Home / Berita / Alzheimer; Membuka Hati untuk Memahami

Alzheimer; Membuka Hati untuk Memahami

Nobuko (75), yang dulu aktif dalam kegiatan merangkai bunga jepang, kini tergolek di tempat tidur. Berat badannya turun drastis. Tak hanya itu, ia pun nyaris lupa semua kejadian dalam hidupnya.

”Nobu-chan,” sapa Ratna Kahoru (46), putri bungsu Nobuko, saat masuk ke kamar ibunya. Nobuko membalas sapaan Ratna dengan senyum dan kata ”Onesan” yang berarti kakak perempuan dalam bahasa Jepang.

”Dia tak mengenali saya sejak alzheimernya kian parah,” ujar Ratna yang selama tujuh tahun terakhir merawat dan berupaya memahami kondisi ibundanya.

Akibat penyakit itu, Nobuko sulit berkomunikasi. Ia lebih banyak bergumam dan bersenandung kecil dalam bahasa Jepang. Sesekali, ia bercerita soal ayahnya yang dilihatnya hadir di kamarnya. Tak berapa lama, ia menampakkan raut wajah sedih. Beberapa menit berselang, ia tertawa dan bersenandung.

Kondisi itu berbeda saat Ratna pertama kali merawat sang ibu. Pada 2007, Nobuko masih bisa berjalan dan lancar berbicara, tetapi alzheimer yang dideritanya memengaruhi emosi dan suasana hatinya. Akibatnya, Nobuko jadi mudah marah dan merusak barang di rumah.

Pertengkaran kerap terjadi karena salah paham antarkeduanya. Ratna juga belum bisa menerima kondisi dan tindakan ibundanya. ”Berat sekali waktu itu. Banyak tragedi,” ujar Ratna.

Ratna bersama suami dan dua anaknya sempat mengungsi di lantai dua rumahnya. Adapun sang ibu tinggal di lantai satu. Semua kegiatan keluarga, terutama anak-anak, dilakukan di lantai dua. ”Jadi, ke lantai satu hanya ambil makan, lalu naik lagi. Begitu setiap hari,” katanya.

Lambat laun, Ratna menyadari kehidupan keluarga kecilnya mulai tak sehat. Saat ibunya tak sadar membalikkan kompor di dapur, Ratna lalu memindahkan ibunya ke kamar di lantai dua yang diawasi dengan kamera pengintai (CCTV). Keluarga kecilnya turun ke lantai satu.

Seorang teman yang menangkap kegelisahan Ratna lewat media sosial menghubunginya. Ia diminta mengikhlaskan bahwa sosok ibu yang dikenalnya sudah tak ada, yang dihadapinya sekarang adalah sosok yang butuh perawatan khusus dengan kasih dan penerimaan.

”Tak mudah melakukan itu, tetapi ada suami yang menguatkan dan anak-anak membantu saya. Perlahan, saya memaklumi bahwa apa yang dilakukan mama karena alzheimer, bukan karena ingin melakukan,” ujarnya.

Tidak banyak larangan dari Ratna kepada ibunya. Pada 2009, Nobuko tak lagi agresif. Lambat laun, ikatan mereka kembali terjalin meski Nobuko tak ingat Ratna adalah putrinya.

Hal serupa juga dialami Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ayahnya yang berusia 86 tahun sulit mengenali dirinya. ”Setiap saya tanya, ini siapa? Ayah saya tak mengenali. Kalau ingat, dua menit kemudian beliau lupa,” ujarnya.

Ia menduga ayahnya mengalami demensia alzheimer setelah mendapat informasi terkait dengan 10 gejala alzheimer, di antaranya kehilangan ingatan. ”Yang pasti, perawatan dengan kasih sayang,” kata Ganjar.
Komunitas dan aturan

Seiring dengan kenaikan usia harapan hidup, jumlah orang dengan demensia alzheimer diperkirakan bertambah. Karena itu, Kepala Subdirektorat Bina Kesehatan Jiwa pada Kelompok Berisiko Kementerian Kesehatan Edduwar Riyadi Mangiri mengatakan, pemerintah akan menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang aksi nasional melawan demensia.

Aturan itu akan memuat penanganan orang dengan demensia dalam keluarga dan di fasilitas kesehatan. Hal itu untuk menjamin hak asasi orang dengan demensia agar tidak ada yang ditelantarkan. Orang yang memiliki anggota keluarga dengan alzheimer perlu ikut komunitas demi memudahkan penerimaan atas kondisi yang ada.

Asosiasi alzheimer, yakni Alzheimer Indonesia, memfasilitasi pertemuan keluarga penderita alzheimer. Keluarga mendapatkan penjelasan tentang tahap gejala alzheimer dan berbagi pengalaman dalam merawat.

Asosiasi itu menyusun pedoman pelatihan bagi keluarga yang merawat orang alzheimer. Sebab, ada dilema pada keluarga yang merawat pasien alzheimer. Umumnya, keluarga mengurangi ruang gerak orang alzheimer dengan menempatkannya di kamar atau rumah terkunci karena penderita bisa tak ingat jalan pulang jika keluar rumah.

Sejumlah gejala alzheimer perlu diketahui keluarga agar tak salah penanganan, antara lain gangguan daya ingat, seperti menanyakan hal sama berkalikali dan sulit fokus pada kegiatan sehari-hari. Gejala lain adalah sulit membedakan waktu dan tempat, gangguan komunikasi, mengucilkan diri, serta perubahan emosi tak menentu.

Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang juga ahli geriatri C Heriawan Soejono, dalam rangkaian acara Bulan Alzheimer, penerimaan atas orang dengan alzheimer penting bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Tanpa dukungan dan penerimaan, keluarga sulit merawat penderita.

Dengan penerimaan, kehidupan keluarga Ratna kembali normal. Sang ibu tak lagi agresif, justru dekat dengan cucunya. Setiap hari anak-anak Ratna bermain di kamar neneknya, kadang bernyanyi bersama. (A04)

Sumber: Kompas, 29 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: