Home / Artikel / Antisipasi Vaksin Covid-19

Antisipasi Vaksin Covid-19

Sesudah vaksin nanti benar-benar ada, harus dijamin bahwa semua akan mendapatkannya. Akan tetapi memvaksinasi semua penduduk satu negara tentu bukan hal sederhana.

Situasi Covid-19 di dunia masih terus meningkat. Jumlah kasus sudah lebih dari 36 juta orang dan sekitar sejuta orang meninggal. Di Indonesia, hingga 7 Oktober lebih dari 311.000 orang terinfeksi, lebih dari 11.000 orang meninggal dan penambahan kasus per hari 3.000-4000 orang.

Dewasa ini dunia menerapkan protokol kesehatan sebagai modal utama mengerem perluasan pandemik, khususnya karena belum ada obat yang benar-benar ampuh dan juga vaksin masih ditunggu. Untuk obat, banyak penelitian dilakukan, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan melakukan Solidarity Trial yang melibatkan puluhan negara (termasuk Indonesia) untuk kemudian memberikan rekomendasi tentang obat penyakit ini.

Kini juga sedang dibahas tentang Solidarity Trial untuk vaksin dengan berbagai dampak dan kompleksitasnya.

Puluhan tahun
Vaksin memang menjadi harapan besar umat manusia sebagai salah satu senjata utama mengendalikan Covid-19, dan karena itu beberapa institusi berlomba-lomba melakukan penelitian untuk mendapatkannya. Tentu kita semua berharap agar hasilnya baik. Hanya perlu kita sadari berbagai kenyataan yang ada.

Selama ini memang butuh waktu puluhan tahun dari virus ditemukan sampai vaksinnya ditemukan dan berhasil. Vaksin polio baru ditemukan tahun 1954, berselang 45 tahun sesudah virusnya ditemukan pada 1909. Vaksin campak baru ditemukan sesudah 46 tahun penyakitnya dikenal dan vaksin hepatitis B baru ada 17 tahun sesudah virusnya ditemukan. Covid-19 ditemukan Desember 2019 dan sekarang baru 10 bulan.

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan telah maju pesat sehingga mungkin saja waktu puluhan tahun di era lalu kini dapat saja dipersingkat menjadi sekitar satu tahun saja. Hanya saja, karena vaksin ini akan diberikan ke seluruh umat manusia, secanggih apa pun tekniknya, harus ada jaminan bahwa vaksin ini sungguh aman bagi manusia, selain harus efektif mencegah tertularnya penyakit.

Antisipasi Vaksin Covid-19
Produksi vaksin dapat berasal dari berbagai sumber/mekanisme, ada dari virus yang dilemahkan atau di-inaktivasi, ada yang dari DNA atau RNA, ada yang disebut replicating dan ada yang non-replicating viral vector serta ada juga yang subunit protein dan virus like particle. Setiap calon vaksin dapat menggunakan salah satu dari mekanisme ini, dan hasilnya juga akan mungkin punya spesifikasinya sendiri-sendiri.

Data Landscape Covid Vaccine WHO 25 September 2020 menunjukkan sudah ada 40 calon vaksin yang sudah masuk uji klinik, sembilan di antaranya sudah fase 3 (salah satunya sedang diuji klinik di Bandung) serta 149 calon vaksin lainnya masih dalam taraf preklinik, artinya masih taraf di laboratorium dan belum pada manusia.

Uji klinik fase 3 memang sudah amat maju tahapannya, dan kalau berhasil, akan siap diproduksi. Hanya saja tentu kita semua menyadari bahwa ”uji” dalam bentuk apa pun, ada yang lulus dan ada yang tak lulus. Di antara yang lulus, ada yang angkanya bagus dan ada yang kurang bagus. Dalam hal uji klinik fase 3, vaksin di masa-masa lalu (untuk penyakit yang lalu) memang ada yang berhasil, tetapi ada juga yang gagal.

Antisipasi
Kalau vaksin yang sekarang sedang diuji klinik berhasil mencegah orang tidak tertular Covid-19—sesuai harapan kita—setidaknya ada lima hal yang perlu perhatian dan kita antisipasi sejak sekarang agar masyarakat Indonesia siap menghadapi berbagai kemungkinan kenyataan yang ada.

Pertama, apakah proteksinya benar-benar 100 persen, atau mungkin hanya sebagian, mungkin 70 persen, atau bahkan paling minimal 50 persen. Artinya, apakah mungkin saja walaupun sudah divaksin, pada sebagian orang masih ada kemungkinan tertular.

Sebuah penelitian modelling di Amerika Serikat menyampaikan, untuk memadamkan pandemi (kalau hanya mengandalkan vaksin semata tanpa social distancing), kita perlu mencakup 100 persen penduduk (sesuatu yang amat sangat sulit) kalau efektivitas vaksin hanya 60 persen; dan kalau hanya bisa mencakup 75 persen penduduk, maka efektivitas vaksin harus setidaknya 80 persen.

Kedua, berapa lama proteksi itu akan bertahan. Data berapa lama kekebalan bertahan pada pasien yang sembuh selama ini memang masih terbatas dan beberapa penelitian menyebutkan hanya dalam hitungan bulan saja.

Ketiga, apakah cara pemberiannya hanya sekali atau dua kali di awal, lalu apakah perlu diulang lagi sesudah beberapa bulan/tahun ke depan, atau perlu booster dan lain-lain.

Ini akan amat berpengaruh pada manajemen kebijakannya, termasuk aspek finansial, karena kalau pemberiannya harus diulang (pada semua orang), anggaran yang disiapkan harus sekian rupiah (atau dollar AS) kali sekian ratus juta penduduk, bukan jumlah yang kecil.

Keempat, apakah distribusi di lapangan relatif mudah atau barangkali perlu syarat-syarat tertentu (mungkin perlu disimpan dalam suhu rendah agar tidak rusak dan lain-lain). Ini akan tergantung dari jenis vaksinnya, dan tentu punya dampak penting, khususnya di daerah terpencil dengan transportasi yang sulit di negara kita. Distribusi ini akan melibatkan jutaan orang, baik petugas kesehatan, transportasi, manajemen, keamanan, maupun penggerakan peran serta masyarakat.

Kelima, apakah vaksin baru nanti boleh untuk semua orang, termasuk usia lanjut, ibu hamil, atau anak-anak? Beberapa penelitian vaksin kini hanya dilakukan pada kelompok umur tertentu, misalnya hanya diuji klinik sampai usia 59 tahun saja, sehingga belum tahu bagaimana dampaknya pada usia lanjut, dan juga tidak mengikutsertakan kelompok masyarakat tertentu (ibu hamil, kelompok dengan daya tahan tubuh rendah, dan lain-lain). Padahal, nantinya semua orang harus dapat vaksin sehingga perlu dipikirkan jalan keluarnya.

Semua pertanyaan ini baru dapat dijawab kalau uji klinik fase 3 sudah selesai, baik itu yang sekarang dilakukan di Bandung maupun yang simultan dilakukan di sejumlah negara lain. Hasil akhirnya akan dikompilasi dan dianalisis mendalam.

Sebenarnya banyak juga dipersoalkan tentang hal keenam, yaitu apakah mutasi virus yang sekarang sudah terjadi (termasuk di Indonesia), dan juga antibodi tertentu, akan memengaruhi efektivitas vaksin yang sedang dibuat. Data sejauh ini masih membuktikan berbagai calon vaksin tampaknya masih akan mampu menangani perubahan akibat mutasi yang kini ada.

Vaksin untuk semua
Sesudah vaksin nanti benar-benar ada, harus dijamin bahwa semua akan mendapatkannya, vaccine for all supaya penularan di muka bumi dapat dihentikan. Ini sejalan juga dengan prinsip ”no one is save until everyone is save”. Kalau masih ada sumber penularan, tentu masih akan mungkin orang lain tertular dan siklus pandemi yang sudah meluluhlantakkan berbagai sendi kehidupan akan terus berjalan.

Dalam hal ini, WHO dan berbagai badan internasional membentuk COVAX facility yang akan mendukung negara di dunia dalam pengadaan vaksin Covid-19 kalau nanti sudah tersedia. Kemampuan negara-negara tentu beragam. Di sisi lain, pada awal-awal produksi massal nantinya jumlahnya tentu belum akan cukup untuk semua penduduk dunia. Karena itu, akan diperlukan penahapan, yang oleh WHO disebut allocation framework.

Sejauh ini yang direkomendasikan adalah bahwa di awal-awal setidaknya ada produksi 3 persen jumlah vaksin yang akan diberikan kepada petugas kesehatan dan petugas sosial lapangan lain.

Kemudian kalau sekitar 20 persen vaksin tersedia, akan diprioritaskan kepada kelompok risiko tinggi, termasuk usia lanjut, mereka dengan penyakit penyerta (komorbid) atau pertimbangan khusus lainnya. Kalau kemudian persediaan sudah makin banyak, tentu akan mencakup seluruh masyarakat luas.

Harus diingat bahwa memvaksinasi semua penduduk satu negara tentu bukan hal sederhana. Mungkin banyak negara punya pengalaman panjang memberi vaksinasi kepada semua anak.

Namun, kalau untuk semua orang di semua golongan usia, manajemen distribusinya akan amat kompleks, menyangkut kebijakan politik di semua tingkat, SDM, sistem kerja, aspek sosiokultural, mobilisasi masa, peran serta masyarakat, demografi, finansial, dan lain-lain.

Belum lagi seandainya mungkin masih ada (dan tampaknya selalu ada) yang menolak divaksin dengan berbagai alasan. Tambahan lagi, bukan tidak mungkin satu negara menggunakan beberapa jenis/merek vaksin sekaligus, dengan berbagai variasinya.

Juga harus diperhatikan bahwa akan ada kegiatan post marketing surveillance, yaitu pengamatan hasil kerja vaksin yang sudah digunakan di lapangan, apakah semua baik (sesuai hasil uji klinik) ataukah ada kejadian-kejadian lain yang tak diinginkan. Semua ini perlu disiapkan secara amat rinci sejak sekarang, tinggal tiga bulan lagi menjelang awal 2021, lengkap dengan rencana kontingensinya, mengingat kemungkinan berbagai tantangan di lapangan.

Arahan Presiden Jokowi jelas menyebutkan perlu disusun rencana detail pemberian vaksin Covid-19 dan ini harus telah tersedia dalam waktu dekat ini.

Sementara kita menunggu perkembangan vaksin (dan juga obat) Covid-19 (bahkan tampaknya setelah vaksin ada tetapi belum cukup ampuh mencakup semua penduduk), memang kita harus bergantung penuh pada kepatuhan protokol kesehatan, mulai dari yang mendasar sampai mungkin pembatasan sosial yang ketat. Untuk ini, kebijakan yang tepat, peraturan yang tegas, sosialisasi yang masif, monitoring dan evaluasi situasi pandemi berdasar bukti ilmiah, serta peran serta aktif semua pihak menjadi hal yang paling utama.

Pandemi Covid-19 yang betul-betul memorakporandakan dunia kembali membuktikan bahwa ”Health is not everything, but without health everything is nothing”.

Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Paru FKUI; Mantan Direktur WHO SEARO; dan Mantan Dirjen P2P dan Kepala Balitbangkes.

Sumber: Kompas, 8 Oktober 2020

Share
%d blogger menyukai ini: