Home / Berita / Alkisah 134 Tahun Lalu: Darwin dan Wallace

Alkisah 134 Tahun Lalu: Darwin dan Wallace

SATU diantara ilmuwan-ilmuwan yang pertama kali mengemukakan gagasan mengenai evolusi adalah ilmuwan berkebangsaan Perancis, Jean Baptiste Lamarck yang menelorkan ide-idenya diawal tahun 1800-an. Pada tahun 1809, teori Lamarck tentang mekanisme evolusi dipublikasikan. Ditahun yang sama itu pula, sebuah surat kabar lokal di Shrewsbury, Inggris memuat berita kelahiran seorang anak laki-laki yang di beri nama Charles Robert. Anak kelima seorang dokter yang dihormati, oleh warga Sluewsbury, dr. Robert Darwin. Charles Robert Darwin lahir dalam lingkungan keluarga yang mampu berpendidikan. Ayahnya seorang dokter terhormat dan ibunya seorang yang terpandang, putri dari Josiah Wedgwood, seorang miliuner produsen perangkat meja dari tanah liat (table china) yang waktu itu merupakan table china per-tama yang memproduksi dalam jumlah besar.

Charles diharapkan mengikuti jejak ayahnya, menjadi tenaga medis atau dokter. Oleh karenanya, di usia 17 tahun Charles atau Darwin remaja menempuh kuliah kedokteran di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Namun Darwin cepats merasa bosan dengan tumpukan literatur-literatur kuliahnya. Jenuh melihat profesor-profesor yang suka membesarkan diri. Ia juga tak suka dengan demontrasi-demontrasi bedah yang dilakukan tanpa anestesi. Hanya dua tahun ia di Edinburgh. Kemudian atas desakan orang tuanya agar tetap kuliah, Darwin pindah ke Universita Cambridge, London untuk belajar teologi.

Kuliah kependetaan Darwin di Cambridge memang lebih lama bertahan dibanding saat ia kuliah kedokteran di Edinburgh. Namun selama tiga tahun ia di Cambridge, yang lebih banyak Darwin lakukan di luar jam kuliahnya bukan mendalami Injil, tapi mengumpulkan serangga yang mejadi kegemarannya, di samping sedikit banyak mendalami geologi. Melalui hubungan yang di jalinnya dengan seorang ahli botani Universitas Cambridge, yaitu Jonh Henslow, Darwin belajar meneliti tumbuhan. Adalah Henslow yang kemudian meganjurkan Darwin mengambil tempat sebagai naturalis dalam pelayaran kapal angkutan laut kerajaan Inggris, H.M.S. Beagle, sebuah perahu layar yang akan mengarungi lautan berekspedisi selama 5 tahun mengelilingi dunia. Walaupun tidak dibayar, Darwin mengambil kesempatan itu untuk lari dari kepenatan atmosfir Cambridge dan memburu kegemaran favoritnya, mengamati alam raya.

H.M.S. Beagle mulai pelayaranya dari Devonport Inggris pada tanggal 27 Desember 1831, saat Darwin berusia 22 tahun dan bertugas sebagai naturalis dalam ekspedisi pelayaran itu.

Sementara kapten kapal, Robert Firtz Roy memimpin pembuatan peta pelayaran (chart maps), melakukan pengukuran longitudinal dan astronomis disepanjang garis pantai Amerika Serikat dan mencari sumber-sumber daya alam yang dapat di eksploetir, Darwin melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap hewan dan tumbuhan setiap daerah yang dikunjungi. Selain itu Darwin juga meneliti karakteristis geologinya dengan baik. Ia kumpulkan contoh-contoh yang dapat ia ambil untuk dibawa pulang nantinya guna dipelajari lebih lanjut. Darwin mengamati bahwa spesies-spesies di pantai Timur Amerika Selatan sangat berbeda dengan di pantai Baratnya.

Ketertarikan Darwin lebih besar saat ia bersama Beagle mengunjungi Kepulauan Galapagos yang berjarak kurang lebih 1000 kilometer dari pantai Barat Ekuador. Setelah mengamati sejumlah kawah dan alas batuan lava, Darwin berpendapat bahwa kepulauan itu memiliki karakteristik gelogi dengan asal vulkanik terakhir. Beberapa tumbuhan dan hewan yang ditemuinya sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya, seperti kaktus raksasa (giant cacti), kadal raksasa pemakan ganggang laut (alga) dan tentunya kelompok hewan yang namanya diambil untuk nama kepulauan itu, yakni penyu-penyu raksasa (galapagos adalah bahasa Spanyol yang berarti penyu-penyu raksasa). Kebanyakan makhluk hidup itu memiliki berat yang melebihi 400 kilogram!

Dari kepulauan itu pula Darwin mengamati kelompok fauna yang merupakan kelompok fauna terkenal dari Kepulauan Galapagos. Darwin mendapati spesies burung finch yang kini dikenal sebagai burung-burung finch Darwin (Darwin’s finches). Karakteristik utama yang membuat Darwin beranggapan bahwa burung-burung itu merupakan spesies yang terpisah karena adanya perbedaan bentuk (anatomi), terutama paruh-paruh mereka yang berbeda-beda ukurannya ynag menurut Darwin menyebabkan berbedanya jenis dan lokasi tempat-tempat mereka makan. Kebanyakan mereka adalah pemakan biji-bijian dan pantang memakan serangga (insect died).

Darwin kembali ke Inggris, bersamaan dengan selesainya pelayaran H.M.S. Beagle pada tahun 1837 saat Ratu Victoria mulai naik tahti. Sesampainya ia di Inggris, Darwin segera merapikan catatan-catatannya, membaca kembali lebih banyak buku-buku dan melakukan diskusi-diskusi bersama ilmuwan lain. Darwin memang pulang ke rumah dari pelayarannya itu dengan setumpuk pertanyaan di kapalnya.

Setahun kemudian, setelah membaca sebuah essay mengenai prinsip kependudukan yang disusun oleh ekonom Inggris kenamaan, Thomas Malthus yang dalam bukunya itu (An Essay on the Principle of Population) memperingatkan bahwa jumlah penduduk sedang bertumbuh demikian cepat dan jika tidak terkendali akan dapat melampaui sangat jauh persedian makanan, Darwin berkesimpulan bahwa tentunya menjadi sebuah per-juangan untuk hidup (struggle for exestence) antar anggauta makhluk hidup pada satu kelompok populasinya. Darwin berpikiran bahwa, tidak semua telur berkembang menjadi embrio. Tidak semua embrio dapat menjadi anak. Dan beberapa anak akan tetap hidup serta tumbuh menjadi dewasa. Ada yang tersisih dan atau kemudian mati dan ada yang tetap hidup. Kesemuanya seperti terseleksi. Darwin kemudian bertanya, bagaimana makhluk-makhluk hidup yang bertahan hidup (survivors) itu terseleksi?.

Mengkombinasikan konsep struggle for exestence dengan variasi yang ia amati dalam populasi-populasi alami, Darwin memiliki dasar bagi mekanisme evolusinya, yaitu seleksi alam, (natural selection). Dalam autobiografinya, Darwin mengatakan bahwa ia memiliki kebulatan ide seleksi alamnya pada tahun 1838, yang baru dipublikasikan 20 tahun kemudian. Selama 20 tahun itu, secara metodis Darwin terus melakukan kaji ulang terhadap teorinya, memberikan argumen-argumen rinci yang didukung ribuan observasinya. Seperti tak kunjung selesai Darwin dengan teorinya. 20 tahun lamanya teorinya itu hanya men-dekam di kamar kerjanya. Mungkin Darwin begitu khawatir terhadap kalangan yang menentang teori evolusi (anti evolutionists). Darwin sangat menyadari bagaimana teori Lamarck begitu dilecehkan oleh Georges Cuvier (1769-1832). Hampir saja Darwin terlalu lama menunggu kapan teorinya akan dipublikasikan, bila saja Alfred Russel Wallace (1823-1913) tidak mengirimkan naskah essay ilmiahnya kepada Darwin pada awal tahun 1858 dari Ternate Indonesia, yang membuat Darwin terkejut bercampur gembira dan segera mengambil keputusan untuk segera mempublikasikan teori evolusi.

Alfred Russel Wallace, 14 tahun lebih muda usianya dari Charles Robert Darwin. Wallace adalah seorang petualang dan naturalis berkebangsaan Inggris. Memiliki banyak pengalaman dan menghabiskan waktunya bertahun-tahun di Basin Amazon Brasilia dan terakhir di belahan Timur Indonesia (the East In-dies). Diusia 14 tahun, Wallace remaja meninggalkan sekolah untuk kemudian bckerja untuk memperoleh penghasilan dengan mengumpulkan hewan-hewan di bagian-bagian dunia yang jauh untuk dijual ke museum-museum. Petualangan-petualangannyalah yang kemudian mendorong Wallace membuat geografi fauna dan mencoba mengklasifikasikannya. Di usia 25 tahun, pada tahun 1848 Wallace memulai penyelidikannya di Brasilia hingga tahun 1852. Pada tahun 1854, , saat Wallace berusia 31 tahun, ia melanjutkan perjalannya ke Indonesia. Wallace menghabiskan waktu sekitar 8 tahun di Serawak dan Indonesia (Sumatera sampai Irian).

Yang membedakan Wallace dengan Darwin adalah latar belakang kehidupan mereka. Berbeda dengan Darwin yang meninggalkan bangku kuliahnya karena malas, dan lebih suka mengamati alam, Wallace tidak pernah sempat sampai dijenjang bangku kuliah. Di usia 14 tahun, Wallace terpaksa meninggalkan sekolahnya karena tekanan ekonomi. Darwin mengadakan perjalanan penelitiannya dengan mengikuti ekspedisi palayaran penelitian angkatan laut kerajaan Inggris dengan kapal H.M.S. Beagle, sedang Wallace berpetualang dengan kantongnya sendiri. Tapi perbedaan-perbedaan itu sama sekali tidak berarti. Pada waktu Darwin tengah menunggu saat yang dirasa tepat untuk mempublikasikan teorinya tentang evolusi dengan konsep seleksi alamnya, Darwin menerima kiriman naskah ilmiah dari Wallace yang dikirim oleh Wallace dari Ternate Indonesia pada tahun 1858, setelah Wallace meninggalkan Manado.

Dalam naskahnya itu Wallace mengungkapkan kekagumannya atas perbedaan spesies burung-burung di bagian Timur Kalimantan dengan Sulawesi yang padahal secara deskriptif geografis, Kalimantan dan Sulawesi tidak dipisahkan oleh perintang fisik dan iklim yang berarti bagi burung-burung tersebut. Wallace percaya bahawa Kalimantan, jawa dan Surnatera pernah merupakan bagian dari Asia. Dan Timor, maluku dan Irian serta mungkin Sulawesi pernah merupakan bagian pasifik Australia, yang membuat perbedaan spesies antara burung-burung di Kalimantan dan Sulawesi. Fakta yang dikemukakan Wallace sama polanya dengan fakta yang ditemui Darwin di Kepulauan Galapagos dan daratan Amerika Selatan dengan Kepulauan Cape Verde dan daratan Afrika. Sebelum Darwin mengunjungi Galapagos dan wilayah pantai Amerika Selatan, bersama Beagle ia singgah terlebih dahulu di Kepulauan Cape Verde di sebelah Barat pantai Barat Afrika Utara. Sepengamatan Darwin, flora dan fauna di Cape Verde hampir sama dengan flora fauna di pantai Afrika yang letaknya berhadapan dengan kepulauan tersebut. Iklim di Cape Verde sama dengan iklim di Galapagos. Sehingga sepulangnya ia dari pelayaran, Darwin bertanya kepada dirinya, mengapa burung-burung di kedua kepulauan itu berbeda? Burung- burung yang terdapat di Galapagos relatif sejenis dengan burung- burung yang terdapat di daratan Amerka Selatan terutama wilayah-wilayah pantai Baratnya. Darwin beranggapan bahwa hewan-hewan yang terdapat di Galapagos berasal dari daratan Amerka Selatan, sedangkan hewan-hewan yang didapati di Cape Verde berasal dari daratan pantai Afrika. Kemudian Darwin berusaha menganalisanya. Burung-burung yang berasal dari Amerika Selatan menemukan lingkungan baru yang berbeda dari lingkungan asalnya. Varian-varian yang sesuai dcngan lingkungan yang baru ini terus berkembang sehingga menghasilkan spesies-spesies baru, karena pengaruh penyebaran geografi akhirnya flora dan fauna di lingkungan baru itu menunjukkan arah perkembangan yang menyimpang dari perkembangan flora dan fauna di tempat asalnya.

Dalam teori evolusinya, selain Darwin berpendapat bahwa tentunya terjadinya struggle for existence antara anggota makhluk hidup dalam kelompok populasinya, Darwin juga berpen-dapat bahwa suatu spesies dapat mempunyai beberapa variasi. Pertumbuhan suatu variasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti suhu, tanah, makanan dan lain-lain. Jadi jika beberapa varian jatuh dalam suatu lingkungan tertentu,mereka akan memperlihatkan perkembangan yang berbeda dengan varian-varian yang jatuh di tempat lain. Tetapi, pada waktu itu Darwin belum dapat menerang:kan gejala-gejala yang terlihat dari sudut genetika, karena pada waktu itu genetika belum dikenal orang. Dalam hal ini Darwin pun berpendapat bahwa adanya variasi merupakan petunjuk adanya evolusi yang menuju ke arah terbentuknya spesies-spesies baru. Dan setiap jenis makhluk hidup mempunyai kecenderungan untuk menyebar ke tempat-tempat lain. Namun, penyebaran tersebut tidak selalu berakibat perluasan daerah, karena adanya rintangan-rintangan yang tidak mungkin diterobos atau lingkungan yang. baru itu tidak memenuhi persyaratan hidup. Pegunungan yang tinggi dan samudera yang luas merupakan contoh-contoh rintangan yang sukar dilalui, sehingga tidak mustahil dua tempat yang dipisahkan oleh pegunungan yang tinggi atau samudera yang luas mempunyai flora dan fauna yang berbeda sama sekali. Perbedaan susunan flora dan fauna yang terdapat pada kedua tempat itu antara lain disebabkan adanya isolasi geografi.

Seperti halnya Darwin, Wallace menjadi yakin akan sebuah proses evolusioner alami dan secara inde-penden berpandangan bagaimana evolusi bekerja. Antara Wallace dan Darwin memiliki kesamaan pandangan bahwa hewan-hewan yang mereka temui itu telah dipengaruhi oleh penyebaran dan isolasi geografis (geographical distribution andlor isolation).

Setelah membaca nasakah ilmiah Wallace, Darwin begitu terkejut, karena tulisan Wallace merupakan deskripsi seleksi alami yang begitu sempurna. Kemudian Darwin memutuskan untuk mempublikasikan teori evolusinya. Tapi Darwin menemui kesulitan sendiri. Bagaimana ia harus terus maju dengan teorinya, sedang Wallace berada jauh sekali dari Inggris. Bagaimana pun Darwin tidak mau mengenyampingkan Wallace. Karena kejujurannya dan menghormati Wallace, Darwin berniat tidak akan mempublikasikan teorinya sendiri. Atas nasehat teman-teman dekatnya, terutama seorang pakar geologi ter-nama Charles Lyell dan seorang bangsawan Sir Joseph Dalton Hooker, Darwin menyiapkan tulisannya untuk dipublikasikan bersama-sama dengan tulisan Wallace.

134 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Juli 1858, hasil kerja Darwin dan Wallace dipresentasikan bersama pada pertemuan masyarakat Linnaean London (the Journal of the Linnaean Society of London). Entah mengapa, Darwin tidak hadir dalam pertemuan itu. Terlebih Wallace, yang saat itu masih berada di belahan Timur Indonesia yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Inggris, bahkan Wallace tidak tahu menahu bahwa naskahnya telah dipresentasikan dan dipublikasikan.

Tercatat bahwa mernang bukan hanya Darwin yang mcngajukan teori tentang evolusi. Seperti yang tergores dcngan baik oleh sejarah keilmuan, terutama khasanah biologi, Jean Bap berpendapat bahwa manusia dan kini namanya diabadikan sebagai nama tiste Lamarck adalah salah seorang primat mempunyai nenek moyang sebuah kawasan geografi fauna ilmuwan yang menelorkan ide-ide yang sama. Hal ini selanjutnya (zoogeography) di bagian Timur evolusinya sebelum Darwin. Juga bahkan kakek Darwin sendiri, Erasmus Darwin. Namun, hanya Darwin yang dilengkapi dan didukung oleh fakta-fakta untuk menopang gagasan evolusinya. Teori evolusi Darwin belumlah banyak mengundang cetusan kontra hingga diterbitkannya buku “On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life”, yang judul populernya, “The Origin of Species” ditahun 1859. Fakta-fakta yang diketengahkan Darwin belum mengkaitkan manusia. Barulah, ditahun 1871, ketika Darwin menerbitkan tulisannya mengenai asal-usul manusia dari kacamata evolusinya, yang berjudul “The Rescent of Man” (the Recent of Man?, sic!), protes dan suara kontra banyak ditujukan kepada Darwin.

Pada jaman Darwin, fosil masih belum merupakan bahan penelitian yang meyakinkan untuk menyelidiki asal usul manusia, walau pada tahun 1856 beberapa tahun sebelum buku pertama Darwin diterbitkan, di lembah Neander secara kebetulan ditemukan fosil tengkorak manusia. Darwin menggunakan metoda lain, yaitu dengan cara mencari hubungan kekerabatan antara manusia dan primat yang merupakan salah satu ordo dari mamalia atau hewan menyusui seperti monyet, simpanse dan gorila. Hasil penyelidikan Darwin menunjukkan bahwa gorila dan simpanse mem-punyai hubungan kekerabatan yang erat dengan manusia. Hal itu dapat dilihat antara lain dari persamaan ciri-ciri seperti mata menghadap ke depan, ibu jari pada tungkai depan dapat digerakkan ke segala arah, letak kelenjar susu di dada dan bentuk rahim yang simpleks. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa hanya terdapat sedikit perbedaan dalam hal susunan hemoglobin antara kedua spesies primat tersebut dan manusia. Sehingga para ahli lain yang mendukung Darwin melahirkan dan menghadirkan analogi-analogi yang tentunya sangat sulit dan berat untuk diterima seperti: manusia berasal dari monyet, manusia saudara dengan monyet dan sebagainya, sehingga teori dan pendapat Darwin tidak saja menggemparkan khasanah biolgi tapi juga membuat pemuka-pemuka agama di dunia marah.

Terlepas dari benar tidaknya pendapat dan teori Darwin, terlepas pula dari kritik, protes, kecaman dan seribu caci-maki yang ditujukan kepadanya, Charles Robert Darwin (1809-1882) kini terkenal sebagai Bapak Teori Evolusi. Ia tetap dianggap sebagai peletak dasar teori tentang mekanisme evolusi yang selanjutnya sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu genetika dalam khasanah biologi. Jika saja Darwin mengetahui, menyadari dan mempelajari penelitian genetis Johann Gregor Mendel (1822- 1884), tentunya Darwin tak perlu menunggu sclama hampir 20 tahun penuh, Darwin tentu akan dapat menjelaskan mekanisme evolusinya melalui hubungannya dengan mutasi genetis. Namun, antara Darwin dan Mendel tak pernah bertemu. Mendel yang lahir di Moravia, Cekoslowakia, menghabiskan masa hidupnya di Brunn, Austria. Walaupun melalui koresponden surat menyurat, merupakan sebuah fakta bahwa antara Darwin dan mendel tidak pernah bertemu. Sehingga cukup mengherankan bila malah Mendel tidak pernah bertemu. Sehingga cukup mengherankan bila malah Wallace yang berada ribuan kilometer di Timur dapat berhubungan dengan Darwin. Bagaimana dengan Alfred Russel Wallace sendiri?

Bila Charles Robert Darwin namanya kini terkenang sebagai Bapak Teori Evolusi dan Johann Gregor Mendel dikenang sebagai Bapak Teori Hukum Genetika dalam nuansa biologi, Alfred Russel Wallace yang turut menyokong pemikiran Darwin mengenai agihan dan evolusi jenis, negara kita, Republik Indonesia. “Wallace Area” atau Wallacea Area merupakan sebuah daerah, kawasan atau lebih tepat disebut sebagai wilayah fauna yang meliputi daerah-daerah yaitu Lombok, Sumbawa (NTB), Flores, Sumba, Komodo hingga Alor (NTT), Timor Timur, Maluku dan Sulawesi yang memiliki keanekaragaman fauna dengan sifat khusus dan tingkat kelangkaan yang tinggi. Bahkan masih banyak fauna di Wallace Area itu masih misterius dalam dunia ilmu pengetahuan yang nampaknya perlu terus diteliti dan diidentifikasi. Dari kaca mata geografi, Wallace Area yang meliputi daerah-daerah yang tersebut di atas merupakan wilayah kepulauan dengan lautan dalamnya di mana satwa (terutama) memiliki jenisnya sendiri yang tidak berkorelasi atau dapat dibedakan dengan wilayah Dataran Sunda (pulau Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan pulau-pulau kecil di sekitarnya berikut wilayah kedalaman lautnya) yang satwa dan tumbuhannya temyata berkorelasi dengan satwa dan tumbuhan dildari Benua Asia dan dengan Wilayah Dataran Sahul di mana satwa dan tumbuhannya ternyata berkorelasi dengan satwa dan tumbuhan di/dari Benua Australia. Dataran atau Dangkalan Sahul Indonesia adalah meliputi Kepulauan Bacan (pulau Halmahera, pulau Ternate, pulau Tidore dan pulau-pulau kecil di dekatnya), pulau Irian Jaya dengan kepulauan dan pulau-pulau kecil di dekatnya), pulau Irian Jaya dengan kepulauan dan pulau-pulau di sekitarnya dan kepulauan Aru, berikut wilayah kedalaman laut dengan isobath (kontur kedalaman) sama dengan atau kurang dari 200 meternya. Kepada para peneliti di bumi pertiwi: Wallace Area dan IBT umumnya mengharapkan lebih banyak lagi research-touch.

Ary Setiabudi berbagai Sumber

Sumber: Majalah AKUTAHU/AGUSTUS 1992

Share
%d blogger menyukai ini: