Anggaran Lembaga Riset Terus Dipangkas

- Editor

Selasa, 14 Juni 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penguasaan Iptek Belum Prioritas
Pemerintah terus memangkas anggaran bagi lembaga riset, di antaranya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Badan Tenaga Nuklir Nasional. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi belum jadi prioritas, padahal itu modal dasar pembangunan.

Tanpa pemangkasan pun, anggaran lembaga riset selama ini kecil sehingga dana penelitian minim. Belanja riset dan pengembangan nasional hanya 0,09 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia atau sekitar Rp 10 triliun setahun.

Pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dua pertiga anggarannya untuk belanja pegawai atau gaji dan operasional sehingga tersisa sepertiga anggaran untuk riset. Di beberapa satuan kerja, gaji dan operasional 80 persen anggaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, besaran gaji dan operasional LIPI tak mungkin dikurangi sehingga anggaran non-operasional, termasuk riset, pun dikorbankan. “Artinya, para peneliti digaji untuk tak bekerja. Bagaimana pengembangan dan penguasaan iptek akan terwujud dengan kondisi ini,” ucap Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain, Senin (13/6), di Jakarta.

Iskandar mengatakan, pagu (batas maksimal anggaran) indikatif LIPI untuk 2017 Rp 1,166 triliun. Itu turun sekitar Rp 16 miliar ketimbang anggaran LIPI 2016 dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P), yakni Rp 1,182 triliun. Angka Rp 1,182 triliun termasuk pinjaman luar negeri Rp 117,13 miliar. Sebelumnya, Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) LIPI 2015 Rp 1,307 triliun, lebih tinggi Rp 125 miliar daripada tahun ini.

Dana riset yang pada 2016 Rp 356,2 miliar, pada 2017 turun jadi Rp 343,8 miliar. LIPI tak pernah menerima penjelasan alasan pemotongan. Menurut Iskandar, dana riset idealnya lebih besar ketimbang anggaran belanja pegawai dan operasional.

55ffd72fe4ae44f5ab7077f8d2ba3dd6Lembaganya kini mencoba menggali sumber non-APBN, seperti dari Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta kerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Adapun kerja sama dengan industri masih sulit diharapkan.

Enny Sudarmonowati, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, mencontohkan dampak pemangkasan anggaran LIPI tahun depan, yakni dana eksplorasi keanekaragaman hayati di pulau- pulau terluar turun sehingga ketimpangan data sulit dikejar. Dana riset potensi sumber daya hayati pun dipotong, padahal itu berkontribusi menemukan sumber baru kesejahteraan.

Batan
Menurut Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto, pemangkasan anggaran Batan sudah terjadi berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2016. Awalnya, Batan dijatah Rp 814 miliar, lalu dikurangi jadi Rp 760 miliar untuk penghematan anggaran.

“Kami memotong 23,3 persen anggaran non-operasional, termasuk untuk riset,” kata Djarot. Sebab, Batan tak mungkin mengurangi anggaran gaji dan operasional 57,21 persen dari total anggaran yang sudah minim.

Padahal, Batan bertugas mengawal pembangunan Agro Techno Park (ATP) dan kawasan iptek di Kabupaten Musi Rawas (Sumatera Selatan), Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat), dan Kabupaten Klaten (Jawa Tengah). Anggaran pun jadi Rp 15 miliar dari yang awalnya Rp 35 miliar untuk pembangunan ATP dan STP. Jika pemangkasan terus terjadi, program yang dimandatkan pemerintah pusat itu bisa gagal.

Selain itu, Batan mengembangkan sejumlah radiofarmaka dan senyawa bertanda dengan fungsi diagnosis dan terapi berbagai penyakit, penyediaannya bekerja sama dengan PT Kimia Farma. Jika dana berkurang, Batan tak punya biaya evaluasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan sehingga pasokan terancam dihentikan.

Untuk 2017, pagu indikatif Batan Rp 806,9 miliar, lebih rendah daripada pagu definitif 2016, tetapi lebih tinggi ketimbang anggaran setelah penghematan. Padahal, sebelumnya Presiden Joko Widodo menyatakan dana riset ditingkatkan dalam 5 tahun ke depan (Kompas, 17/9/2014).(JOG)
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Juni 2016, di halaman 13 dengan judul “Anggaran Lembaga Riset Terus Dipangkas”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru