Home / Berita / 25 Tahun Tsunami Senyap Banyuwangi

25 Tahun Tsunami Senyap Banyuwangi

Masyarakat di pesisir selatan Banyuwangi kini lebih rentan terkena tsunami. Mereka tinggal di kawasan yang diterjang tsunami pada 1994, perbukitan Tumpang Pitu juga telah dikepras.

Tsunami yang menghancurkan pesisir selatan Banyuwangi, Jawa Timur 25 tahun lalu terjadi tanpa didahului guncangan gempa kuat. Tiba-tiba saja gelombang tsunami setinggi hingga 10 meter menerjang pada Jumat, 3 Juni 1994, sekitar pukul 02.00.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Monumen tsunami di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi. Monumen tersebut menjadi penanda terjadinya tsunami pada 3 Juni 1994

Saat itu Bagong Irianto (59), warga Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggrahan, tengah menghitung uang sumbangan warga untuk cucunya yang baru saja dikhitan. Dari halaman rumahnya, terdengar dalang Subari yang memulai adegan gara-gara.

“Tiba-tiba saja ada suara ribut penonton. Kami kira awalnya ada maling tertangkap. Belum sempat kami berdiri, lantai rumah yang terbuat dari plester pecah dan mengeluarkan air,” kisah Bagong.

Bagong beserta istrinya, Sumiatun (70), selamat kendati seluruh uang yang dikumpulkan raib tersapu tsunami. Tetangganya juga banyak yang menjadi korban. Total sebanyak 215 orang tewas, 400 orang terluka, dan 1.000 rumah hancur. Sebagian besar korban berada di Dusun Pancer, Pantai Plengkung, dan Rajegwesi.

Seperti disampaikan Bagong, para penyintas yang lain juga mengaku tidak merasakan guncangan gempa kuat sebelum datangnya tsunami 1994. Mereka rata-rata baru mengetahui adanya bahaya setelah mendengar suara bergemuruh seiring datangnya gelombang.

Padahal gempa pada 1994 itu, menurut rekaman United States Geological Survey tergolong besar, yaitu M 7,8 dan sumbernya 18,4 kilometer di bawah Samudera Hindia atau tergolong sangat dangkal. Gempa sebesar ini pada umumnya terasa sangat kuat.

”Karakter tsunami di Banyuwangi disebut sebagai tsunami earthquake,” ujar Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) Gegar Prasetya, yang dua minggu setelah kejadian melakukan survei di Banyuwangi. Survei ini merupakan yang pertama kali dilakukan peneliti Indonesia bersama ahli luar negeri dan mendorong pendirian Pusat Penelitian Tsunami di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yogyakarta.

Istilah tsunami earthquake dimunculkan pertama kali oleh ahli seismologi dari Earthquake Research Institute (ERI), Tokyo University, Hiroo Kanamori, empat dekade lalu. Hal itu untuk membedakan dengan tsunami lain yang biasa terjadi. Tsunami kategori ini, gelombangnya di pantai jauh lebih tinggi dibandingkan tsunami dari sumber gempa dengan magnitudo relatif sama. Karena bahayanya kerap tidak disadari, sebagian menyebutnya stealth tsunami atau pembunuh senyap.

Rekonstruksi yang dilakukan peneliti tsunami BPPT Widjo Kongko menunjukkan, daerah paling terdampak tsunami 1994 adalah pesisir selatan Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar. Tsunami tertinggi terjadi di selatan Jember, yaitu 10 meter (m) di pantai dan run up atau tinggi rambatan gelombang di darat 20 m. Tsunami juga melanda pesisir barat Bali dengan run up hingga 5 meter. Sedangkan waktu tiba tsunami rata-rata 25 – 30 menit setelah gempa.

KOMPAS/EDDY HASBY–Widjo Kongko

Zona subduksi di Jawa memang rentan mengalami tsunami earthquake seperti juga terjadi di Pangandaran, Jawa Barat pada 2006. Menurut Gegar, ada beberapa kemungkinan kenapa Selatan Jawa rentan tsunami earthquake. Salah satunya ada gunung bawah laut yang posisinya mengganjal laju subduksi lempeng samudera di bawah lempeng benua. Karena ada ganjalan, runtuhnya batuan setelah gempa jadi perlahan.

Risiko ke depan
Berhadapan langsung dengan zona tumbukan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia, pesisir selatan Jawa termasuk selatan Banyuwangi, akan selalu menghadapi ancaman tsunami.

“Potensi tsunami senyap (tsunami earthquake) akan selalu mengintai selatan Jawa. Tsunami ke depan bisa lebih tinggi dari sebelumnya. Data Pusgen (Pusat Studi Gempa Bumi Nasional), potensi gempa dari megathrust di selatan Jawa Timur bisa mencapai M 8,9,” kata Widjo.

Kajian paleotsunami yang dilakukan Kepala Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto dan tim menemukan jejak tsunami di pesisir selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur dalam waktu bersamaan, yaitu sekitar tahun 1584-1856. Tsunami ini diduga sangat besar karena melanda daerah yang luas, lebih luas jangkauannya dibandingkan tsunami Banyuwangi pada 1994 atau Pangandaran 2006. Tsunami sekuat ini kemungkinan besar dipicu oleh gempa berkekuatan sekitar M 9 atau lebih.

Pemodelan oleh Widjo dengan parameter gempa bumi berkekuatan M 8,9 di lokasi yang sama dengan kejadian 1994 memiliki tinggi tsunami di pantai hingga 12,5 m di sepanjang pantai Jawa Timur. Sedangkan run up tsunami di daratan bisa mencapai 15-25 m, tergantung topografi dan tutupan lahan.

Padahal, permukiman di pesisir selatan Jawa saat ini lebih padat dibandingkan sebelumnya. Emy Sukarlan (59), Ketua RW 03, Dusun Pancer mengatakan, tsunami 1994 telah menghancurkan rumahnya yang berada di selatan jalan desa. Sebagian besar bangunan yang hancur saat itu memang di selatan jalan. Emy yang selamat dari tsunami karena saat kejadian berada di laut untuk mencari ikan, membangun kembali rumahnya di lokasi yang sama.

Bupati Banyuwangi saat itu, Purnomo Sidik telah merencanakan untuk mengosongkan permukiman di selatan jalan desa untuk dijadikan hutan pantai. Namun demikian, kebijakan ini tak pernah terwujud. Selain permukiman, di pesisir Pancer dibangun tempat wisata Panti Mustika Pancer yang mulai beroperasi empat tahun terakhir

“Kami memang dulu disuruh pindah, tetapi tidak mau. Pekerjaan kami nelayan, tidak mau tinggal jauh dari sumber mata pencaharian,” ujar Emy. Dibandingkan sebelum 1994, permukiman di zona rentan tsunami justru bertambah banyak.

Padahal, kawasan perbukitan Tumpang Pitu, yang di masa lalu menjadi benteng dan tempat evakuasi dari tsunami telah dikepras untuk penambangan emas. Jika melihat tingkat risikonya, masyarakat di selatan Banyuwangi saat ini justru lebih rentan dibandingkan sebelum 1994.

Penghunian kembali kawasan terdampak tsunami sebenarnya tidak hanya terjadi di Banyuwangi, namun juga di daerah-daerah lain. Misalnya, pesisir utara Flores yang pernah terdampak tsunami 1992 dan Pangandaran setelah tsunami 2006.

Kajian para peneliti Earth Observatory of Singapore, Universitas Syah Kuala, Maynooth University, dan Oxford University yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences(PNAS) minggu lalu juga menunjukkan, Kota Banda Aceh yang kehilangan 160.000 penduduk akibat tsunami dahsyat pada 2004, sebelumnya juga pernah dilanda tsunami dengan kekuatan serupa pada tahun 1394. Kini, 15 tahun setelah tsunami 2004, pesisir Aceh kembali dipadati hunian.

Sebagai negara dengan garis pantai yang rentan tsunami terpanjang di dunia, tantangan terbesar untuk mengurangi risiko dan dampak bencana adalah persolan sosial dan lemahnya penegakan tata ruang. Jika sudah begini, ratusan miliar bahkan triliunan rupiah digelontorkan untuk membangun kembali daerah bencana akan kembali hancur dan korban jiwa berpotensi kembali berjatuhan jika siklus tsunami kembali datang….

Oleh AHMAD ARIF / ANGGER PUTRANTO

Sumber: Kompas, 4 Juni 2019

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: