Home / Berita / Anak-anak di Lautan Media Sosial

Anak-anak di Lautan Media Sosial

Melarang anak mengakses media sosial bukan jalan keluar efektif untuk menghindarkannya dari dampak negatif. Sebagai generasi yang dilahirkan di era digital (digital native), anak-anak masa kini sejak awal sudah terpapar produk teknologi digital.

Media sosial bukannya tidak memberikan dampak positif, tetapi penggunaannya memerlukan bimbingan dan pendampingan orangtua. Jika tidak, anak bisa menjadi sasaran predator atau pihak lain yang berniat jahat. Ibarat hutan belantara atau jalan raya, media sosial bisa membuat anak tersesat atau terlibas.

”Kakak saya cerita, anaknya tidak dibolehkan pakai sosmed (social media). Suatu kali, anak saya chatting di messenger Facebook. Ternyata dengan sepupunya, anak kakak saya itu. Dia punya tiga akun, semuanya pakai foto dan nama palsu. Meski tidak diberi handphone, dia bisa pinjam milik pembantu,” kata Ainun Chomsun, ahli media sosial, dalam Joy Parenting Forum yang digelar di FeMale Radio Lounge beberapa waktu lalu.

Ainun sendiri menghindari melarang anaknya agar anaknya tidak sembunyi-sembunyi memakai medsos di belakangnya. Sebagai ganti, ia memberi kesempatan dengan syarat pendaftaran menggunakan e-mail-nya. Dengan begitu, Ainun bisa memonitor aktivitas anak di medsos. Ia juga membuat sejumlah aturan, misalnya anak hanya boleh berteman di dunia maya dengan orang yang dikenal di dunia nyata. Anak juga tidak diperkenankan tukar-menukar kata rahasia di akun medsosnya dengan orang lain, termasuk saudara dekat. Ini untuk menghindari penyalahgunaan.

a39cf3193fc240248c9471da1a6043d7KOMPAS/LUCKY PRANSISKA–Penting bagi orangtua mengawasi anak-anak saat berselancar di dunia maya melalui gawainya. Pilihan bijak bisa melindungi anak-anak dari dampak buruk teknologi.

”Orangtua perlu berteman dengan anak di medsos agar bisa memantau yang dilakukan anak. Tetapi, hindari menegur di depan umum yang membuat anak malu agar orangtua tidak diblok. Malah tidak bisa akses sama sekali,” kata Ainun.

Sopan santun
Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa seperti halnya di dunia nyata, di dunia maya juga perlu menjaga sopan santun dan perkataan yang dituangkan dalam tulisan atau status. Apa yang sudah diluncurkan akan sangat sulit hilang di dunia maya. ”Meski sudah dihapus, bisa saja ada yang pernah screen capture tulisan kita. Banyak ’malaikat’ pencatat di sosmed. Ada lho orangtua yang melaporkan teman anaknya karena menganggap status teman si anak mencemarkan nama baik. Padahal, si teman menganggap hanya bercanda. Oleh polisi, kasus ini diproses,” kata Ainun.

Hal serupa diungkapkan Edwin Syarif Agustin, ahli media sosial, yang juga seorang ayah. Agar bisa mengikuti sekaligus melindungi anak, orangtua sebagai generasi imigran digital perlu banyak belajar agar tidak gagap teknologi (gaptek). Setidaknya, orangtua mengetahui jenis medsos yang sedang digandrungi anak dan cara kerja masing-masing, seperti Instagram, Line, Youtube, atau Path. Facebook (FB) pernah sangat disukai remaja, tetapi kini mulai ditinggalkan.

”Ada yang namanya Snapchat. Bisa tukar video atau foto yang dalam beberapa detik akan terhapus secara otomatis sehingga tidak bisa dilacak balik. Ini berpotensi membahayakan anak. Untung di sini hanya populer sebentar. Barangkali karena server dan bandwidth belum memadai,” kata Edwin.

Orangtua perlu mengetahui aspek sekuriti, privasi, dan proteksi sebuah media sosial. Edwin dan Ainun lantas berbagi pengalaman dan kiat. Misalnya, di FB, bisa diatur siapa saja yang bisa berteman atau melihat isi akun, atau apa saja yang bisa muncul di dinding dari hasil tautan orang lain.

Untuk Instagram, meskipun bisa dimanfaatkan untuk mengekspresikan diri atau mengasah kreativitas lewat foto atau video 15 detik, tetapi juga membawa risiko anak terpapar unsur pornografi. Misalnya, lewat bagian search atau lewat tanda pagar tertentu, anak bisa mengakses foto-foto apa saja yang beredar, yang bukan tidak mungkin mengandung unsur pornografi atau kekerasan.

Untuk Youtube, belum ada jalan lain kecuali menemani anak ketika mengaksesnya. Sementara Twitter, keduanya sepakat, karakternya sangat terbuka sehingga menyulitkan untuk upaya proteksi anak. Di medsos ini, orang sangat bebas berkicau, berkomentar, melekatkan foto atau menautkan link yang berisiko membahayakan anak.

Psikolog Vera Itabiliana menekankan perlunya orangtua meningkatkan kuantitas dan kualitas komunikasi langsung dengan anak. Isi pembicaraan bisa tentang apa saja, tidak hanya soal pelajaran atau sekolah. ”Selain itu, orangtua perlu berpikir matang sebelum memutuskan memberi gawai kepada anaknya. Tetapkan pula aturan sebelum si anak mulai pakai gawai,” kata Vera.

Misalnya, seperti yang ia terapkan sendiri kepada anaknya. Ia baru mulai memberi ponsel pintar ketika anaknya di SMP. Vera lalu membuat perjanjian bahwa ia boleh mengetahui kata rahasia akun medsos dan gawai anaknya. Vera juga boleh membuka gawai anaknya kapan saja. Selain itu, pemakaian gawai tidak boleh di dalam kamar agar mudah dipantau. (SRI REJEKI)
————————————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Oktober 2015, di halaman 30 dengan judul “Anak-anak di Lautan Media Sosial”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: