Produk Organik Kian Diminati

- Editor

Sabtu, 3 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Produk organik makin diminati masyarakat. Selain ramah lingkungan dan tak menggunakan bahan kimia dalam proses produksinya, produk organik dinilai bermanfaat bagi kesehatan.

Terkait hal itu, Komunitas Organik Indonesia (KOI) menggelar Organic Green and Healthy Expo 2015 di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (2/10). Pameran itu digelar selama empat hari, yakni pada 1-4 Oktober 2015.

“Kami mau menunjukkan, produk organik dengan kekayaan alam Indonesia baik dipakai dan dikonsumsi masyarakat, serta tak menimbulkan dampak buruk pada lingkungan,” kata Ketua Umum KOI Christopher Emille Jayanata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pameran kelima yang digelar KOI kali ini diikuti 180 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memamerkan produk andalan mereka. Para pelaku UMKM yang menjadi peserta pameran itu tak hanya dari Jakarta, tetapi juga sejumlah kelompok dari Bali, Batam, Yogyakarta, Makassar, dan Jawa Tengah.

Pada tahun 2011, KOI menggelar pameran pertama yang diikuti 45 UMKM dengan 1.500 pengunjung. Pameran itu sebagai bentuk respons mereka terhadap target Kementerian Pertanian yang mendorong produk organik pada tahun 2010. Komunitas itu rutin menggelar pameran dengan biaya sendiri. “Dalam pameran kali ini, masyarakat makin antusias. Target kami, ada 12.000 pengunjung,” kata Emille.

Setiap kelompok UMKM diwajibkan selalu mengusung tiga komponen di tiap produk yang dihasilkan, yakni organik, ramah lingkungan, dan menyehatkan atau tak menimbulkan efek buruk pada konsumen.

Khusus bahan makanan, tak menggunakan penyedap rasa, pengawet, pengharum buatan, dan pemanis. Adapun produk nonmakanan tak memakai bahan kimia berbahaya, seperti merkuri pada kosmetik. “Beberapa produk harus diperiksa di laboratorium untuk memastikan klaim pemiliknya. Kami sendiri melihat proses pembuatannya,” ujarnya.

Ramah lingkungan
Edy Suryatmo, peserta pameran dari UMKM Batik Bixa Yogyakarta, memamerkan produk batik yang menggunakan pewarna alami. “Penelitian di Universitas Gadjah Mada menunjukkan beberapa batik yang menggunakan Naptol atau indigisol bisa memicu kanker kulit. Karena itu, kami mencoba memakai bahan alami sebagai pewarna,” ujarnya.

toko-organikPewarna yang digunakan diambil dari beberapa bahan, antara lain daun indigovera untuk menciptakan warna biru, kulit buah jelawe untuk warna kuning atau cokelat, kulit batang pohon bakau untuk warna merah bata, dan soga untuk warna coklat. “Pewarna alami itu tak mencemarkan lingkungan. Bahkan, limbah dari pembuatan warna bisa untuk pupuk,” tuturnya.

Marwiyah (46) memproduksi berbagai jenis produk kopi, baik Arabika maupun Robusta. Ia bersama kelompoknya mulai membangun usaha tersebut sejak tahun 2007. “Kami memiliki kelompok perempuan petani kopi. Semua pembuatannya tradisional, memakai priuk tanah dalam proses sangrai, dan tanpa bahan pengawet. (B09)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Oktober 2015, di halaman 13 dengan judul “Produk Organik Kian Diminati”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB