Home / Berita / Anugerah Biodiversitas

Anugerah Biodiversitas

Biodiversitas merupakan anugerah alam terbesar untuk negeri ini. Dari ragam flora fauna di darat dan lautan, keberlimpahan jasad renik, hingga keberagaman manusia dan budayannya, Indonesia menjadi juara dunia.

KOMPAS/AHMAD ARIF–AIPI dan ALMI merekomendasikan tiga kegiatan berbasis keragaman hayati yang menjadi tumpuan ekonomi nasional adalah ekowisata, bioprospeksi untuk penemuan obat dan bioenergi, serta eksplorasi laut dalam. Rekomendasi ini dipaparkan dalam buku “Sains untuk Biodiversitas Indonesia”, yang diluncurkan di Jakarta, Senin (11/11). Kompas/Ahmad Arif

Dalam buku “Sains untuk Biodiversitas Indonesia” yang ditulis ilmuwan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) disebutkan, negeri ini memiliki sekitar tiga ribu spesies vertebrata, yang mencakup 10 persen dari total jenis hewan bertulang belakang di dunia. Dari jumlah itu, separuhnya merupakan spesies endemik.

Indonesia juga memiliki spesies endemik terbanyak sejagat untuk burung dengan daerah jelajah terbatas. Jumlahnya bahkan lebih dari dua kali lipat ketimbang negara mana pun di dunia.

Total keanekaragaman tumbuhan tinggi di Indonesia mendudukui urutan ketiga setelah Brazil dan Kolombia. Namun, untuk endemisitasnya, Indonesia dan Brazil berbagi juara dengan 75 persen cadangan dunia ada di dua negara ini.

Sementara perairan serta pesisir Indonesia, yang menjadi jantung Indo-Pacific Coral Triangle, merupakan pusat biodiversitas perairan dunia. Jika digabungkan antara biodiversitas daratan dan lautan, Indonesia merupakan yang terkaya.

Kekayaan biodiversitas Indonesia ini ditempa kompleksitas tatanan geologis, posisi geografis, dan dinamika iklim selama ribuan hingga jutaan tahun. Berada di pertemuan benua dan samudera, negeri ini mendapat keberlimpahan pasokan benih hayati. Iklim tropis dengan intensitas hujan tinggi menyemai benih kehidupan itu, yang dipupuk abu vulkanik dari 127 gunung api aktif.

Terkadang letusan gunung ini sedemikian dahsyat hingga memunahkan nyaris seluruh kehidupan di atasnya, sebelum muncul bentuk kehidupan baru. Proses evolusi kehidupan ini misalnya bisa diamati di Anak Krakatau, yang menjadi laboratorium alam bagi suksesi kehidupan yang muncul dari tabula rasa.

KOMPAS–Kawah Gunung Anak Krakatau kembali muncul di atas daratan, Minggu (13/1/2019). Ini menandai evolusi baru gunung ini setelah erupsi dan longsornya sebagian tubuhnya sehingga memicu tsunami pada 22 Desember 2018. Anak Krakatau memulai kembali siklus membangun tubuh gunungnya.KOMPAS/AHMAD ARIF

Dua sisi
Berkah biodivesitas dan bencana alam merupakan dua sisi dari keping uang yang sama! Jika gagal mengelola, jangankan mendapat anugerah, kita justru hanya mendapatkan bencana alam.

Pergerakan lempeng Bumi di masa lalu, yang kerap ditandai dengan peristiwa gempa bumi, telah membentuk lembah-lembah dan danau-danau, di antara dominasi bentang alam pegunungan. Berbagai ragam spesies endemik muncul di danau-danau air tawar yang terisolasi ini. Namun, isolasi terutama terjadi di pulau-pulau kecil yang terapung di tengah lautan di Zona Wallacea.

Benih-benih kehidupan yang mendarat di pulau ini kemudian menciptakan aneka spesies endemik yang tak bisa ditemui di belahan Bumi manapun, komodo hanya salah satunya. Sebagian spesies itu terbentuk dari hibridasi atau perbenturan biologi, seperti banyak ditemukan di Sulawesi: pulau terbesar di Wallacea yang terbentuk dari tabrakan lempeng Australia, Pasifik, dan Asia.

Beberapa pulau di Wallacea ini adalah gunung api yang kaya dengan spesies endemik. Salah satu anugerah botani di kawasan ini adalah cengkeh dan pala, yang di masa lalu hanya ditemukan di pulau-pulau gunung api yang terisolasi di tengah lautan terdalam, Palung Banda di Maluku.

Dua spesies tanaman endemik yang telah membawa perubahan di negeri ini, bahkan juga dunia. Pencarian pulau-pulau penghasil cengkeh dan pala ini yang memicu penjelajahan modern ke penjuru dunia.

Bahkan, Nusantara menjadi taman firdaus dan tujuan migrasi manusia sejak zaman purba. Analisis genetika terbaru dari Murray Cox dkk di jurnal Cell Press (2019), mengungkap, intensitas pembauran leluhur manusia modern (Homo sapiens) dengan manusia purba Denisovan paling intensif terjadi di Nusantara.

Meski berulang kali dilanda bencana katastropik, sejak dulu Nusantara kaya dengan sumber pangan yang bisa menopang para pemburu dan peramu awal seperti sagu, keladi, pisang, dan hingga sukun yang merupakan spesies endemik negeri ini. Keragaman sumber pangan ini berperan penting membentuk kekayaan kuliner kita.

KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS–Salah satu jenis tanaman yang dipamerkan dalam pameran pangan Hari Pangan Sedunia ke-39 adalah ubi hutan, di Kendari, Sulawesi Tenggaran, Selasa (5/11/2019). Peringatan HPS di Sultra dibayangi berbagai masalah pangan, seperti konversi lahan, minimnya perhatian pada pangan lokal, hingga semakin menurunnya pamor olahan pangan lokal di masyarakat.

Meminggirkan
Namun demikian, 74 tahun sejak kemerdekaan, pembangunan yang dilakukan cenderung meminggirkan kekayaan utama kita itu. Deforestasi dan konversi lahan menjadi sawit yang monokultur, serta tambang masih menjadi andalan utama ekonomi.

Bahkan, pulau-pulau terkecil yang memiliki ekologi rapuh di Wallacea pun tak luput dari penambangan dan perambahan sawit. Keberagaman hayati terus tergerus, bahkan sebagian telah punah.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Beragam jenis flora dan fauna dipamerkan dalam Pameran Keanekaragaman Hayati Nusantara di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (10/11/2019). Pameran yang berlangsung selama satu bulan ini digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan seagai bagian dari peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Indonesia memiliki ekosistem unik dengan keragaman spesies yang melimpah. Misalnya, ada lebih dari 25 ribu jenis tumbuhan bunga, 500 jenis mamalia, 600 jenis reptil, 1.500 jenis burung, 270 jenis apmbhibi, dan lebih dari 2.500 jenis ikan.Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)10-11-2019

Demikian halnya, keberagaman budaya pangan diseragamkan dan produk berbahan gandum impor yang diiklankan sebagai selera Nusantara. Negara yang begitu kaya biodiversitas ini, sekarang terjebak impor pangan. Padahal, biodiversitas merupakan kunci ketahanan pangan, di tengah perubahan iklim.

Mimpi Indonesia maju dengan membuka pintu investasi selebar-lebarnya yang kini dicanangkan Pemerintah Joko Widodo, seharusnya dilandasi perspektif berbasis sains yang jernih. Kesalahan pilihan investasi, justru akan menghancurkan berkah alam terbesar untuk negeri ini yang juga menjadi hak generasi mendatang.

Dalam buku yang diluncurkan di Jakarta pada Senin (11/11), AIPI dan ALMI telah merekomendasikan, tiga kegiatan berbasis biodiversitas yang seharusnya menjadi prioritas investasi, yaitu ekowisata, bioprospeksi untuk penemuan obat dan bioenergi, serta eksplorasi laut. Ketiga prioritas investasi ini dinilai bisa menjadi solusi untuk membawa Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 13 November 2019

Share
x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: