Home / Berita / Ampas Kopi pun Jadi Sumber Energi

Ampas Kopi pun Jadi Sumber Energi

Biopelet atau pelet yang berasal dari tumbuhan potensial sebagai sumber energi baru ramah lingkungan. Bahannya bisa dari berbagai macam limbah tumbuhan, salah satunya dari ampas kopi yang memiliki nilai kalor setara dengan kualitas batubara energi rendah.

Kebutuhan akan bahan bakar yang bersih, minim emisi dan risiko, serta berkelanjutan menginisiasi penemuan berbagai bentuk baru. Seperti pelet kayu atau woodpellet yang dikembangkan sejak lima dekade terakhir. Bermula dari strategi mengatasi krisis energi saat itu, kini produknya terus berkembang dengan memanfaatkan ampas kopi, teh, kina, kakao, rumput, hingga limbah batang sawit hasil peremajaan.

Pelet sebagai bahan bakar ini biasanya dipakai sebagai pengganti atau dipakai bersama batubara pada pembangkit listrik maupun tungku industri. Di saat harga batubara terus merangkak naik seperti saat ini, berbagai pihak memperkirakan permintaan pelet ini kian meningkat.

Di sisi lain, sumber woodpellet, yaitu dari limbah gergajian maupun langsung dari batang kayu jumlahnya akan terbatas dan belum mampu memenuhi permintaan industri. Dibutuhkan sumber bahan baku alternatif untuk menjembatani hal ini.

ARSIP/LISMAN SURYANEGARA–Biopelet dari ampas kopi.

Hal tersebut mendorong Lisman Suryanegara, peneliti Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mencari sumber atau alternatif material lain sebagai sumber biomassa, sebagai tambahan kayu. Ampas kopi dipilihnya karena Indonesia sebagai penghasil kopi yang signifikan di dunia.

Berdasarkan Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017, produksi kopi di Tanah Air mencapai 639.412 ton (2015). Masih sumber data dan tahun yang sama, sekitar 502.021 ton kopi diekspor dan Indonesia hanya mengimpor 31.492 ton.

Lisman menamai produk yang dihasilkannya itu dengan biopelet atau pelet yang berasal dari tumbuhan. Ia mendapatkan ampas kopi ini dari perusahaan kopi instan.

Awalnya, limbah kopi ini “hanya” diolah menjadi pupuk tanaman, biogas, maupun pakan ternak. Siapa sangka, setelah diproses menjadi biopelet, ampas kopi ini memiliki nilai kalor yang tinggi. Hasil ujinya menunjukkan biopelet bikinannya memiliki nilai kalor 5.000 – 5.100 kalori per gram (woodpellet sekitar 4.100 kal/gr) atau setara dengan kualitas batubara energi rendah.

Bahan bakar alternatif ramah lingkungan ini dibuat dari campuran limbah gergaji dan ampas kopi. Limbah gergaji ini biasanya memiliki lignin kayu yang menjadi perekat alami ketika dipanaskan. Kandungan alami membuat serbuk ampas kopi yang telah dikeringkan bisa merekat dan tak rontok saat dikemas dan ditranspor ke berbagai daerah.

Bahan bakar alternatif ramah lingkungan ini dibuat dari campuran limbah gergaji dan ampas kopi. Limbah gergaji ini biasanya memiliki lignin kayu yang menjadi perekat alami ketika dipanaskan.

Meski demikian, kata Lisman, tanpa campuran serbuk kayu, biopelet berbahan kopi bisa lengket dengan penambahan tepung tapioka. Hal ini sudah umum. Di Skotlandia, ia menemukan woodpellet dicampur dengan tepung jagung dengan kadar sekitar 2 persen.

Proses pembuatan biopelet hampir tak beda dibandingkan pembuatan pelet kayu. Alat pembuat pelet pun sudah banyak dijual secara bebas secara daring dengan berbagai kapasitas dan ukuran. Sekadar info, kata Lisman, Korea dan Jepang menyukai pelet dengan diameter 6 milimeter sedangkan di Indonesia menyukai pelet dengan diameter 8 milimeter, bahkan beberapa meminta ukuran 10 – 12 milimeter.

Lisman mengatakan, proses pembuatan biopelet cukup sederhana. Dimulai dari proses pengeringan ampas kopi dengan menggunakan pengering putar (rotary drier). Kemudian, ampas kering dimasukkan dalam pelletiser atau alat pembuat pelet yang secara otomatis mengubah serbuk kopi dan atau tanpa serbuk kayu itu menjadi pelet.

Hasil produksi ini kemudian diuji kadar kalorinya. Biopelet ampas kopi dengan kadar air 3,45 persen memiliki nilai kalori sebesar 5.632 kal/gram sedangkan ampas kopi dengan kadar air 0,7 persen memiliki kalori 6.128 kal/gram. Ia pun menjajal biopelet berbahan limbah teh kering yang sudah dioven memiliki kalor sebesar 4.793 kal/gram. Nilai kalori ampas kopi dan teh tersebut jauh di atas standar minimum kalori biopelet berdasarkan SNI 8024:2014, yaitu 4.000 kal/gram.

Penelitiannya sejak dua tahun lalu ini memformulasikan takaran bubuk kopi dan serbuk kayu dalam beberapa nilai hingga menemukan perbandingan yang efektif dan efisien. Ia enggan menyebutkan formula itu dengan alasan saat ini sudah ada perusahaan woodpellet yang tertarik mengambil lisensi temuannya ini.

Perusahaan itu bahkan telah mengirimkan alat pengolah dengan kapasitas 300 kilogram untuk mengujicoba lebih massal. “Biar nanti perusahaan ini jalan dulu karena dia baik-baik mau mengambil lisensi dari LIPI,” kata dia.

Biopelet dari ampas kopi ini pun pernah diujicobakannya pada pabrik tekstil di Bandung yang menggunakan bahan bakar batubara. Nyala api yang dihasilkan dari biopelet ini berwarna merah – orange serta tidak mengeluarkan asap pada awal pembakaran. Hasilnya, uji coba per hari untung 1,5 juta.

Biopelet dari ampas kopi ini pun pernah diujicobakan pada pabrik tekstil di Bandung yang menggunakan bahan bakar batubara. Hasilnya, uji coba per hari untung 1,5 juta.

“Dia (pabrik tekstil) ini minta carikan 600 ton. Dia mau ganti batubara, tapi harus ada kontrak jaminan ketersediaan barang,” kata dia.

Permintaan tinggi
Saat harga batubara rendah saja, seperti kemarin, ia menjumpai permintaan woodpellet sangat tinggi. Terutama untuk tujuan ekspor ke Jepang dan Korea. Ia pun menunjukkan sebuah badan usaha milik negara yang membutuhkan 3.000 ton woodpellet per bulan, mengeluhkan kesulitan mencari barang karena banyak tersedot para supplier eksportir tujuan Jepang dan Korea.

“Jangankan ke luar negeri, untuk memenuhi permintaan dalam negeri saja kurang,” kata Lisman.

Menurut data Departemen Perdagangan Amerika Serikat tahun 2016, Jepang dan Korea Selatan merupakan 10 besar importir woodpellet di dunia bersama Inggris, Denmark, dan negara eropa lain. Di Asia, merekalah yang menyerap woodpellet dari Kanada, China, Vietnam, Malaysia, dan Rusia. Namun, Indonesia tak tercatat sebagai pemain penting woodpellet dalam data itu.

Negara-negara tersebut menggunakan pelet kayu sebagai bahan bakar. Salah satu alasannya adalah mengurangi emisi karbon sebagai kontribusi pada pengendalian perubahan iklim serta menekan emisi pencemaran udara akibat batubara.

Selain itu, abu dari pembakaran batubara digolongkan sebagai limbah beracun dan berbahaya (B3). Dengan kata lain, penanganan dan pengelolaannya memerlukan izin khusus dari pemerintah (di Indonesia: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Sedangkan ampas pelet dari kayu maupun biomassa lain merupakan abu bakaran biasa yang bisa digunakan sebagai campuran pupuk.–ICHWAN SUSANTO

Sumer: kompas, 28 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: