Home / Berita / Anak Alergi Berisiko Rendah Terkena Radang Usus Buntu

Anak Alergi Berisiko Rendah Terkena Radang Usus Buntu

Alergi dan dan radang usus buntu adalah masalah kesehatan umum di dunia, termasuk Indonesia. Ternyata ada hubungan antara kedua masalah kesehatan tersebut. Penelitian di Swedia menunjukkan, anak-anak alergi berisiko lebih rendah terkena apendisitis atau radang usus buntu.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET)–Saroh (26) terbaring di ruang perawatan setelah menjalani operasi usus buntu di RSU Siloam Karawaci, Kabupaten Tangerang, Senin (23/7/2012).

Penelitian berjudul “Hubungan Alergi yang Dimediasi IgE dengan Risiko Apendisitis Kompleks pada Anak-anak” itu dimuat dalam jurnal JAMA Pediatrics edisi 6 Agustus 2018 yang juga dipublikasikan sciencedaily.com 7 Agustus 2018. Penelitian dilakukan tim dari Universitas Lund, Swedia, di antaranya Martin Salö dan Johanna Gudjonsdottir, dan Erik Omling.

Apendisitis tersebar luas di kalangan anak-anak dan remaja, dan kondisi ini merupakan penyebab paling umum dari operasi perut darurat di dunia. Sepertiga dari anak-anak yang terkena memiliki radang usus buntu kompleks yang memerlukan lebih lama tinggal di rumah sakit dan kadang-kadang beberapa operasi. Belum jelas mengapa beberapa anak dipengaruhi oleh bentuk apendisitis yang lebih serius, atau apakah mungkin untuk mencegahnya.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Anak-anak bermain di RPTRA Jakarta, Selasa (24/7/2018). Anak-anak sering menderita alergi dan radang usus buntu.

Satu teori menyatakan bahwa radang usus buntu kompleks tergantung pada respons imunologi atau kekebalan tubuh yang berbeda dengan respons pada kasus apendisitis tanpa komplikasi. Menurut teori ini, anak-anak dengan alergi memiliki risiko lebih rendah terkena radang usus buntu kompleks, karena respons imunologinya berbeda dari anak-anak non-alergi. Namun, ini belum diselidiki lebih dekat sampai sekarang.

Untuk membuktikan teori tersebut, peneliti melibatkan semua anak di bawah usia 15 tahun yang menjalani operasi untuk radang usus buntu di Rumah Sakit Universitas Skåne di Lund, Swedia. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu 1 Januari 2007 hingga 31 Juli 2017 terhadap 605 anak.

Para peneliti membandingkan hasil terhadap anak-anak dengan alergi yang dimediasi protein yang berperan dalam alergi yaitu imunoglobulin E (IgE) yang berjumlah 102 anak dengan anak-anak tanpa alergi yang dimediasi IgE (503 anak). Di antara anak-anak dengan alergi yang dimediasi IgE, sebanyak 19,6 persen anak-anak mengalami komplikasi apendisitis yang lebih rumit. Pada kelompok anak-anak tanpa alergi yang dimediasi IgE, 46,9 persen terpengaruh.

KOMPAS/JEAN RIZAL LAYUCK (ZAL)–Petani Kota Tomohon Daniel Polii memetik bunga krisan di tempat persemaian, house green miliknya di Kelurahan Kakaskasen, Sulawesi Utara, 5 Agustus 2018. Serbuk sari bunga sering menimbulkan alergi pada anak-anak dan remaja.

Dengan kata lain, ilmuwan menemukan bahwa bentuk alergi yang paling umum, seperti alergi terhadap serbuk sari dan bulu hewan, dikaitkan dengan tiga kali risiko lebih rendah mengembangkan apendisitis kompleks. Risiko yang lebih rendah tetap ada ketika risiko apendisitis lebih tinggi, seperti usia yang lebih rendah dan gejala yang bertahan lama.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO (KUM)–Qori Soelaiman, pendiri Yayasan Peduli Kucing memberi makan kucing peliharannya di rumahnya, Desa Pasir Jengkol, Kecamatan Majalaya, Karawang, Jawa Barat, Selasa (10/5/2016). Bulu hewan sering menimbulkan gejala alergi pada anak-anak dan remaja.

“Hasil penelitian mendukung teori bahwa apendisitis kompleks memiliki perkembangan imunologi yang berbeda dibandingkan dengan apendisitis tanpa komplikasi. Hasilnya juga memberikan petunjuk yang kami harap dapat mengarah pada pengembangan alat diagnostik baru seperti tes darah,” ujar Martin Salö.

Di Amerika Serikat, para peneliti dari Children’s Minnesota (Children’s) dan HealthPartners Institute telah mengembangkan kalkulator risiko apendisitis pediatrik baru (pARC) untuk membantu diagnosis apendisitis.

Dalam jurnal Pediatrics yang dipublikasikan sciencedaily.com 13 Maret 2018, para peneliti menjelaskan metode baru untuk menghitung risiko spesifik pasien untuk radang usus buntu. Dengan metode baru ini, dokter akan dapat memberikan bimbingan medis dan bedah yang disesuaikan kepada pasien.

“Metode ini sangat bermanfaat bagi pasien kami dan sistem perawatan kesehatan secara keseluruhan. Kami juga mengurangi penggunaan tes dan biaya medis yang tidak perlu,” kata Anupam Kharbanda, Kepala Layanan Perawatan Kritis di Children’s Minnesota.

Sumber: Kompas, 8 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Kenormalan Baru Jangan Jadi Abnormal Lagi

Pelonggaran pembatasan sosial berskala besar demi aktivitas ekonomi harus dilakukan secara hati-hati dengan kajian epidemiologis. ...

%d blogger menyukai ini: