Anggaran Penelitian; Bangun Budaya Riset Industri

- Editor

Kamis, 26 Juni 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mayoritas industri yang ada di Indonesia merupakan industri primer yang hanya mengambil sumber daya alam sehingga tak butuh riset. Jika pemerintah ingin menumbuhkan budaya riset di industri, harus dibangun sistem yang mewajibkan industri untuk mengolah sumber daya alam yang diambil.

”Selama industri tak diwajibkan mengolah bahan mentah yang diperoleh di Indonesia, riset atau hasil riset tak akan dipakai industri dalam negeri,” kata Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia Warsito W Purwo, di Frankfurt, Jerman, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (25/6).

Anggaran riset Indonesia pada 2009 hanya 0,08 persen dari produk domestik bruto. Dari jumlah itu, sumbangan industri manufaktur hanya 18,7 persen. Sisanya ditopang pemerintah dan perguruan tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wakil Ketua Umum Dewan Riset Nasional Betti Alisjahbana menyatakan, anggaran riset yang kecil seharusnya dimanfaatkan secara fokus dan terarah pada bidang yang jadi persoalan bangsa, seperti sektor pangan dan energi yang mengandalkan produk impor. ”Makin banyak hasil riset memberikan manfaat langsung, minat pemerintah dan industri untuk berinvestasi dalam riset akan kian besar,” kata dia.

Untuk mendorong masyarakat mau memakai dan mencintai produk berbasis riset anak bangsa, kampanye pemakaian produk dalam negeri harus terus dilakukan. Dengan kesadaran itu, produk anak bangsa bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Sumber daya manusia
Warsito mengatakan, industri yang tak fokus pada eksploitasi sumber daya alam dituntut selalu berinovasi agar bisa bertahan dan berkelanjutan. ”Persoalan bagi industri yang harus berinovasi di Indonesia adalah sumber daya manusia, bukan dana,” ujarnya.

Mayoritas tenaga penelitian dan pengembangan (litbang) di perusahaan-perusahaan manufaktur Indonesia tak melakukan riset bagi perusahaannya karena tak tahu kebutuhan perusahaan dan tak memahami tahapan riset. Karena itu, tenaga litbang di institusi pemerintah dan perguruan tinggi bisa diberdayakan demi membantu membangun sistem riset di industri.

Jika pemerintah ingin memberi insentif riset, bantuan itu seharusnya diberikan komprehensif. Insentif itu seperti pengurangan pajak dan bea masuk, kemudahan perizinan, bantuan tenaga litbang atau hal lain yang mempermudah riset industri.

Namun, Warsito menilai dampak insentif itu bagi perusahaan besar tak akan dirasakan langsung. Karena itu, insentif perlu difokuskan bagi industri kecil dan menengah berbasis riset dan teknologi, khususnya perusahaan rintisan yang kini menjamur. ”Kendala utama perusahaan rintisan itu adalah modal kerja dan perizinan,” ujarnya. (MZW)

Sumber: Kompas, 26 Juni 2014

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB