Home / Berita / Almarhum Endang Akhirnya Buka Tabir Tudingan Tentang Namru

Almarhum Endang Akhirnya Buka Tabir Tudingan Tentang Namru

Mantan Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih telah berpulang pada 2 Mei 2012. Saat-saat jelang akhir hayatnya, dia menulis soal tudingan sebagai orangnya Namru.

Sekedar informasi, masalah kedekatannya dengan Namru adalah pangkal kontroversi saat dirinya diangkat menjadi Menteri Kesehatan.

Karena tudingan yang tak pernah jelas itu, Endang sempat dicopot dari jabatan sebagai Kepala Puslitbang Biomedis dan Farmasi oleh bosnya kala itu Menkes Siti Fadilah Supari.

Dalam buku terakhir yang ditulisnya saat sakit parah ‘Untaian Garnet dalam Hidupku‘ di Bab ‘Tentang Ari dan Kolam Renang’ Endang mengakui ada perubahan dalam hidupnya ketika dicopot jadi Kepala Puslitbang dan hanya menjadi peneliti senior biasa.

“Perubahan itu sungguh saya jalani dengan berusaha berbesar hati.Saya tidak bertanya kepada menteri juga kepada Kepala Badan Litbangkes baik yang lama maupun yang baru, alasan saya dilepas. Saya terima saja dan menganggap ada kesalahpahaman. Tetapi memulai kehidupan baru pun tidaklah mudah. Banyak orang tetap berupaya menganggap saya sebagai Kapuslit yang lama, padahal waktu itu saya hanya peneliti biasa,” ungkap Endang seperti dikutip detikHealth dari bukunya Jumat (4/5/2012).

Dari pengakuannya di bukunya tersirat bahwa kecurigaan itu muncul karena ada peneliti Namru yang juga orang Indonesia tiba-tiba menulis soal investigasi yang dilakukan Namru, padahal harusnya itu dilakukan orang Indonesia tapi kala itu Endang bisa menerima alasannya. Kedua, karena pihak Namru lebih suka berdiskusi dengan dirinya ketimbang dengan peneliti lainnya hingga hubungannya pun menjadi dekat.

Berikut pengakuan Endang soal tudingan Namru yang belum pernah diungkap dan dipublikasikannya:

“Hubungan Saya dengan Namru 2 (Naval Medical Research Unit Number 2) Jakarta

Saya harus menuliskan tentang ini karena begitu banyak orang mengira bahwa saya bekas pegawai Namru. Ini sama sekali tidak benar. Saya tidak pernah bekerja di Namru 2 Jakarta. Kalau berkolaborasi, mungkin hampir setiap peneliti senior Badan Litbangkes pernah berkolaborasi dengan Namru 2. Namru 2 mulai masuk ke Indonesia karena diundang oleh Indonesia untuk mengatasi masalah Pes. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Namru 2 – Badan Litbangkes meliputi banyak hal, seperti typhoid dan kolera.

Keterlibatan saya yang pertama terjadi dalam investigasi KLB Hepatitis E di Bondowoso. Saya didatangi dr Corwin yang meminta saya memimpin investigasi tersebut. Walaupun ini merupakan suatu pengalaman baru, saya terima. Saya pun berangkat membawa staf Badan Litbangkes dan Namru 2. Investigasi berjalan baik, tentu dengan bantuan staf dinas kesehatan dan rumah sakit setempat.

Beberapa saat setelahnya, saya didatangi peneliti senior Badan Litbangkes yang menanyakan mengapa peneliti Namru yang menuliskan papernya. Saya terkejut karena saya tidak pernah diberi tahu bahwa akan ada paper yang akan terbit dari investigasi tersebut. Sebagaimana kebiasaan saya, saya pun memprotes keras.

Dokter Corwin datang dan meminta maaf dan meminta supaya saya jangan marah kepada peneliti junior Namru. Tentu saja hal itu tidak saya lakukan. Peneliti junior itu kan orang Indonesia. Kalau dia maju, saya juga senang. Dr Corwin menawarkan menuliskan paper tersebut dengan nantinya saya sebagai co-author. Tentu saja saya menolak.

Saya kan lulusan HSPH (Harvard School of Public Health). Saya mampu menulis paper sendiri. Saya meminta bantuan dr Corwin untuk melengkapinya di bagian-bagian seperti laboratorium, strain, dan sebagainya. Ia pun menyanggupi. Maka terjalinlah kolaborasi kami yang pertama. Dr Corwin senang melihat hasilnya dan paper itu pun kemudian terbit.

Kolaborasi selanjutnya adalah flu burung. Ketika itu kasus flu burung mulai merebak di Indonesia. Rapat-rapat dilakukan antara Namru dan Badan Litbangkes, namun beberapa rekan Namru merasa kurang bisa berkomunikasi dengan rekan Badan Litbangkes dan mereka meminta saya ikut serta. Awalnya saya menolak karena ini bukan bidang keahlian saya. Teman-teman Namru mengatakan apakah saya tidak akan merasa menyesal nantinya apabila flu burung menjadi wabah dan saya sama sekali tidak peduli?

Saya pikir, logika ini ada benarnya. Maka mulailah saya mengikuti rapat-rapat antara Namru – Badang Litbangkes tentang flu burung. Tentu saja awalnya, atasan langsung saya Kapuslit Penyakit Menular yang baru sangat tidak gembira. Ia mengatakan dia tidak suka orang yang sok, dan dianggapnya salah satu dari orang yang sok tersebut adalah saya.

Perkataan yang terus terang tersebut menyakitkan hati saya. Pada suatu senja, ketika saya sedang duduk diam-diam di meja kerja saya sambil menunggu datangnya malam, tiba-tiba para sahabat saya masuk ke ruangan. Mereka heran melihat saya sedang menangis, dan mereka berusaha menghibur saya.

Banyak hal tidak benar yang disampaikan ke muka publik mengenai pengiriman spesimen flu burung ke luar negeri. Bukti-bukti ada, semua orang bebas menginvestigasikan apa yang sebenarnya terjadi. Atas perintah siapakah semua spesimen itu dikirim, baik itu ke Namru pusat atau ke laboratorium dr Malik Perish di Hongkong. Apakah mungkin saya sebagai eselon 2 mengambil keputusan berupa kebijakan demikian?

Ada kebijakan baru ketika itu juga, yaitu spesimen boleh dikirim apabila dilengkapi dengan dokumen MTA (material transfer agreement) yang menghargai negara asal pengirim, serta menjamin hak-hak negara pengirim. Badan Litbangkes membentuk Komisi MTA yang terdiri dari para pakar perguruan tinggi dan institusi penelitian. Kami berapat cukup rutin.

Berbekal itulah, saya percaya bahwa kerjasama internasional Indonesia dengan negara lain tidak dilarang. Dalam sebuah penelitian bersama Belanda, seorang peneliti muda membawa beberapa spesimen ke Belanda dilengkapi dengan dokumen MTA yang lengkap yang sudah ditandatangani oleh Kepala Badan Litbangkes dan Direktur Institusi penelitian di Belanda. Seluruh pemeriksaan laboratorium dikerjakan oleh orang Indonesia dibantu oleh peneliti Vietnam (institusi penelitian Belanda ini berada di Ho Chi Minh city). Saya sendiri bersama Siti Isfandari juga ikut berangkat untuk menuliskan laporan serta draf awal papernya.

Tuduhan heboh lain adalah bahwa saya mengambil darah peternak Sukabumi dan mengirimkannya ke Belanda. Namun tuduhan ini lebih mudah dibantah karena saya sama sekali tidak pernah muncul di Sukabumi. Kepala peternakan yang menuduh saya pun mengakui kekeliruannya. Sebenarnya yang diambil hanya sampel darah untuk diperiksa apakah para peternak itu sudah tertular flu burung atau belum. Hasilnya ternyata negatif. Dan ini sudah berulang kali dikomunikasikan ke masyarakat peternak tersebut.

Alhamdulillah, saat ini hubungan Kemenkes dengan para peternak ayam di Sukabumi sangat baik. Kami melakukan berbagai kerjasama yang menguntungkan peternak maupun program-program Kemenkes. Jangan lupa dalam suatu peternakan, ada aspek ternaknya (hygiene, santiasi), dan ada aspek pekerjanya (kebiasaan cuci tangan, menutup mulut ketika batuk dan bersin, memakai pakaian pelindung, dan sebagainya).

Sebagaimana disebutkan, hubungan perkawanan saya dengan Namru 2 cukup baik, baik yang orang Namru Indonesia maupun yang orang Amerika. Ketika saya menjadi Menkes RI dan harus memutuskan apakah akan menutup Namru atau tidak, dalam pikiran saya adalah sebagai berikut: saya dikritik orang karena terlalu pro-Namru, padahal saya adalah menteri pilihan Bapak Presiden SBY.

Apa pun yang saya lakukan, tentunya merupakan cerminan dari pilihan ini. Tak dapat saya bayangkan, kalau saya memilih opsi tidak menutup Namru. Orang akan menyalahkan pilihan Bapak Presiden. Karena itu saya berkomunikasi dengan rekan-rekan Namru terutama yang Indonesia untuk menjelaskan keputusan saya tersebut.

Tentu saja, cukup banyak yang tidak suka, terutama dari pihak Amerika, tapi saya kira sekarang semuanya sudah berlalu. Saya tidak pernah anti bekerjasama dengan Amerika, asal semuanya dalam kerangka saling menghormati satu sama lain dan saling menguntungkan satu sama lain. Hal ini pun berlaku untuk kerjasama dengan negara-negara lain, baik itu timur, barat, selatan, maupun utara”.

(ir/up)

Irna Gustia – detikHealth

Sumber: Detik.com, Jumat, 04/05/2012 13:33 WIB
————-
Jumat, 04/05/2012 12:33 WIB

Diary Menkes Endang Jelang Akhir Hayat: ‘Untaian Garnet dalam Hidupku’

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

Terpuruk dalam kesakitan yang amat sangat karena kanker paru stadium lanjut dialami mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih. Dalam ketidakberdayaannya itu, Endang berusaha menulis untuk meninggalkan jejak selama hidupnya sebelum ajal menjemput.

Buku berjudul ‘Untaian Garnet dalam Hidupku’ boleh jadi semacam diary terakhir mantan Menkes Endang karena tulisannya sangat personal. Tulisan ini mengenai keluarga yang dicintai, masa-masa kerja dan polemik seputar Namru sampai yang paling pribadi soal mantan pacarnya.

Buku ini ditulis sendiri oleh Menkes sejak dirawat di RSCM Kencana hingga menghembuskan napas terakhirnya. Pengerjaannya sangat singkat, sejak 6 April 2012 dan langsung terbit untuk kalangan terbatas pada 3 Mei 2012 pukul 03.00 WIB.

Beberapa sahabat menuturkan pengalamannya dalam membantu penulisan buku yang langsung terbit 15 jam setelah Menkes meninggal.

Sejak mulai menjalani perawatan di RSCM Kencana karena kanker paru yang dideritanya, Menkes Endang berpikir untuk menulis sebuah buku yang ringan tentang keluarga dan kehidupan sehari-harinya. Salah satu tujuannya, agar kelak anak cucunya bisa lebih mengenal kehidupan pribadinya.

Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, Menkes Endang mengajak seorang sahabat yang dikenalnya sejak 2001 dan mulai akrab pada 2003. Sahabat itu adalah Siti Isfandari alias Mbak Iis, yang kemudian makin akrab karena keduanya sama-sama hobi berenang.

Setiap hari selama Menkes dirawat, Mbak Iis dengan setia mendampingi dan mencatat setiap cerita yang dituturkan oleh Menkes Endang. Semua pengalaman pribadi diceritakan lalu ditulis, mulai dari kisah cintanya dengan Dr Reanny Mamahit, keterlibatannya di Namru-2 (The US Naval Medical Reseach Unit 2) hingga pengalamannya memilih menantu untuk anak pertamanya.

“Banyak yang penasaran apa saya menangis selama mendengarkan Ibu cerita. Sama sekali tidak, malah ketawa-ketawa. Anda sudah baca sendiri kan bukunya? Lebih banyak lucunya menurut saya,” tutur Mbak Iis yang merupakan seorang peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan saat dihubungi detikHealth, Jumat (4/5/2012).

Setiap hari Mbak Iis membantu Menkes Endang menuliskan kisah-kisah tersebut, hingga kondisinya mulai tidak stabil pada 22 April 2012. Sejak saat itu Menkes sudah mulai kesulitan untuk bercerita, meski diakui oleh Mbak Iis bahwa sahabatnya itu masih cukup kuat untuk mengetik dan chatting dengan anak keduanya, Awanda Raspati Mamahit yang berada di Jenewa, Swiss.

Hingga beberapa hari menjelang kritis dan akhirnya meninggal, Menkes Endang masih sempat menanyakan kelanjutan buku tersebut dan meminta dibuatkan dummy atau contohnya. Dengan dibantu Hikmandari alias Mbak Iik dari Pusat Komunikasi Publik (Puskomlik) Kementerian Kesehatan, Mba Iis menyerahkan dummy yang diminta pada hari Selasa (1/5/2012), namun tidak sempat dilihat Menkes yang sudah keburu kritis kondisinya.

Sebelum menyerahkan dummy, Mbak Iis dan Mbak Iik melakukan editing secara intensif dilakukan sejak Minggu (29/4/2012). Proses ini melibatkan seorang editor sekaligus sahabat karib Menkes Endang, Isye Soentoro yang selama ini memang sering mengerjakan buku-buku tentang Menkes.

“Proses editing, layout kebanyakan kami kerjakan di RSCM. Takutnya kalau ada yang kurang dan harus ditanyakan, gampang karena bisa langsung tanya,” kata Mbak Iik atau Hikmandari.

Akhirnya pada Rabu (2/5/2012), Menkes dinyatakan meninggal dunia pada pukul 11.41 WIB. Pengerjaan buku ini langsung dikebut, lalu pada Kamis (3/5/2012) pukul 03.00 WIB naskahnya naik cetak dan langsung didistribusikan secara terbatas di kalangan pejabat Kementerian Kesehatan dan juga wartawan saat upacara penghormatan terakhir.

Meski demikian menurut Mbak Iis, buku ini sebenarnya belum tuntas. Rencananya, kelanjutan kisah Menkes Endang dan keluarganya akan diteruskan pengerjaannya oleh menantu Menkes, Sara Ratna Qanti (30 tahun) yang merupakan istri dari anak pertama Menkes yakni Arinanda Wailan Mamahit.

(up/ir)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: