Home / Berita / Aga Khan Award for Architecture; Simbiosis Tradisi, Modernisasi, dan Hati Nurani

Aga Khan Award for Architecture; Simbiosis Tradisi, Modernisasi, dan Hati Nurani

Pengantar redaksi: TAHUN ini Indonesia kembali memenangkan Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur (AKAA). Bandara Soekarno- Hatta yang digarap arsitek Perancis Paul Andreu, mengulang keberhasilan Program Perbaikan Kampung (KIP) di Jakarta dan Surabaya (1980, dan 1986), Citra Niaga di Samarinda (1989), Kampung Kebalen di Surabaya dan Mesjid Said Naum di Tanahabang, Jakarta (1986), Pondok Pesantren Pabelan (1980), serta Perkampungan Kali Code (1992). Wartawan Kompas Maria Hartiningsih menguraikan tentang AKAA seperti berikut ini.

AGA Khan Award for Architecture, seberapa besar maknanya dan apa bedanya dengan pernghargaan lain di bidang arsitektur?

SURAT kabar terkemuka The Washington Post menyebut Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur (AKAA) sebagai ”Penghargaan kebudayaan yang bergengsi di negara berkembang,” dan sesuatu yang luar biasa adalah ”AKAA memberikan fokus sebanyak mungkin pade kejujuran (dan kesederhanaan) proses perencanaan regional den estetikanya.”

Yang juga berbeda dengan penghargaan internasional lainnya di bidang arsitektur adalah prosesnya. Jangan harap anggote dewan juri AKAA bise ”dibeli” untuk memberikan penghargaan atas suatu karya arsitektur di suatu negera. Proses seleksinya amat ketat dan anggota dewan jurinya –yang terdiri dari berbagai bangsa– selalu berbeda pada setiap putaran AKAA yang berlangsung tiga tahun sekali.

Perbedaan lain yang amat berarti adalah filosofinya. Meski penghargaan ini diprakarsai oleh Pangeran Aga Khan (sekarang berusia 59 tahun), Imam ke-49, pemimpin kaum Muslim Shiah Ismaili, namun karya yang mendapatkan penghargaan tidak terbatas pada arsitektur Islam dalam pengertian sempit.

Aga Khan, sebagaimana kakeknya Sir Sultan Mohamed Shah Aga Khan yang digantikannya serta para pendahulunya sebagai Imam, telah menegaskan pandangan mengenai Islam sebagai suatu pemikiran, iman spiritual, yang mengajarkan kasih dan toleransi dan yang menegakkan martabat manusia ciptaan Allah SWT yang paling mulia.

Sebagai pemimpin, sesuai tradisi Islam, Pangeran Aga Khan tak hanya bertanggung jawab atas pembinaan keagamaan saja, tapi juga atas peningkatan kualitas kehidupan pengikutnya dan lingkungan masyarakat di mana kaumnya tinggal.

Ia juga mendapatkan mandat menjaga hak satiap individu untuk pencarian intelektual pribadi dan untuk memberikan ungkapan praktis kepada pandangan etis masyarakat, bahwa pesan-pesan Islam telah memberikan inspirasi.

Pangeran Aga Khan secara aktif mendanai berbagai ikhtiar menyangkut masalah kemanusiaan tanpa mambedakan bangsa dan agama. Ikhtiar ini dijabarkan dalam tiga kelompok besar, meliputi pembangunan social, pembangunan ekonomi dan kebudayaan, di mana arsitektur dan perencanaan kota menjadi fokus utama. Biaya yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan yang bersifat nirlaba ini berjumlah sekitar 110 juta dollar AS atau lebih Rp 220 milyar per tahun.

PANGERAN Aga Khan yang sebelumnya dikenal dengan nama Karim al Hussain Shah terlibat secara pribadi dalam pembangunan di negara-negara berkembang antara tahun 1960-1970. Kenyataan semakin memburuknya arsitektur dan pelaksanaan pembangunan yang tidak pada tempatnya di banyak tempat –di mana masyarakat Muslim bermukim– membangkitkan kepeduliannya pada masalah itu. Untuk menyadarkan para pelaksana pembangunan di negara berkembang tentang keunikan warisan sejarah serta arsitektur Islam, ia merintis pemberian AKAA tahun 1977. Bersama Program Aga Khan untuk Arsitektur Islam (AKPIA) pada Univarsitas Harvard dan Institut Teknologi Massachusetts (MIT) di AS yang dimulai tahun 1970, AKAA menjadi bagian dari kegiatan Yayasan Aga Khan untuk Kebudayaan (AKTC) yang dibentuk di Swiss tahun 1988.

AKAA sebenarnya merupakan bentuk rangsangan terhadap upaya menciptakan arsitektur dan tata kota yang sanggup memberikan vitalitas kepada pemukiman-pemukiman yang tak berjiwa. Ia tidak diberikan kepada kaya yang spektakuler, tapi kepada karya-karya yang merupakan perwujudan kebutuhan dari lingkungan budaya tertentu yang menyumbang ke arah penciptaan sebuah lingkungan fisik bangunan, dan diakui penggunanya sebagai bagian dari mereka. Jadi bukan sebuah imitasi model yang diambil dari luar.

AKAA tampaknya ingin membangunkan kesadaran masyarakat akan simbiosis tradisi modernisasi, dan hati nurani. Bagaimanapun arsitektur merupakan produk interaksi antara arsitek dan masyarakat antara tradisi kebudayaan dan lingkungan dengan segenap masalahnya, juga seluruh aspirasi dan harapan yang mengalir pada suatu masyarakat, di suatu waktu tertentu.

Penghargaan ini diberikan pada akhir setiap putaran tiga tahun setelah pencalonan, dokumentasi proyek, penyaringan, dan tinjauan dalam bidang teknis. Penyaringan dan seleksi akhir bagi pemenang hadiah sebesar 500.000 dollar AS atau lebih Rp 1 milyar ini dilakukan oleh juri utama yang dipilih untuk setiap masa perputaran.

Sejak tahun 1980, penghargaan telah diberikan kepada beragam proyek bangunan masa kini, mulai dari mesjid yang dibangun dari lumpur di Yaama (Nigeria) sampai kepada Institute du Monde Arabe di Paris. Bersama bangunan-bangunan individual, proyek yang memenangkan penghargaan ini juga termasuk perumahan sosial dan rancangan bangunan kemasyarakatan, di samping proyek perbaikan dan konservasi kawasan perkotaan. Ketua khusus AKAA telah terpilih dua kali, sebagai penghargaan atas pencapaian seumur hidup dari arsitek-arsitek Islam terkemuka, yakni Rifat Chadirji dan (alm) Hassan Fathy.

Upacara untuk menghormati proyek-proyek yang menang serta menandai berakhirnya setiap masa putaran dilakukan pada berbagai lokasi bersejarah. Lokasi tersebut dipilih berdasarkan arti pentingnya bagi arsitektur Islam yakni Shalimar Gardens di Lahore (1980), Topkapi Palace di Istambul (1983), Badi’ Palace di Marrakesh (1986), Saladin’s Citadel di Cairo (1989), Registan Square di Samarkand (1992), dan Keraton Sultan Solo, Indonesia (1995).

Indonesia, menurut penilaian Pangaran Aga Khan ketika berkunjung ke Indonesia lima tahun lalu, telah menunjukkan kemampuannya mengombinasikan pertumbuhan dengan keadilan, dengan keberhasilannya menurunkan persentase penduduk miskin dari 60 parsen dua dekade lalu, menjadi 18 persen saat itu (saat ini turun lagi menjadi sekitar 13,5 persen). Prestasi ini harus menjadi sumber kebanggaan yang dapat merangsang bangsa-bangsa lain dari berbagai belahan dunia yang berjuang keras mengatasi masalah yang sama.

DALAM zaman yang serba modern ini telah terjadi perubahan-perubahan yang begitu cepat, sehingga amat mempengaruhi lingkungan fisik di negara-negara berkembang. Ekspansi ekonomi, pertumbuhan penduduk yang tinggi, munculnya teknologi modern dalam berbagai bidang, termasuk teknologi informasi selama empat dekade terakhir telah membuat kawasan ini mangalami transfomasi yang cepat dalam ekspresi arsitektur.

Kecenderungan ini tercermin dalam hegemoni bentuk arsitektur yang tidak punya imajinasi, atau didikte oleh kekuatan uang, sehingga melahirkan bantuk-bentuk bangunan yang seragam dan tanpa jiwa. Kepekaan manusia yang hidup di dalamnya sudah hilang, sehingga hubungan antara manusia dan lingkungannya tidak serasi.

Sementara itu, hanya sedikit sekali arsitek di negara berkembang yang peduli dan berusaha mencari jawaban atas masalah-masalah yang ditimbuIkan oleh keadaan itu. Mereka lebih disibukkan untuk membuat proyek-proyek bergengsi menurut standar manusia masa kini, dan lebih banyak berkutat dengan hal-hal yang bersifat materi.

Para arsitek itu juga tidak mau secara aktif berbicara dengan orang miskin untuk menemukan arsitektur yang lebih memberikan jawaban kepada kebutuhan hidup lainnya, yang bukan sekadar tempat berlindung. Padahal jumlah orang miskin di negara berkembang begitu besar hidup berhimpitan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi.

”AKAA merasa memiliki keterlibatan dengan lingkungan fisik berupa bangunan dari seluruh masyarakat Muslim,” ujar Pangeran Aga Khan, ”Termasuk jutaan orang miskin yang lingkungan hidupnya tidak menjadi perhatian arsitektur konvensional, yang nasibnya tidak diperhatikan oleh mereka yang mempunyai pengetahuan di bidang itu.”
”AKAA menurut Pangeran Aga Khan, ”Mangambil visi yang menunjukkan perhatian kami pada masalah-masalah social. Ini menunjukkan keterikatannya pada nilai-nilai universal Islam.”

Tindakan konkret, inilah intinya. “Apa yang dapat diharapkan dari arsitektur kalau arsiteknya tidak memperhatikan orang miskin dan berjuang untuk mereka? Kita hanya akah berdebat secara steril tentang elemen-elemen gaya arsitektur tetapi tidak prihatin secara aktif dengah lingkungan fisik bangunan dari masyarakat yang hidup.”

Melalui lima putaran dengan 60 hadiah, lebih selusin seminar dan pertemuan yang tak terhitung jumlahnya di dunia Islam, visi AKAA adalah melakukan adaptasi kebudayaan, membuat getaran otentik untuk masyarakat yang dilayani. Selain itu juga untuk menghargai warisan masa lampau dengan melihat
masa depan: antara yang kekal dan yang fana; antara yang lama dan yang baru. Juga hubungan positif antara orang desa dan orang kota.

Hal-hal inilah yang dikatakan Pangeran Aga Khan; ”Sebagai bagian yang menyatukan manusia dan mempakan mozaik yang kaya dari masyarakat Muslim hari in.”

NAMUN Panitia AKAA tak pernah puas dengan apa yang telah dilakukan. Mareka terus berusaha untuk menggali sumber-sumber inspirasi dari mana kaum Muslim dan non muslim mencari sesuatu untuk menciptakan bangunan-bangunan yang dikagumi.

Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab. Di antaranya, aspek mana dari latar belakang sosial dan agama mereka yang menjadi sumber kreativitas itu? Apakah itu merupakan interpretasi terhadap agama mereka? Apakah ia merupakan prinsip-prinsip dari tingkah laku sosial akan keyakinan agamanya? Juga pertanyaan sulit lain, apakah hal-hal itu sepenuhnya bersumberkan dari agama mereka? Semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan dari keyakinan agama yang hidup. Suatu keyakinan yang mewujudkan dirinya dalam berbagai bentuk dari tempat jualan terkecil di pasar ke bangunan mesjid yang megah dan bangunan-bangunan umum yang mempengaruhi ruangan.

Untuk mendapatkan jawabannya menurut Pangeran Aga Khan, semua harus diletakkan dalam suatu kanvas yang lebih besar dan global, di mana kaum Muslim merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat dunia. Di antara sekularisme dan kepatuhan agama yang berlebihan dengan variasi antara mereka yang bergaris keras dan yang melakukan ajaran agama secara tenang, antara suatu raga lapar spiritual dan pengejaran kekayaan.

Arsitektur akan menjawab kebutuhan itu dalam bangunan yang mempersatukan komunitas dengan ikatan spiritual dan berbagai identitas.

Sumber: Kompas, Sabtu, 25 November 1995

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: