Home / Berita / 25 Persen Bahasa di Dunia Terancam Punah

25 Persen Bahasa di Dunia Terancam Punah

Pertumbuhan ekonomi jadi penyebab sejumlah bahasa di dunia kian punah. Demikian studi terbaru dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B. Kini, 25 persen dari total 7.000 bahasa di dunia terancam punah. ”Sebagai contoh, Ainu, bahasa di Jepang, kini amat terancam punah karena hanya tersisa 10 orang yang memakainya,” kata Tatsuya Amano, penulis laporan studi itu, di Universitas Cambridge, Inggris.

Sebelumnya, PBB mencatat, sebagian bahasa di dunia akan hilang akhir abad ini jika tak ada upaya penyelamatan. ”Keberagaman bahasa berasosiasi dengan keragaman budaya yang amat layak diselamatkan,” katanya, Rabu (3/9). Amano adalah ilmuwan yang biasa menggeluti bidang konservasi spesies (flora/fauna). Ia tertarik pada kesamaan ”nasib” spesies dan bahasa yang terancam punah. Seusai mempelajari bentuk global kerawanan bahasa, Amano dan rekan menentukan bahasa yang dalam kondisi bahaya. Secara global, penurunan jumlah pengguna bahasa umumnya terjadi di daerah yang ekonominya bertumbuh.(LIVESCIENCE/ICH)
———————————————————–
Layar Monitor Turunkan Kemampuan Baca Emosi
Waktu anak memakai tablet, telepon pintar, atau peranti bermonitor lain perlu dibatasi. Hasil riset tim Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat, menunjukkan, interaksi dengan layar monitor pada gawai menyulitkan kemampuan anak membaca emosi orang lain, baik senang, sedih, maupun takut. ”Banyak orang melihat media digital sebagai alat pendidikan baik. Mereka lupa sisi buruknya, yakni menurunkan sensitivitas anak pada isyarat emosional yang ditunjukkan orang lain,” kata penulis utama studi Patricia Greenfield kepada Livescience, Selasa (2/9). Uji dilakukan terhadap 105 anak kelas VI sekolah dasar yang menghabiskan 4,5 jam sehari di depan monitor di hari sekolah dan dibagi dua kelompok, yaitu menggunakan serta tak memakai telepon, televisi, dan komputer. Tingkat kesalahan menilai emosi pada anak yang tak memakai peranti elektronik dengan layar monitor turun dari 14,02 menjadi 9,41 kesalahan dan yang memakai peranti bermonitor turun dari 12,24 menjadi 9,81 kesalahan. (LIVESCIENCE/MZW)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: