AIPI Didorong Tingkatkan Kapasitas Ilmuwan

- Editor

Senin, 25 Mei 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia atau AIPI didorong terlibat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama ilmuwan muda. Sumber daya manusia unggul jadi kunci sukses pembangunan dan peningkatan daya saing Indonesia.
”Tanpa ada teknologi, tidak ada produk unggul. Di situlah sumber daya manusia sebagai sumber daya terbarukan menjadi kunci,” tutur presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie saat pidato dalam Rapat Paripurna Terbuka AIPI, Minggu (24/5) di Perpustakaan Habibie dan Ainun, kediaman BJ Habibie, Jakarta. Turut hadir, Ketua AIPI Sangkot Marzuki dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Unggul Priyanto.

Menurut Habibie, peningkatan keterampilan SDM yang menghasilkan keunggulan bangsa merupakan salah satu fungsi AIPI yang memiliki dasar hukum Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1990. Akademi ini wadah ilmuwan guna memberikan pendapat dan pertimbangan terkait iptek kepada pemerintah.

Habibie mengatakan, AIPI saat ini beranggotakan 70 ilmuwan. Sayangnya, jumlah itu masih sangat jauh dari memadai untuk bisa mengembangkan kapasitas SDM Indonesia guna menjadi ujung tombak pembangunan. Apalagi, jika dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa. Akademi Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat (National Academy of Science) memiliki 2.000-an anggota di negara dengan populasi sekitar 150 juta jiwa tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

2d3f7928fcbe4e65a3d9c9d2a497c125BJ Habibie saat dikukuhkan sebagai pendiri Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dalam jamuan makan malam pengangkatan 10 anggota baru AIPI serta pengukuhan pendiri AIPI di kediaman BJ Habibie, Jakarta, Minggu (24/5). Habibie bersama dua tokoh lain, yaitu Fuad Hassan (alm) dan Samaun Samadikun (alm), dikukuhkan sebagai pendiri AIPI. Presiden Joko Widodo batal menghadiri acara tersebut dan mengutus Mendikbud Anies Baswedan untuk mewakili dirinya.–KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

”Saya minta, 13 Oktober mendatang jumlah anggota AIPI bisa 1.000 orang, tetapi tetap memperhatikan kualitas,” ujar satu dari tiga pendiri AIPI itu. Tanggal 13 Oktober, puncak perayaan ulang tahun ke-25 AIPI.

Minggu malam, Habibie, Samaun Samadikun (mantan Ketua LIPI), dan Fuad Hassan (mantan Mendikbud) resmi dikukuhkan sebagai pendiri AIPI. Presiden Joko Widodo batal hadir pada resepsi makan malam.

Sangkot menuturkan, penambahan jumlah anggota AIPI terkendala pada masih sedikitnya jumlah anggota masyarakat keilmuan di Indonesia. ”Sebelum menambah anggota, kami perlu memperbesar dulu komunitas ilmuwan, lalu tambahan anggota AIPI bisa dipilih dari komunitas tersebut,” katanya.

Untuk tujuan itu, salah satu alternatif dari AIPI adalah menggagas pembentukan akademi ilmuwan muda. Pada akademi itu, AIPI akan membina dan mengembangkan kapasitas para ilmuwan muda.

Pendanaan
Menurut Habibie, pembinaan ilmuwan muda juga penting untuk regenerasi. Di sisi lain, kebanyakan ilmuwan muda masih berkarya dan memiliki jaringan luas. Itu bermanfaat meningkatkan pendanaan kegiatan AIPI dan pengembangan iptek. ”AIPI harus berubah menjadi wadah bagi orang-orang yang masih melakukan sesuatu, bukan hanya bagi yang pernah berjasa melakukan sesuatu di masa lalu,” ucapnya.

Habibie menambahkan, dana akan datang jika pemberi dana mendapat manfaat. Artinya, dana itu aman dan berkembang.

Menurut Sangkot, manfaat dari upaya pengembangan iptek sebenarnya sudah nyata meskipun tak bisa langsung datang. Ironisnya, karena perselisihan politik, pemerintah kurang bisa melihat itu sehingga pengembangan iptek masih minim pendanaan. Bahkan, lembaga-lembaga asing malah lebih mudah mengucurkan bantuan dana. (SON/JOG)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Mei 2015, di halaman 13 dengan judul “AIPI Didorong Tingkatkan Kapasitas Ilmuwan”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Kamis, 19 Maret 2026 - 14:30 WIB

Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:44 WIB

Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Berita Terbaru