Home / Berita / Adu Berita Cepat lewat AMP dan Instant Article

Adu Berita Cepat lewat AMP dan Instant Article

Pada waktu yang hampir bersamaan, dua raksasa teknologi, yakni Google dan Facebook, menggelar inisiatif yang hampir mirip, yakni menghadirkan konten berupa berita yang dimuat lebih cepat di perangkat bergerak. Baik Accelerated Mobile Pages (AMP) yang diusung oleh Google atau Instant Article yang diperkenalkan oleh Facebook sama-sama hadir untuk pengguna di Indonesia pada kuartal pertama tahun 2016.

Keduanya sama-sama mengincar para pembuat konten seperti media daring untuk bisa menghadirkan konten lebih cepat dari biasanya sebagai keunggulan dalam persaingan merebut perhatian pembaca. Dua fitur tersebut sama-sama bergantung pada perilaku terhubung ke internet melalui perangkat bergerak (mobile) atau gawai seperti ponsel pintar.

Kompetisi baru pun dimulai.

Daftar pencarian
AMP yang dirintis oleh Google diumumkan pertama kali pada Oktober 2015 dengan tujuan untuk memudahkan pengguna menikmati konten yang mereka cari sesegera mungkin. Inisiatif tersebut mulai diperkenalkan di Indonesia pada Februari 2016 untuk memberi pengalaman terhubung ke internet lebih baik untuk pengguna perangkat bergerak.

Berdasarkan hasil survei yang mereka rilis, pengguna ponsel pintar di Indonesia umumnya menghabiskan waktu hingga 52 menit untuk membaca berita sebagai cara menghabiskan waktu. Angka tersebut melampaui negara lain seperti Jepang dengan 23 menit atau Singapura dengan 32 menit. Sayangnya, itu lebih rendah dibandingkan waktu yang dihabiskan untuk terhubung di media sosial, di mana pengguna di Indonesia bisa memakan waktu 140 menit.

Dari survei tersebut, disimpulkan bahwa ada golongan pengguna yang mengharapkan agar bisa menikmati berita dengan segera begitu mereka memilih tautan di layar ponsel. Sebanyak 40 persen bahkan memutuskan urung membaca di sebuah situs jika butuh waktu lebih dari tiga detik untuk memuat isinya.

fbecb26902fd42579670bc47461bb46fKOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Tampilan fitur Instant Article di layar ponsel sebelah kiri, sementara fitur Accelerated Mobile Pages (AMP) ada di layar ponsel sebelah kanan, Rabu (16/3/2016). Dua teknologi ini dikembangkan secara terpisah oleh Facebook dan Google. Baik Facebook maupun Google mengincar media daring untuk menghadirkan konten lebih cepat kepada pengguna perangkat bergerak dan meyakini kuncinya terletak pada kecepatan sebuah konten untuk dimuat dengan segera di layar.

Rudy Galfi, Manajer Produk AMP dari Google, mengatakan bahwa AMP hadir dengan beberapa tujuan, yakni memuat konten dengan lebih cepat, ramah untuk pengguna perangkat komunikasi bergerak, mudah diimplementasikan oleh pengelola situs berita, dan memberikan insentif, yakni tidak menghilangkan peluang untuk mendapatkan iklan ataupun arus kunjungan ke situs mereka.

Pada dasarnya, situs berita yang mengimplementasikan AMP akan tampil dengan ikon petir di daftar pencarian Google. Misalnya pengguna memasukkan kata “kalijodo” ke bilah pencarian, maka di samping daftar pencarian yang biasa ditemui kini ditampilkan informasi berupa kartu yang berisi tautan berita yang disajikan dengan teknologi AMP. Jika kartu dipilih, dalam waktu singkat isinya segera dimuat tanpa harus berpindah ke halaman situs.
Konten berita yang ditampilkan lewat AMP akan terlihat lebih minimalis dari tampilan di situs utama karena hanya menampilkan teks dan gambar pada latar belakang putih. Namun, jika pengguna mengusap jari (swipe) ke layar, konten berita dari situs lain dengan teknologi yang sama juga segera ditampilkan.

Cara tersebut memudahkan pengguna untuk mendapatkan berita terbaru dengan waktu yang lebih singkat untuk menunggu isi halaman selesai diunduh dan ditampilkan di layar.

Berdasarkan simulasi, konten yang digarap dengan AMP akan menyusut ukurannya lebih kecil, misalnya halaman yang sebelumnya berukuran 700 kilobita akan dipangkas menjadi 61 kilobita. Namun, dampak yang dirasakan adalah waktu yang semula 3 detik untuk memuat seluruh isi halaman langsung turun lebih cepat menjadi 0,03 detik.

“Kabar baiknya, pengelola situs tidak perlu khawatir karena iklan tetap bisa dicantumkan dan setiap artikel yang dibuka tetap dihitung di situs mereka,” kata Galfi yang berbicara lewat konferensi jarak jauh di pertengahan Februari lalu.

Dasar dari AMP adalah jaringan distribusi konten (CDN) atau mendekatkan konten dengan pengguna sehingga lebih sedikit waktu yang dibutuhkan untuk memuat sebuah situs. Memastikan agar sebuah situs bisa kompatibel dengan AMP membutuhkan pemrograman yang sederhana sehingga pengelola situs berita mengirimkan konten ke server milik Google sehingga jika nantinya ada pengguna yang memasukkan kata kunci yang relevan, artikel tersebut bisa dimuat lebih cepat.

Google pun tampak mendorong agar AMP menjadi standar di masa mendatang karena langkahnya yang memprioritaskan konten yang sesuai dengan AMP untuk ditampilkan di atas daftar pencarian yang ada selama ini. Dengan demikian, pengelola situs yang menerapkan AMP akan memiliki peluang agar kontennya dibaca lebih banyak daripada yang tidak.

Ronny Sugiadha, Chief Marketing Officer Kaskus, menuturkan bahwa mereka membutuhkan waktu seminggu untuk implementasi teknologi AMP ke situs forum terbesar di Indonesia saat ini. Mereka tengah bereksperimen untuk meluncurkan fitur berita yang mudah diakses dari daftar pencarian.

Tanda khusus
Persamaan ketiga dari AMP dan Instant Article terletak pada logo yang digunakan. Keduanya menggunakan ikon petir untuk menunjukkan kecepatan sebuah artikel bisa dimuat. Serupa dengan AMP, konten di Facebook yang mengimplementasikan fitur Instant Article akan mudah ditemukan di antara puluhan atau ratusan konten yang diamati setiap hari. Caranya cari saja ikon petir di ujung kanan atas.

Begitu disentuh, isi berita segera termuat dalam halaman selanjutnya dengan transisi yang mulus tanpa harus berganti ke peramban internet dengan bilah indikator bahwa konten sedang dimuat. Dengan tampilan minimalis, yakni latar belakang warna putih, pembaca tetap bisa membaca konten secara utuh, mengamati gambar, menonton video yang berjalan otomatis begitu tiba di layar, atau berinteraksi dengan peta dari layanan pihak ketiga seperti Google Maps.

Sebelum fitur Instant Article diperkenalkan, membuka tautan yang ada di linimasa Facebook setidaknya membutuhkan waktu hingga 8 detik. Pengalaman itu yang ingin ditingkatkan agar lebih cepat dan lancar.

Kekhawatiran bahwa fitur ini akan mengalihkan arus pengunjung ke situs atau memengaruhi impresi iklan ditepis oleh Facebook. Diutarakan oleh Kepala Bagian Kerja Sama untuk Media dan Penerbitan Facebook Asia, Ken Teh, mereka memastikan bahwa setiap artikel yang dibaca melalui layanan itu tetap akan dihitung di situs utama.

“Untuk iklan, penerbit bisa memasang iklan mereka sendiri tanpa harus berbagi dengan pihak lain, atau memanfaatkan jaringan iklan Facebook Audience Network dengan pembagian keuntungan jika kesulitan mencari iklan. Opsi ketiga adalah gabungan dari dua metode iklan,” kata Teh.

Saat ini, Facebook sudah bekerja sama dengan beberapa media daring di Indonesia untuk menggelar fitur Instant Article. Implementasi memang belum sampai sebulan sehingga belum bisa diketahui efektivitasnya ataupun bagaimana pengaruh terhadap kebiasaan pengguna internet di Tanah Air.

Menurut Teh, Facebook menyediakan beberapa fitur yang bisa dimanfaatkan oleh pengelola halaman Facebook dari sebuah media massa seperti pencarian video lebih baik, menyiarkan video langsung, dan video 360 derajat. Monetisasi yang dilakukan Facebook berasal dari arus iklan yang dipasang di sela konten-konten yang sedang dipelototi oleh para pembaca masing-masing.

AMP ataupun Instant Article memang tidak berada pada lintasan yang sama. AMP di peramban, sementara Instant Article di aplikasi mereka. Keduanya kemungkinan tidak akan pernah berhadapan dan pengelola media massa bisa memilih salah satu sebagai kanal distribusi konten mereka atau justru menggunakan keduanya tanpa khawatir apa pun.

Yang pasti, kompetisi dua produk yang sama-sama menyasar media daring ini justru memberi manfaat berupa dukungan teknologi yang membuat mereka memiliki daya saing lebih.

Yang harus khawatir adalah mereka yang belum memutuskan untuk memakai atau justru tidak siap menghadapi dampak yang dibawa dari fitur ini.

DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas Siang | 17 Maret 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: