Home / Berita / Antara Jadi Swasta dan Peneliti

Antara Jadi Swasta dan Peneliti

Anda tak perlu heran jika alumni jurusan matematik FMIPA UI, IPB, ITB, ITS atau Universitas Airlangga kini banyak bekerja di perbankan dan perasuransian. Semuanya sah-sah saja. Apalagi menurut Prof Andi Hakim Nasution, yang paling utama di universitas adalah mengajarkan dan melatihkan teknik menguasai pengetahuan dan mengembangkan pengetahuan. Apa saja pengetahuannya tidak jadi soal. Karenanya, warga IPB tak perlu marah jika ada yang mengolok-olok IPB sebagai Institut Publisistik Bogor karena banyak lulusannya menjadi wartawan. ”Mereka masih bekerja di bidangnya, karena mereka menjadi komunikator ilmiah,” ujarnya.

Sektor jasa dan industri yang kini mulai berkembang pesat di Indonesia, ikut mengetuk menara gading perguruan tinggi. Ilmu dasar yang tadinya hanya dikaji sebagai ilmu dasar, kini mulai bergeser dengan orientasi pasar.

Menurut Dekan FMIPA ITS , Surabaya, Soegimin WW, telah terjadi gelombang revolusi cara berpikir di kalangan pengajar di perguruan tinggi untuk menghindarkan diri dari utopia keilmuan. Dulu, pengajar MIPA berpikir secara eksklusif, memandang ilmu sebagai ilmu. Tak perduli dunia pergi kemana, matematika adalah matematika, dulu begitu.

“Pikiran demikian kini sudah berubah. Akademisi MIPA kini sudah tertantang untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, dalam hal ini institusi produksi, dan bukan lagi berpikir di awang-awang,” katanya. Akibatnya tak mengherankan jika sektor swasta lalu lebih menjadi pilihan utama para mahasiswa fakultas/jurusan ilmu dasar jika mereka lulus kelak, karena profesi peneliti dan pengajar umumnya dinilai kurang besar imbalannya.

Ini terungkap dari pengakuan belasan mahasiswa fakultas/ jurusan ilmu dasar USU, UI, IPB,
ITB, Unpad, Unsoed. UGM, Unair, ITS hingga Unhas ketika diwawancara Kompas.

Sontang Sihotang misalnya, mahasiswa jurusan fisika FMIPA USU mengaku ia sengaja memilih flsika yang menjadi minatnya sejak di SMA. Selain itu ia melihat peluang untuk bisa mengembangkan teknologi komputer. ”Lulusan jurusan Fisika FMIPA USU kini sedang diminati perusahaan-perusahaan besar. Jadi saya tak khawatir dengan pekerjaan setelah saya lulus nanti,” tuturnya.

Dina dan Awetri, keduanya mahasiswa Jurusan matematika UI angkatan 1988 mengaku meminati bidang matematlka sejak usia sekolah. Program studi yang mereka pilih adalah riset operasi, karena kemungkinan aplikasi di lapangan atau perusahaan sangat luas, misalnya untuk menentukan strategi peningkatan produksi. Mereka lebih cenderung masuk swasta karena lebih banyak tantangannya. Aris dan Heri dari jurusan fisika UI angkatan 1990 juga lebih berminat masuk ke swasta, seperti perusahaan pemboran minyak atau komputer. Begitu pula dengan mahasiswa jurusan kimia UI, seperti Nining (angkatan 1989) dan Sri (angkatan 1990) yang menggemari bidang biokimia. Setelah lulus nanti mereka berniat bekerja di laboratorium industri swasta. ”Lulusan kimia UI tak ada yang menganggur. Mereka kalau bekerja di swasta bakal mau kalau digaji cuma Rp 500.000,” tutur Drs. Markus G. Sabiyakto, dosen biokimia Jurusan Kimia FMIPA UI.

DEKAN FMIPA UGM, Drs. Suryo Guritno MStat PhD juga menyatakan jarang lulusan fakultasnya yang mau menjadi pegawai negeri, karena dinilai tak mampu memberi imbalan yang sepadan. ”Yang diincar adalah perusahaan-perusahaan swasta yang mampu menggaji tinggi, lebih dari Rp 1,5 juta sebulan. Sampai-sampai BPIS (Badan Pusat Industri Strategis) berjanji memberi imbalan tambahan kepada sarjana MIPA yang bersedia bekerja di sana. Setiap tahun BPIS mencari 100 sarjana MIPA, tapi nyatanya jarang yang memanfaatkan,” katanya.

Djadjat seorang lulusan jurusan biologi ITB, ia keluar dari pekerjaannya di sebuah lembaga penelitian. Sekarang ia lebih banyak bergelut sebagai konsultan pembuat Amdal. Alasannya, ini lebih cocok dengan bidang ilmu yang digelutinya, serta pengalaman yang cukup luas sebagai aktivis LSM di Jabar. Menyinggung soal kepuasan, ia mengaku secara materi dan profesi lebih terpuaskan di bidang yang sekarang. Selain sesuai dengan ilmu yang diperolehnya, juga sesuai dengan prinsip konservasi lingkungan yang diyakininya selama sekitar 9 tahun menjadi aktivis LSM pecinta lingkungan di Jabar.

Bahri, mahasiswa FMIPA Unhas angkatan tahun 1990, menyatakan memilih Biologi karena sesuai dengan minatnya sejak di SMA yakni menggeluti ilmu-ilmu murni (basic science) dan memang punya dasar kuat. Jika studinya selesai, ia ingin bekerjadi swasta. Alasan tidak ingin bekerja di negeri karena swasta –akibat kemajuan bisnis– semakin mengarah kepada pengembangan agroindustri yang memerlukan semakin banyak tenaga yang mempunyai latar belakang pendidikan biologi.

Lainnya, Abdul Rahman, juga mahasiswa FMIPA Unhas angkatan 1991, memilih jurusan Biologi karena melihat adanya suatu “rahasia” alam yang menantang untuk dipelajari secara mendalam. “Mengapa manusia, hewan dan tumbuhan bisa hidup. Mengapa sel sebagai bagian terkecil dari suatu organisme hidup baik strktutural maupun fungsional merupakan awal terbentuknya suatu mahluk.” ujarnya. Ia ingin bekerja di negeri agar memiliki kesempatan untuk meneliti lebih jauh.

ALASAN yang sama diungkapkan Dr Antonius Suwanto, mikrobiolog staf pengajar jurusan biologi FMIPA IPB (baca tulisan pertama), yang mengaku tertarik pada pemahaman rahasia alam dan kesempatan yang lebih luas untuk meneliti. ”Walaupun minat untuk masuk ke jurusan biologi meningkat, namun yang ingin jadi scientist masih sedikit,” tuturnya.

Memang imbalan materi bukanlah segalanya. Masih ada juga kader-kader peneliti ilmu dasar yang all-out. seperti Antonius Suwanto. Ia tak begitu mempersoalkan gaji yang kecil, karena kebetulan istrinya juga bekerja.

Atau peneliti yang masih bujangan seperti Ir Utut Widyastuti (26), sarjana biologi lulusan FMIPA IPB yang selain menjadi pengajar di fakultasnya juga menjadi staf peneliti di PAU Bioteknologi IPB. Walaupun gajinya cuma sekitar Rp 250.000 sebulan, ia tetap tekun meneliti kromosom kedelai hingga ke tingkat gen untuk tesis magisternya yang bakal segera dirampungkannya.

“Suasana penelitian di PAU Bioteknologi IPB enak. Saya puas jika bisa ikut berbicara dalam bidang penelitian ilmu dasar. Sejak tahun kedua di IPB saya sudah tertarik pada genetika tanaman. Sekarang saya tertarik pada pengaturan ekspresi gen tanaman, yang bisa membantu upaya pemuliaan tanaman. Saya tak perlu iri dengan teman-teman yang banyak bekerja di industri,” tutur Utut.

Seyogyanyalah pemerintah lebih memberikan perhatian kepada pengembangan sumber daya manusia yang mau menggeluti bidang-bidang ilmu dasar. Karena tanpa ilmu dasar yang kuat, pengembangan ilmu terapan pun akan mengalami kejenuhan. Begitu pula dengan kekayaan sumber daya hayati dan alam Indonesia yang amat melimpah, hanya akan dimanfaatkan oleh Negara-negara yang kuat penelitiannya. Sudah menjadi hukum alam: eksploitasi akan terjadi oleh mereka yang lebih kuat dan menguasai iptek.
…masuki teknologi superkonduktor dan nanoelektronik maka teknologi kita tidak akan sampai ke sana, kita tidak akan mampu mengejar, dengan kurikulum yang ada sekarang. Salah satu cara ahli MIPA harus mendekati dan bisa menterjemahkan pengetahuan yang ada di pasaran internasional diubah menjadi teknologi, seperti yang dilakukan Jepang. Kalau ilmunya hanya diajarkan pada semester pertama dan kedua, seperti sekarang, katanya, tidak cukup untuk menangkap isyarat teknologi modern seperti superkonduktor. Karena itu ilmu-ilmu pengetahuan diajarkan di fakultas teknik minimum sampai tingkat tiga,” kata Dekan FMIPA UI ini bersemangat.

Untuk mencapai tujuan di atas, lanjut Parangtopo, kebijaksanaan FMIPA UI saat ini adalah membuat applied science yang lebih teknologis seperti geofisika dan instrumentasi. Sayangnya, para teknolog di UI belum mau mengubah sikap, karena menganggap ilmu dan teknologi merupakan hal yang berbeda.

”Ini merupakan kekeliruan yang besar. Di Jepang dan AS orang teknik mengambil doktor bidang ilmu dan sebaliknya ilmuwan mendalami teknologi merupakan hal yang biasa. Di Indonesia dianggap hal yang aneh. Padahal ahli yang dasarnya ilmu namun keahliannya teknologi, nantinya akan menjembatani ilmu pengetahuan ke teknologi,” kata Parangtopo. Dengan terjunnya ilmuwan ke ilmu terapan dan teknologi, juga sebaliknya teknolog yang merambah ke bidang ilmu, maka dapat terjadi hubungan yang kuat. Kalau tidak begitu tidak akan terjadi penpenguasaan teknologi di Indonesia.

Sumber: Kompas, tanpa tanggal

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: