Home / Berita / Biologi / Ratna Stia Dewi Setia Meneliti Jamur Pengurai Limbah Batik

Ratna Stia Dewi Setia Meneliti Jamur Pengurai Limbah Batik

Dosen Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Ratna Stia Dewi (39) setia meneliti jamur pengurai limbah. Lewat penelitian jamur pula, dia bersama mahasiswanya meraih medali perak di Seoul.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–Ratna Stia Dewi

Kecintaannya pada batik sebagai kain Nusantara yang kaya makna mendorong Ratna (39) untuk mendalami seluk-beluk pembuatannya. Kunjungannya ke sentra batik baik di Pekalongan maupun di Banyumas, Jawa Tengah justru membuatnya prihatin terutama karena melihat air sungai berwarna-warni tercemar limbah pewarna batik. Lebih dari 13 tahun, Ratna setia meneliti jamur dan menemukan jamur Aspergillus sp.3 sebagai pengurai limbah pewarna batik.

“Saya prihatin setiap saya ke Pekalongan dan melihat sungai sentra industri batik, kok sungainya warna-warni. Saya merasakan keprihatinan itu sejak S1. Saya ingin memahami apa itu limbah batik, dan mengapa bisa mencemari lingkungan,” kata Ratna, Selasa (10/12/2019) di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

Ratna yang merupakan pengajar di Fakultas Biologi Departemen Mikrobiologi, Laboratorium Mikologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto juga pernah punya pengalaman bagaimana tangannya iritasi dan gatal saat mencoba membuat batik di salah satu industri rumah tangga di Sokaraja, Banyumas. “Saat itu saya mencelupin kain batik tidak pakai sarung tangan. Tangan gatal, merah iritasi. Saat itu juga, saya langsung tergugah: limbah sebanyak ini, bisa merusak kulit, apa jadinya anak-cucu kita, lingkungan kita,” kata istri dari Grangsang D Prakosa (46).

Ratna pun meneguhkan hati untuk mendalami perjamuran. Semasa kuliah di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Ratna pun menyusun skripsi berjudul “Potensi Isolat Jamur Limbah Industri Tekstil sebagai Agen Pendekolorisasi Pewarna Direct Red 80 (Azo) dengan Variasi Lama Waktu Inkubasi”. Setiap kali berkeliling ke industri rumah tangga batik di Banyumas, Ratna selalu mencari sampel limbah pewarna yang dibuang ke tanah ataupun sungai.

Atas hasil skripsi tersebut, Ratna bahkan sempat diblacklist oleh perajin batik di mana dulu dia pernah mengambil sampel limbahnya. Pasalnya, industri rumah tangga itu kena teguran dari pemerintah daerah karena limbahnya yang berpotensi mencemari lingkungan. “Saya tidak boleh ambil sampel lagi. Mahasiswa saya juga pernah diusir dari sana,” tutur Ratna.

Dari berbagai literatur yang dibaca, Ratna memahami bahwa jamur sebagai agen biologis itu punya banyak potensi yang bisa digunakan. Jamur Aspergillus itu dikenal sebagai jamur perusak, perusak makanan, perusak kain, perusak kayu jadi lapuk.

“Kemudian saya terlintas ide juga bahwa dia itu bisa merusak hal-hal yang kita gunakan, kenapa dari segi dia bisa merusak itu tidak kita gunakan. Jadi hal negatifnya dia, yaitu daya rusaknya dia, saya ambil supaya merusak hal-hal yang merugikan kita. Jamur punya kemampuan dekomposisi dibandingkan makhluk hidup yang lain,” paparnya.

Ratna menyebutkan, dirinya mempelajari dan mencari selama bertahun-tahun jamur apa yang mempunyai daya rusak yang dahsyat bagi limbah perwarna batik. Dia kemudian mencoba memanfaatkan limbah baglog atau medium tanam jamur tiram putih yang banyak dibuang oleh petani jamur karena di sana banyak terdapat jamur-jamur yang tidak dikehendaki. Jamur itu kemudian diisolasi oleh Ratna dan diteliti dalam skala laboratorium ternyata bisa mendekolorisasi.

“Awalnya saya pakai limbah baglog itu, saya dedahkan saja ke limbahnya, memang bisa menurunkan warna dengan waktu penelitian inkubasi 2,5 hari. Lalu saya aplikasikan ke home industri batik di Sokaraja, tapi itu dinilai terlalu lama 2,5 hari,” katanya.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–Ratna Stia Dewi

Penelitian lanjutan
Ratna yang kemudian melanjutkan studi S2 dan S3 di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta masih terus menekuni dunia perjamuran. Tesisnya disusun dengan judul “Jamur Proteolitik Agensia Pengendalian Hayati Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis): Isolasi, Seleksi, Optimasi dan Purifikasi Parsial Protease”. Disertasinya disusun dengan judul “Fungi Limbah Industri Batik sebagai Agensia Biodegradasi Limbah Cair Pewarna Batik Indigosol Blue O4B”.

Hasil penelitian Ratna, jamur Aspergillus sp.3 merupakan jamur yang memiliki daya rusak paling kuat terhadap limbah pewarna batik. Jamur itu ditemukan setelah mencari hampir 1.000 jamur, lalu diseleksi tahap demi tahap menjadi 108 jamur, lalu 40 jamur, 7 jamur, 3 jamur, dan kemudian 1 jamur yang paling baik. “Daya rusaknya bisa terlihat dari 99 persen warnanya turun, terdekolorisasi, jadi bening. Itu butuh waktu 24 jam,” tuturnya.

Menurut Ratna, pewarna batik lebih kompleks dan sulit diurai dibandingkan pewarna tekstil biasa karena proses pembuatan batik khususnya pewarnaan yang dilakukan berulang-ulang, serta menggunakan malam atau lilin, bahkan mengandung logam berat. Dengan jamur ini, pewarna batik mampu diurai. Adau dua mekanisme yang terjadi, yaitu daya absorbs dan biodegradasi jamur.

“Penyerapan terjadi di luar dan dalam sel. Justru di dalam sel itu dijadikan makanan, racunnya itu dirobek-robek untuk nutrisi si jamur itu sendiri,” katanya.

KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO–Ratna bersama para mahasiswanya meneliti jamur di laboratorium.

Adapun proses biodegradasi, lanjut Ratna, jamur itu mengeluarkan enzim yang merusak lignin pada kayu. Enzim yang dihasilkan jamur tersebut yaitu enzim ligninolitik yang terdiri atas lakase, lignin peroksidase, dan mangan peroksidase. “Itu yang digunakan jamur untuk memotong ikatan yang sangat kompleks,” katanya.

Atas mekanisme tersebut, tambah Ratna, daya racun dari limbah perwarna batik pun menurun. Ratna melakukan uji coba menyiram limbah yang sudah mengalami dekolorisasi ke tanaman jagung dan kacang hijau sebagai perwakilan monokotil dan dikotil, dan hasilnya keduanya tumbuh normal. Demikan juga limbah itu aman bagi bakteri Bacillus cereus, Azotobacter sp., Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada lingkungan. “Kalau membuang air limbah yang sudah turun warna ke sungai, bakteri-bakteri yang menguntungkan lingkungan tidak mati atau tetap bisa hidup,” katanya.

Ratna bersama mahasiswanya yang tergabung dalam tim D’Mushwheel juga baru saja menyabet Silver Prize pada kompetisi Seoul International Invention Fair 2019 bulan November. Kelima mahasiswa itu adalah Sakinah Mawaddah Siregar, Dwi Ayu Lutfiani Amalia, Maulana Nur Ardian, Asilah Resty Nurfadilah, Ramadi Habib Fathurrohim. Mereka mengajukan karya berjudul D’Mushwheel: Decolorization of Batik Wastewater using Mushroom Wheel. Karya ini berupa alat kincir air yang di setiap kipasnya ditempatkan jamur untuk menjernihkan limbah. “Alat berputar di kolam limbah dan diberi jamur. Seminggu pertama bisa turun 60 persen, lalu setelah 14 hari bisa turun sampai 93 persen,” papar Ratna.

Bagi Ratna, jamur sudah dianggap sebagai sahabatnya. Untuk mengidentifikasi jamur, Ratna pun harus blusukan serta menjelajahi lereng Gunung Slamet, serta merambah tempat yang sulit untuk menemukan jamur-jamur liar. Keterbatasan alat penelitian menjadi tantangan tersendiri, tetapi Ratna tetap tekun meneliti jamur bahkan hingga menginap di laboratorium untuk mengamati jamur setiap jam. Daya perusak jamur dimanfaatkan untuk menyelamatkan lingkungan. Hasil penelitian Ratna masih terus dikembangkan untuk dapat diaplikasikan langsung kepada para perajin batik.

Ani Wijayanti (43) pemilik industri rumah tangga Batik Ani Tirta Soka di Sokaraja Kulon mengharapkan, hasil temuan Ratna bisa segera dimanfaatkan bagi pengolahan limbah pewarna karena selama ini perajin bingung mengolah limbah. “Biasanya limbah saya buang ke tanah di pekarangan atau kalau hujan deras, limbah dibuang ke sungai,” kata Ani yang sudah membuka usaha batik selama 6 tahun terakhir.

Ani yang rata-rata memproduksi 50 lembar batik per bulan biasa menghasilkan limbah pewarna sampai 15 liter. Dengan adanya penetralan limbah, Ani juga berharap air limbah bisa dipakai kembali sehingga usahanya bisa lebih hemat air. “Mudah-mudahan berhasil dan hasilnya maksimal dan airnya bisa dipakai lagi sehingga bisa irit,” tuturnya.

Ratna Stia Dewi

Lahir: Jakarta, 5 September 1980

Pendidikan:
– SDN Kranji 2 Purwokerto (1993)
– SMPN 8 Purwokerto (1996)
– SMAN 1 Purwokerto (1999)
– S1 Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (2004)
– S2 Fakultas Biologi UGM (2010)
– S3 Fakultas Biologi UGM (2019).

Suami: Grangsang D Prakosa (46)

Pekerjaan:
Pengajar di Fakultas Biologi Departemen Mikrobiologi, Laboratorium Mikologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Jurnal, antara lain:
– Decolorization and detoxification of batik dye effluent containing Indigosol Blue-04B using fungi isolated from contaminated dye effluent Indonesian Journal of Biotechnology Volume 23 (2), 2018, halaman 56-60.
– Bioremediation of Indigosol Blue 04B Batik Effluent by Indigenous Fungal Isolates, Aspergillus spp. Omni-Akuatika, 14 (2): 11-20, 2018
– Optimization of the conditions for the decolorization of batik wastewater by Aspergillus sp.3: AIP Conference Proceedings 2094, 020036 (2019)
– Efficiency of Aspergillus sp.3 to reduce chromium, sulphide, ammonia, phenol, and fat from batik wastewater IOP Conference Series: Earth and Enviromental Science (2019)

Oleh MEGANDIKA WICAKSONO

Sumber: Kompas, 21 Desember 2019

Share
x

Check Also

Musa Hubeis Setia Mengkaji Pengembangan UMKM

Sejak tahun 1991, Musa Hubeis konsisten mendampingi usaha mikro, kecil, dan menengah untuk berinovasi dan ...

%d blogger menyukai ini: