Home / Berita / Alat Deteksi Dini di Pulau Kecil Akan Ditambah

Alat Deteksi Dini di Pulau Kecil Akan Ditambah

Sistem peringatan dini tsunami akan ditambah untuk mengantisipasi ancaman peningkatan status Gunung Anak Krakatau. Penambahan terutama untuk penempatan di pulau-pulau kecil sekitarnya.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, Kamis (27/12/2018) di Jakarta, mengatakan, penambahan jumlah sensor seismik di pulau-pulau kecil saat ini sedang direncanakan. Sensor itu untuk menambah akurasi pemantauan aktivitas seismik di sekitar Gunung Anak Krakatau.

”Penambahan tersebut amat tergantung pada anggaran. Saat ini sedang diupayakan,” ujar Daryono di kantor BMKG, Jakarta, Kamis siang, sambil mengimbau masyarakat tetap mengantisipasi sebaran abu vulkanik.

–Bentangan alam Selat Sunda dengan Gunung Anak Krakatau berada di tengah-tengahnya.

Selain itu, BMKG juga akan menambah tide gauge di pulau-pulau kecil tersebut. Fungsinya sama, yaitu untuk memantau potensi tsunami secara dini. Beberapa pulau kecil yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau antara lain Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Sertung. ”Rencananya akan ditambah sensor seismik 5-6 unit dan tide gauge maksimal 10 unit,” ujarnya.

Menurut Daryono, hal itu dapat memberikan waktu kepada masyarakat yang ada di pesisir Lampung ataupun Banten agar bisa segera mengungsi. Waktu kunci yang bisa dimanfaatkan masyarakat itu berkisar 15 hingga 20 menit.

FAJAR RAMADHAN UNTUK KOMPAS–Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Kemaritiman Ridwan Djamaluddin.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Kemaritiman Ridwan Djamaluddin menyebutkan, ide terkait penambahan tide gauge di pulau terdekat Gunung Anak Krakatau merupakan hal yang tepat.

Dengan begitu, kecepatan gelombang sekitar 700 kilometer per jam akan terdeteksi oleh tide gauge dalam kurun waktu 1-2 menit sehingga masyarakat bisa mendapat peringatannya.

FAJAR RAMADHAN UNTUK KOMPAS–Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Tsunami BMKG Daryono saat memberikan keterangan di kantor BMKG, Jakarta, Kamis (27/12/2018).

”Asumsikan Krakatau sebagai pusat gempanya dan Pulau Rakata, Panjang, dan Sertung sebagai pendeteksinya,” ucap Ridwan, Senin lalu.

Menurut Daryono, potensi tsunami di kawasan Selat Sunda masih mungkin terjadi mengingat ada kenaikan status di Gunung Anak Krakatau. Di sisi lain, berdasarkan citra satelit, juga masih terdapat material di gunung.

”Masyarakat masih harus waspada dan tidak berkumpul dengan jumlah banyak di kawasan pantai,” lanjut Daryono.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Alat berat dipergunakan untuk mempercepat pengangkutan puing-puing di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Kamis (27/12/2018). Pembersihan sudah mulai dilakukan di tengah-tengah ancaman kemungkinan terjadinya tsunami susulan lagi.

Terkait dengan peringatan dini tsunami, Daryono mengatakan, sistem ini tentunya tidak harus merekam kejadian tsunami. BMKG dalam hal ini berusaha mencegah terjadinya kemungkinan terburuk dan akan terus menginformasikan peringatan dini.

Sebaran abu
Kepala Subbidang Iklim dan Cuaca BMKG Agie Wandala Putra menuturkan, hujan dengan intensitas sedang dan sebaran abu vulkanik masih terpantau hingga Kamis. Adapun saat ini angin cenderung menuju ke arah timur.

FAJAR RAMADHAN UNTUK KOMPAS–Kepala Subbidang Iklim dan Cuaca BMKG Agie Wandala Putra.

Dengan kondisi tersebut, sebaran abu vulkanik pada ketinggian 7 kilometer hingga 12 kilometer akan mengarah sebaliknya menuju barat dan barat daya. Sementara pada lapisan permukaan hingga ketinggian 7 kilometer akan mengarah menuju utara hingga timur laut.

”Artinya, kawasan seperti Banten, Cilegon, atau wilayah pesisir utara Banten akan berpotensi terkena sebaran abu vulkanik,” ujarnya.

BMKG mencatat, ada beberapa daerah yang berpotensi dilanda hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Wilayah tersebut akan terjadi di Anyer, Bakauheni, dan Kalianda mulai Kamis malam.

Selain itu, BMKG juga berkoordinasi dengan lembaga dan industri penerbangan seperti Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) terkait ancaman sebaran abu vulkanik. Hal ini mengingat berdasarkan pemantauan BMKG, sebaran abu vulkanik bisa mencapai 12 kilometer.

”Kami sudah sebarkan pernyataan resmi sehingga mereka bisa menghindari area-area berbahaya tersebut untuk penerbangan,” lanjut Agie.

Meskipun gelombang di wilayah Selat Sunda cenderung tinggi, sejauh ini masih relatif aman untuk pelayaran. Ketinggiannya berkisar 0,75 meter sampai 2 meter. Meski begitu, gelombang lebih tinggi dapat sewaktu-waktu mengancam karena aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan menyediakan masker untuk mengantisipasi sebaran abu vulkanik tersebut. (FAJAR RAMADHAN)–PASCAL S BIN SAJU

Sumber: Kompas, 27 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: