ekosistem/wilayah bisa diselesaikan,” katanya.

Dalam survei 2015, Puskonser menemukan JAI di 24 TN. Temuan tertinggi JAI (266 jenis) justru di TN Cenderawasih, Papua.

Bahkan, tanaman invasif menguasai tajuk pohon di Km 21 hingga Km 28 di Jalan Tol Sedyatmo. Semua tajuk pohon tertutup JAI yang didominasi timun mungil (Coccinia grandis (L.)J.Voigt), buah galing-galing/lambai (Cayratia trifolia (L.) Domin), dan markisa liar (Passiflora foetida L). (ICH)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Juni 2015, di halaman 13 dengan judul “Strategi Nasional Tak Cukup, Perlu Aksi”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 30 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru