Home / Berita / Afifah Tak Alergi Mata Pelajaran

Afifah Tak Alergi Mata Pelajaran

Peraih Nilai UN 55,85 Tertinggi Nasional
PRESTASI yang diraih oleh Nur Afifah Widyaningrum, siswa SMA Negeri 1 Yogyakarta tak hanya membanggakan keluarga, tapi juga DIY. Karena berkat ketekunan dalam belajar, putri dari pasangan Drs Sunarso MHum dan Khusniyah Purwani SW MSi tersebut berhasil meraih nilai Ujian Nasional (UN) terbaik di tingkat nasional untuk jurusan IPS. Dengan nilai 55,85 yang dimiliki, keinginan Nur Afifah untuk melanjutkan studi di jurusan Sastra Inggris UGM secara otomatis semakin mendekati kenyataan.

“Saya benar-benar tidak menyangka bisa mendapatkan nilai tertinggi di tingkat nasional. Terlebih soal Geografi yang diujikan dalam UN cukup sulit, sehingga saya sempat pesimis. Jadi saat Senin (19/5) siang ada teman yang memberikan informasi, saya sempat ragu,” kata sulung dari 2 bersaudara itu saat ditemui KR di rumahnya, Jogokariyan MJ III/745, Senin (19/05/2014).

Nur Afifah mengatakan, selama ini untuk mempersiapkan UN dirinya lebih banyak mengandalkan dari soal-soal latihan yang diberikan guru saat di sekolah dan membuat ringkasan untuk memudahkan hafalan. Tindakan itu dilakukan dengan harapan materi yang dipelajari lebih mudah dihafal. Dirinya lebih memilih untuk tidak ikut les di bimbingan belajar, karena khawatir badan terlalu capek. Karena tambahan jam pelajaran yang diberikan oleh sekolahnya sudah lebih dari cukup.

“Saya kira dalam belajar yang terpenting tekun, disiplin serta jangan alergi sama mata pelajaran. Konsekuensinya, meski kita tidak senang dengan pelajaran tersebut harus berusaha mengerjakan dengan baik. Sebab berdasarkan pengalaman, kalau siswa membenci suatu pelajaran, biasanya soal apapun yang diberikan akan jadi sulit,” terang gadis berjilbab kelahiran 5 Maret 1996 itu.

164605_nurafifahBagi alumni SMP Negeri 8 Yogyakarta itu, meraih nilai terbaik dalam UN untuk jurusan IPS bukan akhir dari suatu perjuangan di dunia pendidikan. “Saya kira prestasi ini bukan tujuan akhir, karena masih banyak hal yang perlu diperjuangkan,” ungkap Nur Afifah yang mengaku bercita-cita ingin jadi dosen dan penulis.

Komentar serupa dikemukakan oleh Sunarso. Menurut pria yang berprofesi sebagai dosen di UGM tersebut, sejak kecil anaknya dibiasakan untuk gemar membaca. Dari kegemaran membaca tersebut dirinya berharap, anak-anak termotivasi untuk tekun dalam belajar. Bahkan supaya hasilnya optimal, Sunarso tidak segan mengajak anak-anaknya belajar langsung di masyarakat.

“Selain bekal ilmu agama dan kedisiplinan, anak-anak saya biasakan untuk mandiri. Untuk itu saat berangkat dan pulang sekolah, Afifah sengaja saya biasakan naik bus,” ungkap Sunarso.

Kepala SMAN 1 Yogya, Rudy Prakanto mengungkapkan, dengan prestasi yang diraih Nur Afifah dirinya berharap semakin mengukuhkan predikat DIY sebagai kota pendidikan, sehingga bisa memotivasi pelajar yang lain untuk lebih berprestasi. Walaupun tidak bisa dipungkiri semua prestasi itu bisa diraih karena kebersamaan dari semua pihak yang dibangun sejak awal.

“Siswa kami itu tidak hanya cerdas, tapi juga ramah dan santun. Meski prestasinya di sekolah cukup bagus, Nur Afifah juga aktif dalam berbagai kegiatan siswa di sekolah,” terang Rudy. (Ria)

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Ahmad Lutfie | Selasa, 20 Mei 2014 |

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: