Home / Berita / 60 Tahun Batan, Nuklir untuk Kesejahteraan

60 Tahun Batan, Nuklir untuk Kesejahteraan

Lebih dari 60 tahun, pemanfaatan tenaga atom dan nuklir dikenalkan di Indonesia. Namun ketakutan dan kesalahpahaman tentang nuklir masih tinggi. Akibatnya, pemanfaatn nuklir untuk kesejahteraan tak optimal.

Meski tak pernah mengalami bencana nuklir langsung, hanya mendengar cerita dari pihak lain, ketakutan masyarakat Indonesia terhadap tenaga atom, termasuk nuklir, sangat besar. Apapun yang terkait atom, nuklir dan radiasi dari zat radioaktif sering menimbulkan kekhawatiran berlebih tanpa didasari pengetahuan yang memadai.

Tak perlu jauh-jauh membicarakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang memang membutuhkan kehati-hatian tinggi dan ada beberapa PLTN yang mengalami kecelakaan di seluruh dunia. Penerimaan masyarakat terhadap produk-produk pertanian dan pangan yang diawetkan dengan iradiasi saja di Indonesia masih berat.

Pangan iradiasi adalah produk pangan yang disinari menggunakan sinar gamma atau berkas elektron untuk mencegah kerusakan, pembusukan, dan membebaskan makanan dari jasad renik patogen. “Tidak ada zat radioaktif yang tertinggal di produk yang diradiasi,” kata Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hendig Winarno di Jakarta, Selasa (4/12/2018).

KOMPAS/RIZA FATHONI–Edukasi Pemanfaatan Teknologi Nuklir Pengunjung yang berasal dari warga sekitar mengamati fasilitas kolam pendingin reaktor serbaguna Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong G.A. SIWABESY milik Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Tangerang Selatan, Banten, Selasa (25/9/2018). Pengenalan teknologi nuklir untuk keperluan riset ini dimaksudkan untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai manfaat nuklir sebagai energi bersih yang mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan lingkungan.–KOMPAS/RIZA FATHONI (RZF)–25-09-2018

Proses iradiasi yang banyak dilakukan pada bumbu, rempah dan buah-buahan itu bisa meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Banyak usaha kecil dan menangah yang telah memanfaatkan jasa iradiasi Batan.

Produk pangan yang diradiasi itu seharusnya diberi logo Radura. Namun karena khawatir produknya ditolak masyarakat yang masih mengkhawatirkan tentang dampak radiasi dan belum ada kewajiban mengikat untuk memasang logo tersebut, banyak produk pangan iradiasi yang tidak diberi logo khusus.

Pemanfaatan teknologi nuklir yang relatif lebih mudah diterima masyarakat adalah untuk kedokteran. Hingga kini, Batan sudah menghasilkan sejumlah radiofarmaka yang digunakan untuk diagnosis dan terapi sejumlah penyakit kanker. Produk radiofarmaka ini sudah diproduksi oleh PT Kimia Farma.

Situasi itu membuat upaya mempromosikan pemanfaatan tenaga atom dan teknologi nuklir yang aman masih menjadi tantangan besar Batan yang pada Rabu (5/12/2018) genap berusia ke-60 tahun. Selama kesalahpahaman soal nuklir itu tidak diperbaiki, Batan akan sulit mempromosikan dan memanfaatkan hasil risetnya secara optimal ke masyarakat.

Kondisi itu juga membuat pemanfaatan nuklir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sulit menjadi optimal. Karena itu, selama ketakutan berlebihan dan kesalahpahaman tentang nuklir masih terjadi, Indonesia akan terus tertinggal dengan negara-negara lain yang telah banyak memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai.

Perluas jaringan
Untuk mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap nuklir, Kepala Batan Djarot S Wisnubroto dalam peringatan Hari Ulang Tahun Batan ke-60 di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu, mengajak para peneliti, perekayasa dan staf Batan untuk memperluas mitra dan jaringan Batan.

Selama ini, Batan menjadi satu-satunya lembaga penelitian dan pengembangan nuklir yang mengurusi persoalan nuklir dari hulu hingga ke hilir. Akibatnya, saat muncul keraguan atau penolakan masyarakat tentang pemanfaatan nuklir, termasuk rencana pembangunan PLTN, Batan harus menghadapi penolakan itu sendirian.

“Perluasan mitra itu dapat berasal dari perguruan tinggi, industri, kementerian hingga jejaring riset luar negeri,” katanya.

Mitra riset dari perguruan tinggi penting untuk mempromosikan nuklir dan membangun iklim riset yang lebih kompetitif. Perguruan tinggi memiliki sumber daya yang lebih banyak dan lebih luas cakupan ilmunya. Dengan makin banyaknya periset dan dosen yang juga menekuni nuklir, maka riset nuklir juga akan berkembang lebih cepat.

Sementara itu, pelibatan kementerian teknis lain untuk memanfaatkan riset nuklir dan bersama-sama mengampanyekan nuklir juga harus terus didorong. Selama ini, Batan harus mempromosikan berbagai hasil risetnya langsung ke masyarakat. Dengan dana dan sumber daya yang terbatas, cakupan sosialisasi itu jadi terbatas sehingga pemanfaatan riset nuklir kurang bisa menyentuh masyarakat luas.

Mitra riset asing juga diperlukan agar proses saling belajar dan berbagi pengetahuan tentang aplikasi teknologi nuklir bisa terjadi. Mitra asing itu jadi solusi untuk mengatasi terbatasnya periset dan perekayasa nuklir di Tanah Air hingga pengetahuan dan pemanfaatan nuklir di Indonesia tidak terlalu tertinggal dengan negara lain.

Energi
Jika kekhawatiran dan kesalahpahaman atas penggunaan aneka produk yang memanfaatkan tenaga atom masih besar, maka penolakan masyarakat terhadap penggunaan nuklir sebagai sumber pembangkit listrik lebih rumit lagi.

Survei penerimaan masyarakat terhadap PLTN pada 2017 sudah mencapai 77,53 persen. Mereka menerima PLTN itu karena menginginkan tidak adanya lagi pemadaman listrik, listrik yang murah, hingga peluang adanya kesempatan kerja baru. Namun penerimaan PLTN di daerah yang akan jadi calon lokasi tapak PLTN umumnya hanya sekitar 50 persen.

Kebutuhan terhadap PLTN adalah sebuah keniscayaan seiring terus berkurangnya sumber energi fosil, terus berkembangan industri dan belum terbuktinya penggunaan energi baru lain sebagai tulang punggung energi nasional di berbagai negara. Belum lagi, penggunaan energi fosil, khususnya batubara untuk listrik, telah memunculkan banyak persoalan kesehatan yang sering tidak diperhitungkan dampak dan kerugiannya.

Meski nuklir bisa menjadi penopang utama energi untuk industri, sama seperti energi fosil, namun bauran penggunaan berbagai jenis energi baru dan terbarukan tetap harus dilakukan hingga negara tidak bergantung pada satu jenis energi saja. Itu akan memberi jaminan keberlanjutan dan kestabilan penyediaan energi lebih baik. Namun, sebaliknya, target bauran energi baru juga akan sulit dicapai tanpa melibatkan nuklir sebagai energi terbarukan.

Pada 60 tahun ke depan, Djarot menargetkan pembangunan PLTN itu bisa tercapai di Indonesia. Rencana membangun PLTN di Indonesia sudah muncul sejak 1972 dengan terbentuknya Komisi Persiapan Pembangunan (KP2) PLTN. Namun hingga hampir 50 tahun sejak KP2 PLTN dibentuk, kejelasan pembangunan PLTN belum ada.

“Apapun pilihan teknologi PLTN yang diambil, generasi PLTN di masa mendatang akan memiliki standar keamanan dan keselamatan lebih tinggi,” kata Djarot. Pilihan teknologi itu termasuk reaktor nuklir yang menggunakan reaksi fusi atau penggabungan yang dianggap menjanjikan.

Hingga kini, reaktor nuklir yang beroperasi di seluruh dunia masih memanfaatkan proses reaksi fisi atau pembelahan. Sementara reaksi fusi yang meniru proses yang terjadi di Matahari atau bintang untuk menghasilkan energi masih dalam tahap riset yang dikembangkan beberapa negara.

Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Batan Suryantoro di sela kunjungan ke pabrik Mitsubishi Heavy Industries Ltd di Kobe, Jepang, Rabu (28/11/2018) mengatakan reaktor fusi menjanjikan karena dianggap jauh lebih aman dibanding reaktor fisi yang ada saat ini. Namun, teknologi reaktor fusi itu belum terbukti.

PLTN selama ini masih dianggap sebagai pilihan akhir saat sumber energi lain sudah tak mampu menopang kebutuhan. Namun kapan batas waktu pilihan akhir itu tidak pernah jelas meski kajian ketersedian dan kebutuhan energi masa depan sudah banyak dilakukan dan pembangunan PLTN butuh waktu sekitar 10 tahun.

Karena itu, kesepakatan pemerintah tentang pemanfaatan nuklir untuk energi juga harus diperkuat. Kegamangan pemerintah dalam mengambil putusan soal PLTN itu turut berimbas pada Batan.

Di satu sisi, Batan memiliki mandat untuk mengenalkan nuklir termasuk untuk keperluan energi. Namun tanpa adanya dukungan kuat pemerintah, promosi PLTN tidak akan memberi hasil optimal.

Di sisi lain, keterbatasan anggaran dan sumber daya membuat konsentrasi Batan terpecah. Akibatnya, dana riset yang kecil harus dibagi untuk banyak hal yang ujungnya membuat proses dan hasil risetnya tidak sesuai harapan.

Sebagai lembaga riset, tambah Djarot, Batan tidak mempermasalahkan apakah Indonesia akan go nuclear atau tidak. Namun, Batan membutuhkan kejelasan sikap seperti yang dilakukan Australia yang tidak ingin membangun PLTN. Kejelasan itu akan membuat Batan bisa menentukan prioritas riset dan pengembangan pemanfaatan nuklir lebih baik.

“Jika ada kesepakatan pemerintah, publik akan lebih mudah menerima kehadiran PLTN,” tambahnya.

Namun apapun pilihan pemerintah, pemanfaatan nuklir seharusnya bisa mendorong kesejahteraan masyarakat. Sebagai sebuah produk teknologi, sama dengan teknologi lain, tentu ada risiko atau dampak yang dihasilkan dari penggunaan nuklir. Namun, selama dampak itu bisa dimitigasi, risiko nuklir bisa ditekan dan manfaatnya dioptimalkan.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 6 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: