Home / Berita / 90 Tahun Kolese Kanisius, Merawat Negeri lewat Pendidikan

90 Tahun Kolese Kanisius, Merawat Negeri lewat Pendidikan

Untuk seorang manusia, usia 90 adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Namun, itu tak berlaku bagi Kolese Kanisius. Sekolah Katolik ini terus menyesuaikan diri melawan perkembangan zaman. Tanpa menghilangkan tujuan mulianya, yakni mengubah seorang lelaki menjadi pria dewasa yang berguna bagi negara.

”Untuk SMA, kalau ketahuan menyontek, langsung dikeluarkan dari sekolah,” kata Eduard Dopo, Kepala SMA Kolese Kanisius, Sabtu (11/11), di acara ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius di JIExpo, Jakarta.

Begitulah cara sekolah Jesuit yang terletak di Menteng, Jakarta, ini mendidik muridnya, tegas. Tepat tahun ini, Kolese Kanisius merayakan ulang tahun ke-90. Sedikit lagi menuju seabad. Berdiri pada 1927, sekolah Katolik ini turut membantu berdirinya Indonesia dengan murid-murid yang ikut mendukung lahirnya Sumpah Pemuda dan perjuangan sebelum terbebas dari sang penjajah, Belanda.

Produk sekolah ini tak perlu diragukan. Pada zaman Orde Lama menuju Orde Baru, ada Soe Hok Gie yang menjadi tokoh terdepan dalam pergerakan mahasiswa dalam mengkritisi pemerintah. Hingga kini, alumni Kanisius masih harum namanya. Salah satunya adalah Airlangga Hartarto yang saat ini Menteri Perindustrian yang berada di Kabinet Kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Tak hanya di bidang politik dan pemerintahan. Kanisius juga merupakan asal muasal seorang pianis ternama Ananda Sukarlan. Bahkan, lewat prestasinya, Ananda mendapat penghargaan di puncak perayaan ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius, Sabtu, atas komitmennya untuk karya kemanusiaan dalam bidang seni musik.

Kemampuan Ananda sudah dikenal dunia. Ia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam buku The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century. Buku itu berisi riwayat hidup 2.000 orang yang berdedikasi pada dunia musik.

”Untuk menjadi pria bagi orang lain”, kalimat inilah yang menjadi pedoman di sekolah yang hanya menerima siswa laki-laki tersebut. Perwujudannya dengan menghasilkan karakter pria yang memiliki kemampuan akademik unggul, hati nurani yang benar, kepedulian sosial, dan komitmen pada perbuatan.

”Untuk menjadi pria bagi orang lain”, kalimat inilah yang menjadi pedoman di sekolah yang hanya menerima siswa laki-laki tersebut. Perwujudannya dengan menghasilkan karakter pria yang memiliki kemampuan akademik unggul, hati nurani yang benar, kepedulian sosial, dan komitmen pada perbuatan.

Perubahan zaman
Dalam kurun waktu 90 tahun, zaman terus berubah, begitupun perilaku manusia. Cara mendidik harus diubah mengikuti konteks waktu. Kini, mereka tidak berperang melawan kolonial ataupun rezim otoriter, tetapi dengan teknologi.

Dulu, tahun 1970 hingga 1990-an, pendekatan yang dipakai adalah menjaga hati dan keselamatan murid. Sebab, pada tahun itu, tawuran masih merajai Ibu Kota. Selain menjaga murid agar tidak mengikuti perilaku rusuh, keselamatan dari ancaman pihak-pihak lain juga jadi prioritas.

Dalam kurun waktu 90 tahun, zaman terus berubah, begitupun perilaku manusia. Cara mendidik harus diubah mengikuti konteks waktu.

Masa itu sudah lewat. Perubahan tersebut dirasakan Kanisius sejak awal era milenium, 2000-an. Menurut Eduard, dalam mendidik muridnya, sekarang tidak bisa lagi sebatas teori. ”Saat ini, teknologi menjadikan manusia lebih lembut,” katanya.

Murid-muridnya lebih banyak bersentuhan dengan layar gawai dibandingkan dengan lingkungan sekitar. Padahal, agar menjadi pria untuk orang lain, dibutuhkan otak, hati, dan tangan yang sejalan. Sentuhan tangan langsung inilah yang hilang.

Eduard mencontohkan, jika ke Bantargebang, mereka akan mencium bau yang menyesakkan hidung. Setelah itu, bau akan menyentuh hati. Otak pun diperintah hati untuk melakukan perubahan. Inilah awal perubahan, dengan sentuhan langsung pada indera.

Untuk itu, Kanisius hadir dengan kurikulum baru sejak tujuh tahun lalu. Murid-murid didorong untuk bersentuhan langsung dengan lingkungan. Siswa kelas 7 dan 10 difokuskan pada alam, kelas 8 dan 11 menyoroti kemiskinan, serta kelas 9 dan 12 dengan pluralisme antarumat. Setahun sekali, mereka harus bersentuhan dengan hal-hal itu.

Tidak hanya pada perilaku siswa, Kanisius pun beradaptasi pada kondisi sosial negara. Ketiga masalah itu hadir di kurikulum karena merupakan persoalan utama negara. ”Kami sudah menilai. Lingkungan, kemiskinan, dan pluralisme harus diperbaiki. Itulah harapan kami agar siswa ini bisa mengubah ke depan,” ujar Eduard.

Mikha (16), siswa yang saat ini duduk di kelas 11, menceritakan pengalamannya. Saat kelas 10, ia dan teman-temannya mengikuti jambore di Bandung. Ia bermalam di gunung. Siswa harus membuat tenda sendiri untuk tempat tidur mereka.

”Saat membuat tenda, tiba-tiba hujan turun sangat deras,” cerita Mikha saat bertemu di acara ulang tahun Kanisius. Sontak, mereka bingung harus berbuat apa. Namun, semuanya secara spontan membuka baju mereka dan melindungi barang bawaan masing-masing. Mereka melanjutkan pembuatan tenda dengan kondisi telanjang dada.

Dari situasi ini, Mikha belajar, alam tidak bisa dilawan, tetapi dengan bekerja sama semua masalah bisa diselesaikan.

Setahun setelahnya, Mikha kembali mengikuti kegiatan Kanisius. Kali ini bersentuhan langsung dengan kemiskinan. Ia harus tinggal di rumah seorang petani yang sudah renta, yang menyambung hidup hanya dari panen padinya.

Kanisius hadir dengan kurikulum baru sejak tujuh tahun lalu. Murid-murid didorong untuk bersentuhan langsung dengan lingkungan. Siswa kelas 7 dan 10 difokuskan pada alam, kelas 8 dan 11 menyoroti kemiskinan, serta kelas 9 dan 12 dengan pluralisme antarumat. Setahun sekali, mereka harus bersentuhan dengan hal-hal itu.

Mikha membantu kakek itu di sawah. Baru setengah hari, ia sudah kelelahan dan tidak sanggup melanjutkannya. Ia pun terkejut saat pria renta itu masih segar dan bertani sampai sore setiap hari. ”Dari sana, saya lebih mensyukuri hidup. Bagaimana untuk bertahan hidup itu tidak mudah,” ucap pemuda yang bercita-cita menjadi hakim asuransi seperti profesi kakeknya itu

Mikha yang belum duduk di kelas 12 dan bukan lulusan SMP Kanisius sudah tidak sabar bersentuhan langsung dengan lintas agama. Berdasarkan cerita yang didengarnya, siswa akan menjalankan kegiatan di rumah ibadah agama lain, seperti masjid, misalnya.

Karakter
Sejak dulu Kanisius menyadari, untuk menghasilkan pria yang bisa mengubah bangsa harus melalui pendidikan karakter. Untuk itu, sejak dini cara-cara pembentukan dari dalam dan luar diri pun tegas dinyatakan.

Pembentukan dalam diri jadi fokus. Sekolah dengan aliran Jesuit ini mewajibkan adanya examen setiap sebelum pulang. Examen merupakan cara refleksi diri dengan merenung, apa yang didapatkan hari itu. Setelah direnungkan, refleksi itu kemudian dituliskan. Bentuk kontemplasi ini sudah ada sejak dulu kala.

Guru Bahasa Inggris di Kanisius, Henricus T Sasminto (58), percaya refleksi ini adalah hal penting untuk membangun karakter dari dalam. ”Examen ini untuk berkaca, apakah diri sudah pantas atau belum,” katanya.

Melalui itu, pembentukan karakter siswa Kanisius menjadi terarah. Sebab, diri sendiri adalah pihak yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum menyalahkan orang lain, lingkungan, terlebih Tuhan.

Dari luar, sekolah yang sudah meluluskan sekitar 15.000 murid ini menjaga karakter dengan peraturan ketat. Terdapat sistem kontrak yang mengikat setiap siswa SMP dan SMA. Untuk SMP, apabila kedapatan menyontek, siswa diberikan satu kesempatan sebelum dikeluarkan. ”Tetapi mereka sudah tidak bisa SMA di Kanisius,” ucap Eduard.

Sementara itu, tidak ada toleransi bagi siswa SMA yang menyontek, langsung dikeluarkan. Baru-baru ini ada satu siswa yang dikeluarkan karena itu. Menurut Eduard, itu bukan kejam, tetapi tegas dalam mendidik nilai kejujuran. Perbuatan kecil seperti menyontek merupakan bibit kebohongan besar nantinya.

Manfaat didikan itu dirasakan oleh alumnus angkatan 72, Albert Surya. Menurut Albert, sekolah ini tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga pendidikan karakter. ”Kedisiplinan, kejujuran, dan integritas yang diajarkan jadi modal di universitas dan dunia kerja,” ujarnya.

Ciri khas pendidikan karakter itulah yang digenggam erat Kanisius dalam menghasilkan produk terbaik untuk membangun negeri. Tidak instan, apalagi sulap, butuh proses bertahun-tahun.

Seperti pepatah Jesuit, ”Beri saya anak laki-laki pada tujuh tahun pertamanya, akan saya ubah menjadi seorang pria dewasa”. (DD06)

Sumber: Kompas, 11 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: