Home / Berita / Air Liur Diusulkan Jadi Alternatif Sampel Tes PCR

Air Liur Diusulkan Jadi Alternatif Sampel Tes PCR

Sebuah hasil penelitian awal menunjukkan air liur atau saliva dapat menjadi alternatif sampel yang digunakan untuk tes ”polymerasi chain reaction” (PCR) guna kebutuhan deteksi Covid-19.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Tenaga medis melakukan usap tenggorokan (”swab”) kepada pasien, dalam simulasi pemeriksaan secara ”drive-thru”, di Rumah Sakit Nasional Diponegoro, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (22/4/2020). Mulai Rabu, RS milik Universitas Diponegoro itu menjadi tempat pengujian tes dengan ”polymerase chain reaction” berkapasitas uji 90-100 sampel per hari.

Sebuah hasil penelitian awal menunjukkan air liur atau saliva dapat menjadi alternatif sampel yang digunakan untuk tes polymerase chain reaction guna kebutuhan deteksi Covid-19. Apabila temuan awal ini bisa diuji lebih jauh dan diterima secara klinis, terbuka peluang pengumpulan sampel secara mandiri oleh masyarakat.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian awal yang dilakukan Anne L Wyllie, Nathan D Grubaugh, dan Albert Ko dari Departemen Epidemiology Yale School of Public Health serta kawan-kawan mereka dari departemen lain di Yale University.

Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Rabu (22/4/2020) dan belum melalui proses penelaahan sejawat atau peer review. Dengan demikian, penelitian ini belum bisa digunakan sebagai panduan praktik.

Pada prinsipnya, para peneliti dapat mengambil kesimpulan, setelah mengambil sampel liur dan usap area nasofaring dari 44 pasien Covid-19, penggunaan saliva sebagai sampel untuk mendeteksi SARS-CoV-2 lebih peka dan konsisten dibandingkan dengan usap area nasofaring.

Area nasofaring pada manusia terletak pada area belakang rongga hidung dan di atas bagian belakang tenggorokan. Untuk tes polymerase chain reaction (PCR) Covid-19, pada umumnya sampel diambil melalui usap area tersebut. Lokasi yang tersembunyi membuat pengusapan harus dilakukan tenaga medis terlatih.

Penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi virus SARS-CoV-2 dalam saliva lebih tinggi dibandingkan dengan hasil usap area nasofaring. Secara rerata, tingkat konsentrasi virus dalam saliva dapat mencapai lima kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan di area nasofaring.

Selain itu, melalui partisipasi 98 voluntir tenaga kesehatan, ditemukan juga bahwa pengambilan sampel secara mandiri (self-sampling) untuk saliva memberikan hasil yang lebih konsisten dibandingkan dengan usap area nasofaring.

Dengan demikian, Wyllie dan kawan-kawan berpendapat bahwa melalui pengguanaan saliva sebagai sampel juga membuka peluang pengumpulan sampel secara mandiri oleh masyarakat; tanpa harus bergantung pada tenaga kesehatan untuk melakukan usap area nasofaring.

Apabila ini dapat dilakukan, ada sejumlah hal positif yang bisa diraih. Pertama, pengumpulan sampel saliva akan mengurangi risiko penularan virus dari pasien kepada tenaga kesehatan yang melakukan pengambilan sampel.

Kedua, pengumpulan sampel secara mandiri dipercaya akan mempercepat rangkaian proses karena tidak membutuhkan tenaga kesehatan hanya untuk mengambil sampel. Dampaknya, kebutuhan akan alat pelindung diri (APD) dapat berkurang.

”Pada intinya, dengan ini kami menunjukkan bahwa saliva dapat dipertimbangkan sebagai sampel yang andal. Hal ini bisa meringankan beban testing yang terjadi selama pandemi Covid-19,” tulis Wyllie dan kawan-kawan.

ANTARA FOTO–Petugas medis beristirahat setelah selesai melaksanakan uji usap di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (8/4/2020). Tes dengan sistem tersebut dilakukan guna mempersempit penyebaran Covid-19 di wilayah Depok dan sekitarnya.

Koordinator Tim Respons Covid-19 Universitas Gadjah Mada Riris Andono Ahmad mengatakan, meski metode PCR akurasinya memadai dan jauh lebih akurat dibandingkan dengan tes cepat menggunakan antibodi, tetapi masih ada kelemahannya.

Andono mengatakan, ketika tes dilakukan terhadap sampel dari pasien yang sudah menderita Covid-19 selama beberapa waktu dan jumlah virusnya mulai rendah, tes PCR dapat menghasilkan hasil yang negatif.

Kedua, tes PCR sangat bergantung dari mana sampel itu diperoleh. Menurut dia, uji usap yang biasa dilakukan kurang konsisten hasilnya karena ada perbedaan konsentrasi virus di berbagai titik dalam rongga mulut.

Menurut dia, lokasi yang paling ideal pengambilan sampel adalah melalui bilas paru. ”Dengan metode bilas paru ini, sensitivitasnya menjadi tinggi,” kata Andono.

REUTERS/FRANCOIS LENOIR—Perawat mengambil sampel dari hidung warga saat melakukan penapisan warga yang terjangkit Covid-19 di Belgia, Rabu (11/3/2020).

Tanpa perlu PCR
Ahli biologi molekuler Adelaide University, Fatwa Adikusuma, mengatakan, kini baru saja ditemukan cara identifikasi keberadaan virus SARS-CoV-2 dalam tubuh manusia tanpa harus menggunakan mesin PCR.

Fatwa mengatakan, hal ini dimungkinkan dengan memanfaatkan enzim pemotong DNA bernama CRISPR-Cas12, seperti dalam penelitian karya James P Broughton dan Xianding Deng dari firma gen-editing Mammoth Biosciences berjudul ”CRISPR–Cas12-based detection of SARS-CoV-2” yang dipublikasikan jurnal ilmiah terkemuka Nature pada 16 April 2020.

Pada prinsipnya, enzim CRISPR-Cas12 dapat diatur untuk memotong dan teraktivasi oleh virus SARS-CoV-2 saja. Menurut Fatwa, hal ini dapat menghilangkan kebutuhan akan mesin realtime PCR yang mahal harganya.

”Satu strip (untuk uji CRISPR-Cas12) mungkin harganya 2,2 pounds (setara Rp 43.000). Adapun tes PCR di Australia biayanya mungkin 30-40 dollar Australia (sekitar Rp 400.0000),” kata Fatwa.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 24 April 2020

Share
%d blogger menyukai ini: