Home / Artikel / Akhir dari Keahlian, Benarkah?

Akhir dari Keahlian, Benarkah?

Ada buku menarik yang cukup menghebohkan di kalangan para akademisi akhir-akhir ini bertajuk “Akhir dari Keahlian” (The Death of Expertise, 2017) dari Tom Nichols.

Nichols adalah seorang profesor di universitas-juga penulis dari The Federalist-Amerika Serikat sehingga lingkungan berpikirnya adalah konteks Amerika dengan segala atribut modernnya. Walaupun demikian, berkat komunikasi global supercepat, buku ini mudah tersebar dan dibahas saat ini di seluruh dunia, termasuk di Tanah Air.

Tulisan yang merujuk beberapa fakta bahwa para ahli justru gagal memahami gejala di luar bidang keahliannya dan memberikan dampak besar dari kekeliruannya di kemudian hari pada masyarakat awam.

Misalnya, para ahli tadinya menjelaskan kolesterol dalam telur yang harus dihindari dan akhirnya masyarakat mengurangi telur serta dikuatkan juga dalam diet nasional Amerika. Namun, akibatnya makanan pengganti yang “diperbolehkan” justru memberikan akibat samping yang lebih buruk dan dua pertiga masyarakat AS kelebihan berat badan. Saat ini mulai disadari bahwa yang lebih berbahaya adalah gula dan garam dalam makanan serta akibatnya juga lebih cepat dan fatal.

Jarak epistemologis
Memang banyak kenyataan menunjukkan bahwa analisis para ahli gagal menjawab fenomena konkret karena terkungkung oleh bidang keahliannya. Dengan kata lain, keahlian justru menghalangi pemahaman akan faktor lain yang bisa lebih berperan. Dalam hal ini memang kajian falsifikasi ala Popper dapat diterima. Bahwa para ahli juga tidak infallible di bidang keahliannya sendiri.

Selama ini awam akan mengikuti apa yang dikatakan para ahli. Dominasi ilmu tertentu akan membungkam keraguan para awam yang tidak berilmu. Namun, dengan cepatnya komunikasi media sosial, informasi mentah akan menimbulkan kesalahpahaman, yang akan diteruskan juga kepada sesama awam. Media sosial-lah yang membuat kenyataan dan khayalan tidak jelas bedanya. Ada jarak epistemologis antara para ahli dan awam yang tidak terjembatani dalam waktu sangat singkat, sesingkat waktu viralnya satu topik di media sosial.

Dengan demikian, supremasi perguruan tinggi pupus sudah dan kekacauan tinggal menunggu waktu. Skeptisisme akan berkembang di kalangan awam: bahwa dunia para ahli bisa rancu dengan hoaks (informasi/berita bohong) yang viral di mana-mana. Hal ini merupakan konsekuensi dari partisipasi awam dalam menyebarkan pengetahuan.

Pandangan yang berbeda dari Nichols memang menuai banyak analisis karena banyak pihak tiba-tiba dikejutkan dari zona nyamannya. Bahwa apa yang kita pahami dan kita lakukan bisa jadi keliru, justru karena terlalu tajam dan mendalamnya kebenaran pengetahuan itu sendiri. Zona nyaman di lembaga pendidikan tinggi menghasilkan ahli-ahli yang dapat mengubah dunia. Bisa dibayangkan apa akibatnya jika sang ahli melakukan kekeliruan.

Mungkin setara dengan gagasan Feyerabend bertajuk Against Method (1975) yang menolak metodologi ilmiah sains yang sangat kokoh pada saat itu cukup mewarnai perkembangan ilmu alam. Ide-ide mengacak tatanan logika juga dimulai dan memberikan warna lain perkembangan sains saat itu. Jika Nichols menggugat keahlian saat ini, mungkin relevan dengan maksud Feyerabend menggugat metodologi saat itu. Gagasan random yang keluar dan berkembang cukup mengubah karena banyak jalan pintas dapat dibuat untuk mencapai tujuan. Hal ini juga berbuah lahirnya generasi instan, yang sangat mobil dan fleksibel, tetapi tidak dalam dan tidak mempunyai sejarah metodologi yang memadai.

Pentingnya etika
Dalam ketidakjelasan informasi, di mana keputusan benar-salah harus ditempuh berdasarkan pengetahuan obyektif, life cycle assessment (LCA) seharusnya lebih mengambil peran. Maka, dominasi waktu tidak bisa dihindari.

Maknanya adalah: tunggulah beberapa saat dan tundalah keputusan benar-salah untuk menjalankan sebuah perlakuan, bukan melulu bersandar pada konfirmasi yang bisa bias, seperti juga disebut Nichols. Pengetahuan terbaru dari para ahli belum tentu tegak teruji setelah sekian waktu. Dalam analisis proses, pendekatan proses, setiap kejadian akan memberikan makna. Para ahli dalam hal ini sebaiknya sebelum mengeluarkan keahliannya memegang satu hal penting, yakni etika.

Yang menarik dari tulisan Nichols adalah bahwa pada akhirnya para ahli harus berdamai dengan masyarakat. Dalam perpolitikan, keadaan experts versus voters adalah yang terjadi karena Amerika adalah negara demokrasi. Para Youtuber dan blogger adalah massa yang solid dan berpengaruh, suaranya kadang ingar bingar seakan mewakili publik walaupun kemungkinan ada silent majority yang menunggu saat yang tepat untuk bicara.

Dalam hal ini sejarah akan bergerak ke arah mana pun, tidak terduga. Para ahli bisa keliru dan intuisi masyarakat awam mengambangkan keputusan.

Bagaimana pendidikan bersikap? Bahwa menjadi ahli seharusnya bukan menjadi impian setiap manusia, melainkan menjadi awam yang bijak menuntut lebih banyak kemampuan dari bangku sekolah dan kuliah.

Nichols menengarai adanya kesalahan umum dalam mencari ilmu agar menjadi pandai, tetapi sebenarnya itu hanyalah ilusi. Inilah yang akan menghasilkan kepercayaan diri yang berlebihan dan menjadi awal dari kekeliruan sebagai seorang “ahli”. Hal itu tidak lagi sesuai dengan zaman komunikasi supercepat, zaman citizen journalism seperti saat ini. Bahwa pemahaman konsep- konsep menuju keahlian harus diiringi dengan intuisi akan pengetahuan yang lebih luas, yang tidak termasuk dalam kurikulum sekalipun yang bisa merupakan kontribusi semua pihak, termasuk awam.
Secara logis, pluralisme adalah bagian integral, jauh dari radikalisme. Dengan demikian, jalan sinergi para ahli di segala bidang harus dibuka sejak dari bangku sekolah. Kurikulum yang ada harus menampung segala upaya ke arah ini. Bukan sesuatu yang mudah dan cepat, justru lebih banyak membutuhkan keahlian.

Maka, sebenarnya keahlian masih dibutuhkan. Akan terjadi banyak kekacauan jika mendasarkan analisis pada kenyataan random saja.

Justru sinergi sebenarnya adalah kebutuhan pokok. Pluralisme alami dalam segala pemikiran yang ada tidak dapat diingkari, tetapi kerja sama yang baik akan memecahkan masalah. Menurut Nichols lebih lanjut, pendidikan sebaiknya membuat peserta didik menyadari “jarak epistemologis” di mana-mana dan bukan mencari “bias konfirmasi” dari pengetahuan ataupun keyakinan terhadap kenyataan yang ada. Dengan demikian, pendidikan akan lebih lembut dan memanusiakan sehingga semua dapat menjadi warga negara yang lebih baik.

SURJANI WONORAHARDJO, DOSEN FMIPA UNIVERSITAS NEGERI MALANG
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Agustus 2017, di halaman 7 dengan judul “Akhir dari Keahlian, Benarkah?”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: